Banjir Sintang: Perlu-tiadanya Pasang Geobag (4)

0
88 views
Two Saint Anthony's Missionary Franciscan nuns (SMFA) used an engined-motor canoe to reach destination to deliver humanitarian aid packages to flood's most affected people in Sintang City, West Kalimantan Province. (Sr. Trivina SMFA)

MENURUT Ketua Lembaga Jemelak Lestari (JELAS) Larry Hans Santy yang biasa dipanggil Didink, penangangan banjir Sintang harus hati-hati. Terutama dalam menentukan pilihan kebijakannya.

Itu karena wilayah Sintang ini dilalui dua sungai besar: Sungai Kapuas dan Sungai Melawi.

“Daerah kita dijuluki Wilayah Seribu Sunggai, karena banyak sungai kecil yang bermuara di kedua sungai besar itu,” tegasnya.

Sungai Jemelak merupakan sungai dalam pengawasan Lembaga JELAS. Kali itu bermuara ke Sungai Kapuas, dan masih banyak sungai-sungai kecil lainnya, ungkapnya.

Maka tolong pejabat agar ambil kebijakan yang sesuai kondisi geografi, topograpi Sintang.

Terkait pemasang geobag, menurut nya perlu ditinjau kembali, apakah tepat kebijakan itu untuk kabupaten sintang sebagi solusi jangka pendek dalam penanganan pasca banjir .

Menanggapi muncul ide dan usulan penanganan pasca banjir Sintang, penulis selaku anggota Asosiasi Auditur Hukum Indonesia (ASAHI) dan pemegang CLA (Certifate Legal Auditor) berpendapat, negara melalui para pejabat harus hadir nyata (riil) dan kebijakan yang diambil harus berdaya guna dan berhasil.

Dalam perspektif ilmu auditor hukum, kebijakan penanganan banjir Sintang itu harus C&C artinya Clean and Clear (bersih dan benar).

Tiga hal

Menurut penulis, tiga hal harus menjadi fokus kajian para stakeholder yakni DTL:

  • Daya Dukung (D).
  • Daya Tampung (T).
  • Daya Lenting (L)

TDL kondisi sungai dan alam sekitarnya harus jadi perhatian utama. Yang terpenting harus bisa menemukan penyebab banjir Sintang. Lalu, pasca penanganan banjir melibatkan masyarakat lokal.

Ada banyak pembelajaran positif yang dapat kita petik. Antara lain tingginya tingkat kepedulian masyarakat kepada sesama yang tertimpa bencana banjir.

Ditandai dengan 33 posko di Kecamatan Sintang dan sekitarnya.

Posko-posko bantuan didirikan oleh semua lapisan masyarakat, bahkan mulai dari sekolah-sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, perusahaan, partai politik, lebih-lebih pemerintah yang memang menjadi domainnya.

Memanfaatkan situasi

Menurut Rektor Universitas Kapuas Sintang Dr. Antonius, ada juga masyarakat yang justru memperoleh “manfaat” atas bencana banjir yaitu para penyedia jasa transportasi karena biaya yang membengkak.

Lalu, relawan yang menyumbangkan nasi bungkus kepada masyarakat terdampak banjir yang masih bertahan di rumah, relawan harus membayar mahal kepada penyedia sampan.

Bahkan menurut info didapat dalam satu hari (± 6 jam) dikenakan tarif hingga Rp 700.000.

Terhadap hal seperti ini ke depannya, sebagai bentuk mitigasi bencana banjir khususnya, diharapkan pemerintah hadir secara penuh lewat kebijakan penanggulangan bencana banjir. Yang dapat membantu masyarakat secara luas dan bahkan menyeluruh.

Antara lain dengan menyediakan sampan minimal satu buah untuk setiap RT terdampak banjir. Mengingat masyarakat Sintang cukup familier dengan banjir. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang enggan mengungsi dan memilih tetap tinggal di rumahnya.

Kondisi pemukiman masyarakat yang cukup banyak berada di bantaran sungai dan daerah rendah bukan disebabkan oleh lahan yang sempit seperti di kota-kota besar, melainkan karena sudah secara turun-temurun menempati bantaran sungai.

Ini juga berkaitan dengan zaman dahulu arus transportasi mengandalkan jalur sungai sehingga pemukiman itu sudah sejak lama ada.

Ini berkaitan erat dengan kelak jika dilakukan peninjauan tata ruang terkait letak pemukiman hendaknya tetap mempertimbangkan keamanan dan kearifan local.

Secara umum ada dua cara dalam pencegahan dan penanggulangan yang dapat dilakukan yaitu:

  • Secara civil engineering. Artinya ada banyak tindakan yang dapat dilakukan,seperti peningkatan badan jalan, pembangunan flyover, pengerukan sungai, pembuatan bendungan, pembuatan embung fi daerah-daerah tangkapan yang sudah ada aktivitas pembangunan dan sebagainya.
  • Secara bio engineering atau rekaya hayati dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang, seperti penanaman pohon di catchment area, daerah terjal, perbukitan gundul, bekas tambang dan lain sebagainya melalui tindakan pemilihan jenis yang tepat.

Soal geobag

Menanggapi rencana pemasangan geobag, Dr. Antonius mengatakan ini wujud adanya upaya pemerintah untuk tindakan darurat dalam jangka pendek.

Sebagai salah satu solusi mengatasi dampak banjir yang berfokus pada wilayah padat penduduk dan pusat ekonomi.

Tindakan ini sebagai langkah antisipasi atas ramalan cuaca yang diprediksi semakin ekstrim hingga puncak di bulan Januari-Februari 2022.

Geobag atau geotube akan dilengkapi dengan fasilitas lain berupa pompa untuk menyedot air dari arah daratan menuju sungai.

Rencana ini telah menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai tempat, baik yang pro maupun yang kontra.

Terlepas dari itu semua, geotube atau geobag berfungsi sebagai pengontrol erosi oleh gelombang. Terutama dampak dari gelombang saat terjadi pasang air laut.

Tindakan darurat ini selain melakukan pemasangan geobag atau geotube, sebaiknya pemerintah menyediakan sampan minimal satu buah untuk setiap RT.

Ini sebagai antisipasi kalau-kalau geobag atau geotube tidak dapat berfungsi secara maksimal. Demikian pendapat Rektor Univeritas Kapuas Sintang. (Selesai)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here