Bersama Pastor AM Ardi Handojoseno SJ, Panggung Silentium dan Janji tak Pernah Kesampaian (7)

2
1,541 views
Berkolaborasi musik dan nyanyi bersama almarhum Romo AM Ardi Handojoseno SJ di panggung pentas "Konser Rohani King Ekaristi" dalam rangka HUT 90 Tahun Gereja St. Antonius Kotabaru Yogyakarta, 21 Oktober 2016. (Ist)

Panggung ‘silentium’

ADA hal menarik sekaligus ‘mengganggu’ perasaan saya, ketika kami berdua bersama naik pentas di panggung “Malam Pujian dan Konser Rohani Kidung Ekaristi Kotabaru” dalam rangka HUT 90 Tahun Gereja St. Antonius Kotabaru, 21 Oktober 2016 lalu. Beberapa menit sebelum kami naik pentas, almarhum sempat membisikkan ungkapan hatinya kepada saya di balik panggung.

Kata Romo Ardi waktu itu,  lagu yang akan dia tembangkan itu ternyata telah menggiringnya masuk ke dalam atmosfir batin berduka. Saat itu, almarhum menjadi begitu melankoliknya, karena tiba-tiba dia lalu teringat akan seorang kawan baiknya yang tengah mengalami masalah.

Almarhum Romo Ardi kemudian membisikkan kepada saya rangkaian kata-kata kurang lebih seperti ini: “Bu Kwadrat, nafas lagu ini akan saya bawakan dalam semangat berdoa, walaupun syairnya saya nyanyikan di atas panggung pentas,” katanya waktu itu di balik panggung.

Baca juga:   Bersama Pastor AM Ardi Handojoseno SJ, Yang Pertama dan Terakhir bersama Bu Kwadrat di Gereja Kotabaru (6)

Sebelum terlibat dalam pembicaraan ringkas dan sangat dadakan di balik panggung pentas itu, saya terlebih dahulu sudah menawari dia pilihan ini: Apakah romo mau bernyanyi solo sembari memetik gitar atau tampil nyanyi dengan iringan instrumen lain?

Romo Ardi pun menjawab, sebaiknya dia menyanyi dengan iringan piano yang saya mainkan. “Rasanya ebih mantap kalau menyanyikan lagu dengan iringan musik  oleh pengarang lagunya sendiri. Dengan begitu  ‘mood’-nya lebih gampang bisa masuk,” demikian katanya saat itu.

Kehalusan perasaan almarhum Romo Ardi itu benar-benar pernah nyaris merusak konsentrasi saat saya bermain piano untuk mengiringi penampilannya. Malam itu, saya benar-benar sudah siap lahir batin untuk “ngartis main piano” mengiringi ‘penyanyi kelas dunia’ itu, namun tiba-tiba dan seketika mood-nya malah anjlok.

Ini terjadi karena hal berikut ini. Beberapa menit sebelum pentas dan di belakang panggung, Romo Ardi setengah berbisik mengatakan kalau dua lagu yang akan dinyanyikannya nanti yakni  Christ has Nobody dan Prayer of St. Francis itu akan dia bawakan sebagai ujub doa di atas pentas.

Haduh, saya pun langsung seperti kena setrum dan sejenak menjadi  bingung untuk kembali menyetel mood saya. Energi yang terlanjur saya stel pada tataran virtuoso, tiba-tiba harus diubah menjadi sebuah permenungan keprihatinan. Apa pun ‘masalah’ yang terjadi pada saat itu di balik panggung, namun akhirnya pentas itu bisa berjalan dengan lancar dan kami memperoleh applause meriah.

Namun saya jujur harus berani mengatakan hal yang sebenarnya.

Saya  tetap tidak habis pikir, bagaimana Romo Ardi Handojoseno SJ tiba-tiba dalam sekejap bisa  menyetel mood-nya ke dalam satu kondisi silentium di atas pentas? Padahal, saat itu panggung telah dikemas sedemikian rupa dengan tata lampu yang bagus dengan kemeriahan audiens penonton yang juga antusias.

