Berani Mengambil Risiko

0
46 views
Ilustrasi: Berani membuat keputusan penting untuk mau berubah, tinggalkan pola hidup lama untuk merengkuh hidup baru. (Ist)

Minggu, 7 Juli 2024

Yeh. 2:2-5;
Mzm. 123:1-2a,2bcd,3-4;
2Kor. 12:7-10;
Mrk. 6:1-6

BERANI menerima kenyataan bisa menjadi masukan, ketika rencana yang telah kita rancang tak terjadi sesuai harapan kita. Terkadang menerima kenyataan memang hal yang pahit.

Ada pepatah yang mengatakan realita tak semanis ekspektasi. Hal itu bisa menjadi secercah masukan bahwa tidak semua yang kita harapkan sesuai kenyataan yang ada.

Memang tidak salah berangan-angan dan berkhayal demi ketenangan hati. Namun, jangan sampai angan-angan itu terlalu tinggi. Pasalnya, ketika tak sesuai ekspektasi akan menimbulkan kekecewaan yang teramat dalam.

“Suara Gereja begitu jelas dan tegas, ketika ada tawaran bahwa ormas beragama bisa mendapatkan konsesi tambang,” kata seorang sahabat.

“Gereja menyatakan bahwa mengelola tambang bukan ranahnya. Gereja dipanggil bukan untuk tugas seperti itu, melainkan mendampingi dan melayani umat yang menderita dan tersingkir. Sikap Gereja ini mendapatkan tanggapan beragam, Tidak sedikit yang mendukung namun juga banyak yang mencela dan mengkritiknya.

Namun demikian, keputusan Gereja telah bulat. Gereja menolak sesuatu yang bukan menjadi tugas panggilan Gereja ada di dunia ini,” lanjutnya sahabat itu.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengar demikian, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.”

Orang-orang di tanah asal Yesus mengenal Dia sebagai tukang kayu, putera Maria, dan saudara-saudaranya. Mereka melihat Yesus dari sudut pandang yang manusiawi, mungkin sulit bagi mereka untuk menerima bahwa Dia memiliki hikmat dan kuasa yang luar biasa sebagai utusan Allah.

Meskipun Yesus mengajar dengan kuasa dan hikmat yang luar biasa, sebagian orang di tanah asalnya tidak menerima-Nya. Mereka bahkan tersinggung oleh-Nya dan tidak percaya kepada-Nya.

Sikap penolakan orang Yahudi kepada Tuhan Yesus untuk kita menggambarkan bagaimana kehadiran kenabian sering kali menantang ekspektasi manusia. Tidak sedikit orang yang menolak Tuhan Yesus karena mereka merasa kecewa bahwa harapannya tidak terpenuhi.

Warta kenabian akan terbentur dengan sikap bebal dan hati yang tidak terbuka akan pewartaan yang dibawa oleh pada utusan.

Tuhan Yesus menantang kita untuk tidak terjebak dalam pengertian sempit atau prasangka terhadap cara Tuhan bekerja dalam hidup kita dan dalam dunia ini. Kita perlu terbuka untuk menerima suara kenabian Tuhan yang mungkin datang melalui cara yang tidak terduga atau melalui orang-orang yang tidak kita sangka-sangka.

Kita perlu berusaha untuk mengenali dan menerima kehadiran Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita.

Bagaimana dengan diriku? Apakah aku berani menyuarakan warta kenabian meski kemungkinan akan mengalami penolakan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here