Berpisah demi Masa Depan

0
519 views
Mempersiapkan Masa Depan, Selagi Berkesempatan.

Jumat 19 Mei 2023.

  • Kis. 18:9-18.
  • Mzm. 47:2-3,4-5,6-7.
  • Yoh. 16:20-23a

PADA dasarnya tidak ada yang diperoleh dengan instan akan pencapian dalam kehidupan manusia.

Setiap orang yang telah berhasil dengan hidupnya dan cita-citanya memiliki kisah panjang tentang sebuah proses.

Demi masa depan yang lebih baik, meski dengan berat hati mereka harus berpisah dengan orang yang merska sayangi.

Peluang mendapatkan masa depan yang lebih baik dan hidup yang lebih aman memaksa mereka untuk meninggalkan kampung halaman dan berpisah dengan orang tua serta handal tolan.

“Tahun 1998, saat situasi tanah air kita ini di simpang jalan, gerakan reformasi didahului oleh kerusuhan yang mengerikan menjadi dasar utama bagiku untuk membawa anakku sekolah di luar negeri,” kata seorang ibu.

“Kami buta tentang negara itu, bahasa tidak kami kuasai namun kami nekat karena saya ragu dan pesimis akan masa depan anakku jika tetap berada di sini,” lanjutnya.

“Rasanya senang sekali waktu bertemu dengan orang Indonesia di sana, hingga sama-sama berusaha mendaftar sekolah dan mencari tempat tinggal,” sambungnya.

“Keputusan membawa anak pergi dan berpisah bukan tanpa derita, serta kesedihan namun harus kami lakukan demi kehidupan yang lebih aman,” jelasnya.

“Kalau tidak melihat masa depan, kami tidak mau berpisah. Perpisahan yang membawa harapan baru, kemungkinan baru,” paparnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” (Yoh 16:29).

Tidak ada suatu kebahagiaan dimana pun yang datang dengan sendirinya.

Kebahagiaan atau sukacita harus dilalui dengan perjuangan berat seperti bunyi pepatah: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Injil hari ini memuat pesan yang mendalam bagi kita sebagai orang beriman.

Pada berbagai pengalaman hidup kita setiap hari banyak hal menuntut usaha dan perjuangan kita secara ekstra.

Usaha dan perjuangan yang lebih itu tentu berhadapan dengan banyak tantangan dari kemalasan, keputusasaan, dan pesimis yang terdapat dalam diri.

Lain halnya lagi tantangan dari luar diri kita, seperti berbagai kesenangan yang ditawarkan dunia membuat kita terlena, perkataan orang lain yang menyurutkan asa kita, dan berbagai hal lain yang dapat terjadi tanpa dapat kita ketahui menghampiri hidup kita.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku rela kehilangan kenyamanan untuk menemukan kehendak Tuhan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here