Bersyukur, Prinsip Utama Jalani Hidup Bahagia

1
695 views
Ilustrasi - Jangan lupa bersyukur. (Ist)

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Kamis, 25 November 2021.

Tema: Iman yang hidup.

  • Dan..6; 12-18.
  • Luk. 21: 20-28.

IMAN itu adalah harapan yang memberi kekuatan. Iman mengemakan keyakinan bahwa ada sesuatu di luar diri. Bahkan di luar dunia ini yang menjadi cantolan dan jaminan penyertaan.

Iman juga menjadi sebuah kekuatan yang menggerakkan hidup manusia untuk terus berkembang dalam kebaikan. Kesadaran akan hidup baik,  tenggang rasa, tepo sliro, berbalas kasih.

Beriman berarti berani belajar percaya. Ia sadar bahwa dirinya terbatas, tidak sempurna. Tetapi ia terus berusaha untuk lebih memahami arti kehadirannya dalam hidup.

Ia ingin lebih memberi makna pada hidupnya. Ia ingin berarti bagi yang lain. Ia pun sadar berada di tengah-tengah yang lain; bersama berjalan dengan yang lain menuju satu titik yang sama yaitu Sang Pemberi Kehidupan.

Seluruh aktivitas hidupnya baik yang spiritual maupun material adalah bentuk reaksi dan tanggapan atas kebaikan Yang di Atas dan keramahan sesama. Hidupnya menjadi berkat Dari-Nya dan Bagi yang lain.

Terpujilah Tuhan.

“Halo Ko, Cie apa kabar?,” sapaku kepada umat yang sedang menjaga toko sembakonya.

“Hei Romo… Apa kabar? Lagi santai yah?,” katae si koko

“Baik. Ya lagi santai nih,” kataku rileks.

“Minum ya Romo. Ngebakso ya, ada tuh dekat sini. Enak dan bersih,” ajaknya.

“Mang pesenkan tiga mangkok ya…tanpa mitzin” si cie langsung perintah tanpa persetujuanku.

“Kok tiga?”

“Ya tuk Romo, saya dan suami dong,” tegasnya mantap.

“Anak-anak?”

“Bibi masak sayur dan ada baksonya. Lagian anak-anak, Celine dan Charlo masih pada sekolah,” jawabnya.

“Oh, mama di mana?”

“Ada tuh…di dalam mungkin lagi goleran. Baru aja dari sini,” jawab pasutri itu.

“Sakit?”

“Enggak. Biasalah. Mama sering ke depan sebentar sekitar seperempat jam, lalu masuk lagi. Begitulah aktivitas mama seharian. Mama ke depan itu bisa tiga kali sehari. Kadang Mama ingin duduk di kasir, menerima uang dan beri kembaliannya. Itu yang membuat mama tidak begitu pikun? lebih-lebih soal uang,” jelasnya.

Ha… ha… ha… ha……tawa koko sejenak.

“Kamu bisa kualat sama mertua, loh,” guyonanku.

Si cie hanya tersenyum.

“Maksudku, aktivitas Mama mengenang kehidupannya dulu. Lagian konsumen Mama yang lama masih tetap belanja di sini. Sama-sama tua. Sama-sama berbicara sebentar. Itulah yang menyenangkan si Mama,” kata anak perempuan.

“Masuk Mo,” kata si Mama.

“Ma apa kabar? Capekkah,” sapaku ramah.

“Oh…R omo, nggak,” jawabnya.

“Ini lagi goleran aja. Sudah tidak kuat berdiri atau duduk lama. Maklum sudah tua. Kan sudah umur 83 tahun,” katanya.

“Masih bisa makan apa aja ta?”

“Ya sedikit-sedikit supaya pencernaan tidak banyak bekerja. Sekarang, lebih banyak makan sayur, rebus-rebusan dan berkuah. Kalau ikan pun ikan air tawar, bukan ikan laut.  Ayam pun ayam kampung. Ya, jaga-jaga aja Romo,” jelasnya.

“Enggak lupa doa kan, Ma?”

“Ya biasa Romo. Bangun pagi doa dan Rosario. Setelah itu saya ke meja doa. Doa kepada orangtua dan mertua. Juga suami. Saya bakar hio dua kali, Mo,  pagi dan sore. Tapi saya tetap percaya pada Tuhan Yesus.

Itu tidak apa-apa ya Romo? Tidak menduakan Tuhan kan?,” tanyanya ragu.

“Dengan membakar hio, harumnya membuat suasana rumah tenang dan pikiran tidak bergejolak.

Saya hanya bersyukur kepada Tuhan. Saya pernah punya orangtua dan mertua yang baik. Mereka dulu semasa hidupnya memberi banyak kemudahan sehingga mempunyai toko yang cukup besar.

Semua anak saya, jumlahnya empat orang, sudah berkeluarga dan mendapat bagian masing-masing.

Jadi sekarang saya tenang dan saya bahagia. Kami biasa makan bersama, sepekan sekali, di rumah ini; yang masak bergantian,” jelasnya.

Tak lama kemudian, si Koko dan Cici ikut bergabung.

“Gimana tokonya Ko?”

Ya begitulah, Romo. Kadang ramai, kadang sepi

Apalagi masa pandemi. