Bersama Uskup Mgr. Paskalis OFM, Dua Suster Ucapkan Prasetya Kekal dalam Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS)

0
545 views
Di hadapan Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, suster yunior Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) Sr. M. Edisia SFS mengucapkan Prasetya Kekalnya di Kapel St. Fransiskus Assisi Biara Pusat SFS di Sukabumi, 14 Agustus 2022. (Dok. Kongregasi SFS)

SETELAH mengalami masa-masa kosong sepanjang tahun-tahun lalu karena terjadi pandemi Covid-19, kini tiba kembali momen suci. Ketika dua suster yunior Kongregasi Fransiskan Sukabumi (SFS) akhirnya resmi menjadi anggota defenitif.

Kongregasi SFS dengan pusatnya di Sukabumi mengalami momen penting ini dengan penuh rasa syukur. Terjadi dalam Perayaan Ekaristi Profesi Kekal Sr. M. Michaela SFS dan Sr. M. Edisia SFS yang berlangsung di Kapel St. Fransiskus Assisi Sukabumi, tanggal 14 Agustus 2022 lalu – bertepatan dengan Hari Raya Santa Maria Diangkat ke Surga.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM sebagai selebran utama bersama Romo Martin Harun OFM dan Romo Tauchen Hotlan Girsang OFM – keduanya konselebran.

Perayaan Ekaristi bersama selebran Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM dan dua imam konselebran Romo Martin Harun OFM dan Romo Tauchen Hotlan Girsang OFM. Ini untuk mengiringi pengucapan kaul kekal dua suster yunior Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS): Sr. M. Michaela SFS dan Sr. M. Edisia SFS. Prosesi ini berlansung di Kapel St. Fransiskus Assisi Biara Pusat Kongregasi SFS di Sukabumi, Jabar, 14 Agustus 2022. (Dok. Kongregasi SFS)
Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM menyapa para novis SFS di Novisiat Kongregasi SFS, Sukabumi. (Dok. Kongregasi SFS)

Pengalaman iman

Mgr. Paskalis dalam homilinya minta Sr. M. Michaela SFS dan Sr. M. Edisia SFS mensyeringkan pengalaman iman mereka. Karena kisah hidupnya pasti ada mirip-miripnya dengan pengalaman Bunda Maria. Yang mengalami Allah yang telah diimaninya sejak kecil dan juga karena Maria telah melakukan perbuatan-perbuatan besar di dalam hidupnya.

Karena Allah itu sungguh hidup. Allah juga telah berkarya di dalam hidup harian; baik sebagai religius dan awam. Semua dalam upayanya menegaskan panggilan hidup menjadi religius atau awam dan setia menghidupi panggilan.

Profesi Kekal diucapkan oleh kedua suster yunior SFS untuk selanjutnya secara penuh mau mengikatkan diri bersama Kristus, bersatu di dalam Kristus sesuai cara pandang, cara pikir dengan Dia. Kaul juga menjadi sarana rohani untuk senantiasa berfokus mau mengikuti Kristus dan siap melayani masyarakat, peduli pada sesama, dan alam ciptaaan.

Hidup menjadi orang Katolik dan mengikuti Kristus menjadi awam atau anggota tarekat religius dengan sarana kaul  adalah bermisi untuk memberikan diri pada sesama melalui Gereja-Nya dan melalui tarekat religius.

Semoga semakin lama juga semakin mengalami Allah, semakin menjadi manusia yang bertobat dan semakin sempurna dalam  melayani Tuhan melalui Gereja dan umat-Nya.

Sr. M. Michaela SFS asal Mentawai, Sumbar, saat menjadi peserta rombongan Jambore SEKAMI (Serikat Kepausan Remaha dan Anak Misioner) Karya Kepausan Indonesia (KKI) ikut delegasi Keuskupan Bogor. Jambore Nasional SEKAMI KKI ini berlangsung di Keuskupan Agung Ponitianak, Juli 2018. (Mathias Hariyadi)

Profil pestawati berkaul kekal

Kedua suster pestawati SFS yang telah berkaul kekal pekan lalu di Sukabumi adalah mereka yang telah mengalami pembinaan dan persiapan rohani, sebelum akhirnya mengucapkan profesi kekal. Dilaksanakan dengan berbagai kegiatan outreach -di luar biara- melalui live in, retret dan pendampingan-pendampingan oleh para suster yang memang bertugas melayani para suster yunior.

Berikut data kedua suster SFS yang baru saja mengikrarkan profesi kekalnya:

  1.  Sr. M. Michaela SFS dari Paroki Santo Damian, Saibi, Siberut Tengah, Kepulauan Mentawai, Keuskupan Padang, Sumbar.
  2.  Sr. M. Edisia SFS dari Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga, Eban, Keuskupan Atambua, NTT.

