Berisik

0
207 views
Ilustrasi: Misa Natal anak-anak SEKAMI di Gereja St. Yosep Katedral Pontianak. (Ist)

Renungan Harian
Sabtu, 13 Agustus 2022
Bacaan I: Yeh. 18: 1-10. 13b. 30-32
Injil: Mat. 19: 13-15
 
HARI itu, di paroki kami mengadakan misa untuk anak-anak.

Kami membuat pengumuman dan mengajak para orangtua agar mengajak putera-puterinya mengikuti misa untuk anak-anak. Persiapan misa untuk anak-anak jauh lebih lama dan sedikit lebih rumit dibandingkan misa untuk orang dewasa yang biasa.

Kami harus menyiapkan lagu-lagu yang cocok untuk anak dengan musik agar meriah dan menarik. Di samping itu, kami juga menyiapkan gerakan-gerakan untuk bernyanyi agar anak-anak bisa mengikuti dan tidak bosan.

Kami juga menyiapkan drama singkat yang menarik agar anak-anak mudah menangkap pesan yang ingin kami sampaikan.
 
Pada hari H banyak anak-anak yang ikut perayaan misa; karena secara khusus misa untuk anak-anak, maka kami meminta para orangtua untuk mengalah menempati bangku-bangku di belakang agar anak-anak dapat menempati bangku di depan.

Sudah dapat dibayangkan bahwa hari itu gereja menjadi riuh karena suara anak-anak; ada yang berteriak mencari temannya, ada yang menangis mencari pengasuhnya dan pula yang ribut berebut tempat duduk.

Syukur pada Allah banyak orangtua yang dengan rela membantu menjaga dan membantu kebutuhan anak-anak.
 
Misa berlangsung meriah, anak-anak dan orangtuanya bergembira. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa selama perayaan ekaristi berlangsung tidak bisa tertib sebagaimana biasa.

Anak-anak banyak yang ngobrol, banyak pula yang keluar masuk atau menangis. Akan tetapi saya yang mempersembahkan misa, para pendamping anak-anak dan orangtua anak-anak tidak merasa terganggu karena memang begitulah anak-anak.
 
Tidak demikian halnya dengan beberapa umat yang ikut misa pada saat itu. Setelah perayaan ekaristi beberapa umat menyampaikan protes bahwa suasana misa terlalu berisik dan gaduh sehingga mereka tidak bisa berdoa.

Ada pula umat yang marah dan berpendapat bahwa yang terjadi tadi bukan misa, tetapi pasar dan itu telah melanggar kesucian misa.

Bahkan ada yang dengan jelas mengatakan agar saya kembali belajar liturgi, belajar teologi dan mempelajari dokumen Gereja tentang liturgi dan ekaristi.

Menanggapi protes beberapa umat saya mengatakan bahwa sudah beberapa minggu diumumkan akan adanya misa khusus untuk anak-anak dan umat yang akan terganggu dimohon menghindari ikut misa pada jam tersebut.

Dan saya juga mengatakan bahwa saya akan mengikuti saran untuk belajar lagi. Akan tetapi saya menolak untuk tidak lagi mengadakan misa khusus untuk anak-anak.
 
Sering kali terjadi dalam misa anak-anak dianggap sebagai pengganggu sehingga penyelesaian yang paling mudah adalah anak-anak jangan diikutkan misa entah difasilitasi dengan sekolah minggu atau tidak diajak ke gereja.

Hal-hal seperti ini nampaknya biasa tetapi sesungguh mengakibatkan anak-anak jauh dari gereja dan Tuhan.

Beberapa kali dalam misa biasa dimana ada anak-anak yang sedikit mengganggu saya mengatakan agar kita semua memahami anak-anak yang berlaku seperti itu.

Kita tidak tahu di masa datang anak-anak yang kita anggap mengganggu ini menjadi imam atau uskup yang memimpin Gereja kita.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Matius, Tuhan menegur para murid yang menghalangi anak-anak untuk berjumpa dengan Tuhan.

“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-KU.”
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here