Panggung ‘silentium’

Demikianlah, saya selalu mengatakan pada teman-teman bahwa Romo Ardi Handojoseno SJ itu memang seorang pastor yang bagus (tampan), jiwanya tulus, pembawaannya halus, dan perilakunya kudus. Keruwetan dunia sekitar yang hingar bingar itu telah menjadi ajang “silentium” pribadinya.

Kesedihan plus doa dia dekap sendiri setiap waktu di balik wajah gantengnya dan kesantunannya yang membawa atmosfir kehangatan dan keramahan alami.  Hanya Yang Maha Cinta serta Bunda terkasihnya yang menjadi  tempatnya berbagi rasa dan itu terjadi  hingga akhir hayatnya.

Di depan patung Bunda Maria Ratu Damai di komleks Kerkop Taman Maria Ratu Damai Girisonta inilah Romo Ardi Handojoseno SJ ‘menyerahkan’ nyawanya kembali kepada Tuhan. Sendirian dan diketahui oleh orang lain. (Ist)

Dan hal itu benar adanya. Di ujung kehidupannya yang fana ini,  Romo Ardi Handojoseno SJ ditemukan luruh jatuh bersimpuh dalam damai di hadapan Bunda yang dikasihinya: Maria Ratu Damai di Kompleks Kerkop Girisonta.

Tuhan, ternyata konser di Gereja St. Antonius Kotabaru yang sempat membuat degup jantung saya itu berdetak kencang –hanya  sesaat sebelum naik panggung itu– pada akhirnya merupakan kolaborasi bermusik kami yang pertama dan sekalius yang terakhir.

Baca juga:  RIP Pater AM Ardi Handojoseno SJ, Serangan Jantung Usai Jogging Sore di Girisonta

Janji yang tak pernah kesampaian

Usai pentas yang mendatangkan kekaguman sekaligus sempat nyaris membuat jantung saya berdegup kencang tak terkendali itu hanya sesaat sebelum naik pentas karea ‘insiden’ perubahaan mood- Romo Ardi, kami bersepakat lain waktu akan berkolaborasi lagi. Singkat cerita, pada bulan Oktober 2016 itu pula kami sudah berkeinginan  merancang ‘program bersama’.

Usai menyelesaikan studi doktoral di Sydney dan kemudian bertugas di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, almarhum Romo Ardi  pernah mengutarakan keinginannya bisa menjalin kontak dengan sejumlah musisi lokal di Kota Gudeg ini.  Dengan saya, ia juga  bicara tentang keinginan yang sama: berkolaborasi bermusik.

Ia mengatakan hal itu dengan semangat kesungguhan. Saya pun menimpali dengan ‘permohonan’ kepada Romo Ardi agar berkenan mengisi vokal  pada album-album rohani yang sebentar lagi akan masuk dapur rekaman. “Boleh dan sangat berminat, asalkan saya telah menyelesaikan terlebih dahulu program Tersiat saya,” begitu jawaban almarhum ketika saya ‘menembak’nya.

Baca juga:   Buka Mulut Lebar-lebar, Ujar Alm. Pastor AM Ardi Handojoseno SJ di Paroki Kenjeran Surabaya…

Sekali waktu, saya dikabari pada tanggal 21 Maret 2017 bahwa ibu kandung Pastor Andre Purdianto SJ telah meninggal dunia di Situbondo (Jatim). Saya  mengirim bunga  tanda duka.  Sehari kemudian, tepatnya tanggal 22 Maret 2017 pukul 16.55, saya berhasil merampungkan komposisi lagi bertitel Rumah Abadi.

Tembang rohani ini saya dedikasikan untuk mengingatkan saya akan peristiwa duka di keluarga Romo Andre dan akan saya ‘pentaskan’ saat peristiwa memulé (memperingati) satu tahun meninggalnya ayah kandung Pastor Mintara SJ. Mengapa menjadi istimewa? Itu karena kakak kandung Romo Mintara SJ adalah kawan sekolah saya sejak SMA dan kemudian kami bersama-sama kuliah di FKG UGM hingga tuntas diwisuda sebagai dokter gigi.

