Berpikirlah Secara Logis

0
358 views
Ilustrasi: Sr. Franchine CB dan Sr. Lucy OSF memperagakan bedah logika bahasa dalam sesi pelatihan literasi media untuk para teologan dan pastor pembinanya dari enam Seminari Tinggi se-Jawa di Rumah Retret Pangesti Wening, Ambarawa, 1-4 Juli 2019. Program literasi media untuk pengembangan kapasitas ini dibesut Komisi Seminari KWI bersama Paguyuban Gembala Utama (PGU)- (Mathias Hariyadi)

Puncta 24.01.22
Senin Biasa III/C
Markus 3: 22-30

KAUM Farisi menuduh Yesus menggunakan kuasa Beelzebul, penghulu setan untuk mengusir setan. Orang yang berbuat baik tidak selalu diterima dengan baik.

Buktinya Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan. Tetapi orang-orang Farisi justru menuduh Yesus menggunakan kuasa setan.

Yesus mengajak berpikir dengan logika. Bagaimana kalau kerajaan setan saling berperang. Pasti kerajaan itu akan segera runtuh, karena mereka saling melawan satu sama lain.

Cara berpikir seperti itu sudah menggambarkan sebuah kebodohan. Yesus balik bertanya, “Bagaimana iblis dapat mengusir iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan.”

Namun kaum Farisi sudah terlanjur benci kepada Yesus. Orang yang benci, diajak berpikir logis jelas tidak nyambung.

Benar atau salah sudah tidak penting bagi mereka. Yang penting dilawan, dihancurkan, dijatuhkan, ditentang mati-matian.

Perbuatan baik dengan menyembuhkan orang yang kerasukan itu tidak dipandang bahwa kuasa ilahi ada di pihak Yesus.

Dengan tindakan pembebasan itu sebenarnya Yesus telah menghadirkan Kerajaan Allah. Namun hal itu sulit dipahami atau diterima oleh lawan-lawan Yesus.

Mereka tetap tidak percaya. Mereka melancarkan tuduhan yang mau menjatuhkan Yesus.

Sama seperti para lawan Jokowi, mereka tidak bisa menerima kebaikan dan keberhasilan Jokowi dalam memimpin negeri ini.

Walaupun kita menjelaskan bagaimana saham Freeport berhasil diambil negara, Petral dibubarkan, pembangunan infrastruktur digenjot di mana-mana; waduk, bandara, pelabuhan, kilang minyak dan jalan tol.

Ibukota negara disiapkan.

Orang yang terlanjur benci selalu mencari celah untuk menjatuhkan. Misalnya ada yang menuduh Jokowi itu keturunan PKI.

Ada lagi yang bilang dia itu antek Cina. Sampai ada yang tidak mau divaksin gara-gara Sinovac berasal dari China. Pokoknya orang benci sudah tidak bisa diajak berpikir secara logis.

Begitulah kaum Farisi menuduh Yesus secara ngawur. Mereka tidak bisa memakai logika.

Yang penting “waton njeplak” asal ngomong. Benar atau salah, logis atau tidak omongan itu tidak dipikir.

Hantam dulu urusan belakang. Kalau nanti ditangkap polisi ya bilang aja mohon maaf sedang khilaf, kita kan bangsa yang mudah memaafkan.

Menghadapi tuduhan seperti itu, Yesus memberi dua jalan.

Pertama selalu berpikir secara logis dan benar. Kedua menunjukkan fakta dan bukti bahwa kaum Farisi, anak buah mereka, juga mengusir setan.

Kalau Yesus mengusir setan dengan kuasa setan, dengan kuasa siapa mereka juga mengusir setan?

Selama kita masih bisa berpikir logis, kita masih waras. Gunakan logika dan akal sehat. Akal sehat itu adalah berkat.

Jangan sia-siakan berkat yang kita dapat agar kita selamat.

Naik sepeda dari kampung Pokoh,
Menuju gua Marganingsih di Bayat.
Kita ini bukan kaum yang bodoh,
Jangan mudah ditipu dengan ayat.

Cawas, gunakan logika….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here