Dari Padang

Sebelumnya juga sudah ada suster dari Keuskupan Padang dan sudah berprofesi kekal tahun 2014: Sr. M. Veronika SFS.

Juga ada suster novis yang berasal dari Keukupan Atambua. Kini, ia sudah bergabung dengan para calon lainnya, mengikuti masa pembinaan di Novisiat St. Bonaventura yang kini lokasinya sudah pindah ke Jalan Veteran II. Sementara, areal novisiat lama di kompleks Wisma Assisi kini telah dipakai sebagai rumah kasepuhan untuk para suster usia lanjut.

Sr. M. Olga SFS adalah suster pertama dari Keuskupan Atambua dan ia telah berkaul kekal tahun 2009.  

Bersama Pak Yusna, Bu Christin, Sr. M. Marietta SFS yang selama ini menjadi pendamping para suster yunior SFS mewakili orangtua kedua suster muda yang sebentar kemudian akan memasuki Kapel St. Fransiskus Assisi Biara Pusat Kongregasi SFS. Berjalan bersama uskup dan dua imam untuk prosesi pengucapan Prasetya Kekal mereka. (Dok. Kongregasi SFS)

Para pestawati mendapat tugas pengutusan yakni melanjutkan tugas studi mereka; masing-masing di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta dan di Universitas Nusa Putra Sukabumi.

Kongregasi SFS serius menyiapkan tenaga-tenaga SDM dengan komitmen tinggi untuk kemudian bisa terlibat di dalam karya Gereja untuk keselamatan jiwa-jiwa sesuai dengan visi Kongregasi. Dengan menjalani tugas pengutusan untuk mengembangkan pemahaman umum atas sejarah perkembangan zaman. Juga untuk mengembangkan karya-karya yang hingga kini masih diampu oleh Kongregasi SFS.

Untuk itulah, para suster yang potensial ini kemnudian diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, belajar lebih lanjut dengan studi di berbagai perguruan tinggi.

Sr. M. Edisia SFS (kanan) bersama kolega para mahasiswa -teman kuliahnya se-kampus di Universitas Nusa Putra Sukabumi. (Dok. Kongregasi SFS)

SFS dan FRIP

Sebelum masa pendemi dan pengucapan Prasetya Kekalnya, para suster yunior menyempatkan waktu mengikuti program live in selama 2–3 pekan di Wisma Tuna Ganda Palsigunung Depok.

Juga dilangsungkan di kawasan perkebunan OISCA Sukabumi. Di sini mereka diajak merefleksikan keterlibatan bersama sesama yang sejak awal hidupnya telah mengalami keterbatasan secara fisik. Program ini dilakukan agar mereka bisa semakin menyatu dengan alam dengan sistem perkebunan bekerjasama dengan Jepang.

Selain live in, Kongregasi juga memfasilitasi para suster untuk bisa mengikuti retret persiapan Profesi Kekal bersama Keluarga Besar Fransiskan lainnya dalam program retret bersama yang disebut Franciscan Retreat Internship Program (FRIP).

FRIP adalah program retret bersama besutan Kelompok Fransiskan dan Fransiskanes bagi segenap para anggotanya yang mempersiapkan diri untuk berkaul kekal.

Kegiatan ini telah berlangsung di Rumah Retret Keluarga Fransiskan di Jawa Barat atau tempat lain seperti:

  • Rumah Retret St. Lidwina Sukabumi.
  • Rumah Retret St. Clara Cipanas.
  • Wisma Samadi Syalom Cipanas.
  • Rumah Retret Laverna Pringsewu di Lampung.
  • Rumah Retret Pangesti Wening OSF di Ambarawa, Jateng.

Menurut Sr. M. Marietta SFS yang menjadi tenaga pendamping para suster yuniores, FRIP mula-mula dipersiapkan oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM bersama Br. Bram MTB dkk.

Semula, para peserta program FRIP adalah para saudara OFM dan MTB. Namun, kemudian program ini bisa diikuti oleh Keluarga Besar Fransiskan seperti FSGM, FMM, OSC, SFS, KFS, DSY, FcH, OSCCap dari Sikeben, OFMConv, dll.

Tujuan retret bersama ini adalah bergiat merenungkan nahas-nahas isi Kitab Suci dan mengambil banyak inspirasi dari pengalaman Santo Fransiskus Assisi dalam buku Perjalanan dan Impian karya Romo Murray Bodo OFM.

Dengan terlibat dalam program FRIP itu, para retretan diharapkan mengalami pertobatan batin yang mendalam dan membuat mereka menjadi lebih mampu memberikan jawaban lebih baik akan panggilan Allah.

Para pendamping memfasilitasi dengan agar peserta mampu membuka diri, bebas memilih langkah (path) serta hidup doa yang semakin mendalam dan dijadikan lebih siap lagi di dalam tugasnya melayani Gereja dan sesama dengan model-model karya pelayanan yang baru.