Lagu-lagu bernuansa ‘sedih’ itu pulalah yang akhirnya saya mainkan untuk mengenang kepergian sahabat saya yang baru saya kenal selama enam bulan terakhir ini: almarhum Romo Ardi Handojoseno SJ.

Sebagai perempuan dan ibu dua anak, saya telah terbawa perasaan hanyut dalam rasa duka yang mendalam, ketika sahabat yang datangnya ‘tiba-tiba’ itu kini sudah pergi meninggalkan dunia fana menuju keabadian bersama Sang Penciptanya.

Baca juga:   In Memoriam Pastor AM Ardi Handojoseno SJ: Kejutan Tuhan, Menciptakan Tsunami Kehidupan yang Tetap Misteri (3)

Padahal hanya beberapa hari sebelum meninggal dunia, almarhum Romo Ardi SJ sempat berkirim kabar sebagai berikut. “Wah pasti ciamik deh… Kapan-kapan yuk bisa berkolaborasi bikin opera Ignasius atau passio yang untuk ibadat koor gitu… Retret sebulan ini telah menjadikan saya sehat banget. Saya bisa melakukan banyak olahraga dan boleh sedikit mengurangi porsi makan …”

Teks kabar ini dia kirimkan pada hari  Selasa tanggal 4 April 2017,pukul  20:14. Dan, rangkaian teks bernada riang itu menjadi kabar terakhir yang saya terima dari almarhum.

Kalimat itu merupakan ungkapan Romo Ardi yang dia ungkapkan secara spontan dan atmosfir kebahagiaan itu begitu saja terlontar keluar dibagikan kepada saya.  Saya menangkap ungkapan itu merupakan cita-citanya untuk bisa “berkarir” mengembangkan bakat bermusiknya. Tapi itu nanti, katanya berkali-kali, setelah dia rampung menjalani program pendidikan kerohanian sebagai Jesuit: Masa Tersiat selama 9 bulan.

Memanglah benar, karena sedari awal, almarhum sudah menyanggupi  ingin berkontribusi sebagai penyanyi pada pembuatan album CD lagu-lagu saya. “Iya, tapi abis Tersiat ya, dan itu tentu bisa,” demikian janjinya untuk bisa berkolaborasi masuk dapur rekaman.

Baca juga:  In Memoriam Pastor AM Ardi Handojoseno SJ: Musik Hobinya, Ilmu Pengetahuan Langkah Hidupnya (1)

Kini, semua keinginan terpendam itu sudah terkubur bersama jasadnya di Kerkop Taman Ratu Damai di Girisonta. Janji indah yang telah membuat saya sedemikian sangat bersemangat itu juga takkan pernah kesampaian.

Baca juga:   Vita Functi: Requiem dan Pemakaman Jenazah Pastor AM Ardi Handojoseno SJ (5)

Tapi, itu tidak mengapa, Romo Ardi.

Saatnya saya harus rela berucap: Romo Ardi, selamat bergabung dalam grup musik rurgawi. Kutitipkan juga rinduku untuk Sang Maha Cinta.

Ngaglik – Sleman

Senin 10 April 2017 pagi pkl. 09.21

2 COMMENTS

  1. Terima kasih bu,atas catatan memori bersama Rm. AM Ardi SJ almarhum. Saya sangat menikmatinya dan membayangkan betapa luhurnya dan komplitnya beliau, ya Romo, ya intelektual ya kegantengan ya suara yang kesemuanya untuk dipersembahka kepadaNya.

  2. Terima kasih untuk tulisan yg sungguh apik , sungguh bangga saya mempunyai panutan Romo Ardi yg semasa hidup beliau menjadi Imam, intelektual dan seniman. RiP Romo Ardi SJ. Berkah Dalem Gustu

Leave a Reply to widdi usada Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here