Bersukacita Bersama Tuhan Yesus

0
152 views
Ilustrasi: Ingin menggapai cita-cita setinggi mungkin.

Renungan Minggu II Masa Biasa Tahun C

Pengantar

Dalam Injil hari ini (Yoh 2:1-11), kita membaca tentang Yesus dan ibu-Nya serta murid-murid-Nya yang mengambil bagian dalam pesta pernikahan di Kana.

Ketika anggur habis, Yesus-lah yang melihat bahwa ada persediaan yang berlimpah. Dia memberi mereka begitu banyak sehingga mereka tidak mungkin meminum semuanya.

Itulah simbol sukacita tak terhingga yang bersumber dari Tuhan.

Pewahyuan Allah lewat Yesus

Kisah ini masih terkait dengan peristiwa natal.

Bagaimana kaitannya?

Natal pada dasarnya adalah peristiwa Tuhan menyatakan diri-Nya melalui Yesus dalam beberapa cara.

Pertama, ketika Yesus lahir sebagai pengungsi dan orang miskin yang tuna wisma dan terbaring di kotak makanan hewan. Tuhan menyatakan diri-Nya dalam solidaritas-Nya dengan kaum miskin di dunia.

Orang pertama yang mengunjunginya adalah orang-orang miskin dan terbuang, para gembala.

Mereka mengenali Tuhan dan menyembah Dia dengan hati yang penuh sukacita.

Kedua, saat Tuhan mengungkapkan diri-Nya kepada orang asing, penganut agama lain dan orang mungkin malah tidak beragama, yang datang dari belahan dunia yang jauh.

Ini terjadi pada Hari Raya Epifani ketika kita mengingat “orang-orang bijak” yang datang dari “negeri yang jauh” untuk beribadah dan mempersembahkan hadiah-hadiah berharga.

Sekali lagi, suasananya adalah kegembiraan.

Ketiga, Tuhan menyatakan diri ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan dan dipenuhi dengan Roh Tuhan.

Sebelum pembaptisan-Nya tukang kayu muda ini masih belum dikenal publik.

Pada saat pembaptisan-Nya dikatakan, “Ini adalah Putera-Ku yang terkasih – dengarkan dia.” (Luk 3:22) Mendengarkan pemuda ini, yakni Yesus, berarti mendengarkan Tuhan sendiri.

Akhirnya, hari ini, untuk keempat kalinya, lewat Injil Yohanes, Allah menyatakan diri-Nya, yaitu ketika Yesus melakukan “tanda”-Nya yang pertama.

Catatan: Yohanes tidak menyebutnya mukjizat, tetapi “tanda-tanda” Allah yang bertindak di antara umat-Nya.

Refleksi

Injil hari ini menegaskan bahwa Yesus adalah sumber kehidupan. Yesus bersabda, “Aku datang agar kamu memiliki hidup-hidup dalam segala kepenuhannya.” (Yoh 10: 10).

Orang Kristen yang merasa bahwa menjadi pengikut Kristus adalah beban berarti belum memahami makna pesan Kristus.

Menjadi seorang Kristen berarti mengalami perasaan pembebasan yang sejati – mengalami hidup baru, kebahagiaan baru, kedamaian baru, hubungan baru dengan sesama.

Hidup penuh sukacita

Agama Kristen adalah agama sukacita. Orang Kristen sejati benar-benar tahu bagaimana menikmati hidup.

Begitu banyak orang Kristen memiliki pandangan hidup yang suram. Ketika pergi ke gereja pada hari Minggu, apakah kita mengalami sukacita dan kebahagiaan bersama umat yang merayakannya?

  • Bukankah pada saat itu Tuhan Yesus hadir seperti pada saat pesta di Kana?
  • Bukankah Dia tidak hanya mengubah air menjadi anggur, tetapi memberikan Tubuh dan Darah-Nya bagi kita?
  • Bukankah dengan itu Tuhan Yesus sudah memberikan segalanya sebagai sumber kebahagiaan kita?

Mengapa kita masih belum bisa bersukacita bersama Tuhan Yesus.

Minggu, 16 Januari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here