Para suster dan bruder peserta program FRIP (Franciscan Retreat Internship Program) di sela-sela rehat mengunjungi Istana Kepresidenan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jabar. (Dok. Kongregasi SFS)
Peserta prrogram Franciscan Retreat Internship Program (FRIP) saat mengikuti sesi pertemuan di Rumah Retret Samadhi Syalom Cipanas, Jabar. (Dok. Kongregasi SFS)

Peneguhan Profesi Kekal

Pada akhir Perayaan ekaristi dalam sambutannya, Pelayan Umum Kongregasi Sr. Vincentia SFS menyampaikan ungkapan syukur dan terimakasih atas kehadiran dan keterlibatan para suster dan keluarga sepanjang mendampingi para suster yunior hingga mereka dengan mantap menjadi anggota defenitif Kongregasi SFS.

Terimakasih kepada kedua keluarga

Ungkapan itu Sr. Vincentia SFS itu disampaikan kepada orangtua Sr. Michaela SFS yakni Bapak Mikael Sarereake dan Ny. Mama Marianna -keduanya sudah meninggal- dan sanak-saudara-saudarinya di Mentawai, Sumbar. Ini disampaikan melalui tayangan live streaming.

Ungkapan sama juga disampaikan kepada orangtua Sr. Edisia SFS: Bapak Landelinus Apmalo dan Mama Welhelmia Olla beserta keluarga.

Terimakasih juga kepada Sr. Marietta SFS dan Bapak Yusna beserta Ny. Christin yang telah mewakili orangtua kedua suster pestawati.

Hal sama juga telah menyapa Sr. Anna SFS dan Sr. Verena SFS -kedua pendamping suster yunior- atas ketekunannya telah mendampingi para suster selama menjalani masa yunioratnya sehingga mereka berani mengambil keputusan untuk mengucapkan Profesi Kekal.   

Kedua suster yunior yang baru saja mengucapkan Kaul Kekalnya -Sr.Michaela SFS dan Sr. Edisia SFS berdiri tengah depan bersama segenap anggota Dewan Pelayan Umum Kongregasi. (Dok. Kongregasi SFS)

Pesan-pesan khusus

Berikut ini narasi pesan dan dukungan kepada kedua suster pestawati tentang inti melakoni hidup religius yang tak lain adalah panggilan hidup menuju kesucian.

  • Kongregasi SFS dengan sukacita telah menerima kedua suster ini.  
  • Dengan mengucapkan kaul kekal yang ditandai dengan mengenakan cincin -di depan altar ada lingkaran seperti cincin- para pestawati telah mengikatkan diri dengan Sang Mempelai yakni Yesus Kristus.
  • Sehingga hidup sebagai religius tidak bisa bebas mengikuti kehendak diri atau suka-suka hati sendiri, melainkan telah diikat untuk hidup menurut kehendak Allah. Melalui hidup yang telah dibaktikan kepada-Nya.
  • Tetap harus bijak, selektif, baik dan benar dalam mengunakan medsos.
  • Tetap setia pada janji yang baru saja diucapkan dengan lantang, sehingga para suster dapat mewujudkan hidup religiusnya di dalam hidup doa, persaudaraan maupun dalam karya kerasulan atau tugas pengutusan.

Memaknai peristiwa

Memaknai peristiwa Profesi Kekal, kiranya kedua suster pestawati itu dapat merenungkan panggilan hidup yang telah mereka jalani sampai saat ini dengan baik baik sebagai religius.

Nilai kesetiaan sangatlah penting untuk kita perjuangkan. Kita bisa belajar dari Bunda Maria yang tetap hidup di dalam kasih Allah dengan penuh kesabaran dan kesetiaan.

Sebagai anggota Kongregasi SFS, maka di mana pun berada atau ditugaskan tetaplah membawa identitas SFS sebagai sosok religius pendoa dan pentobat agar hidup kita tetap memancarkan terang dan damai kepada sesama yang dijumpai.

Pada akhir sambutannya, Pelayan Umum Kongregasi Sr. Vincentia SFS mengungkapkan rasa syukurnya melalui refleksi dengan mengambil kutipan ayat Kitab Suci.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu. TUHAN adalah bagianku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. (Ratapan 3:22-24).

Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dengan tarian syukur oleh para saudari muda Postulan, Novis untuk para tamu. Acara bersama ini diakhiri dengan makan siang bareng-bareng.

Tarian syukur persembahan para suster postulan Kongregasi Suster SFS untuk kedua suster senior mereka yang baru saja mengucapkan Prasetya Kekalnya dan kepada para tamu undangan. (Dok. Kongregasi SFS)

       

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here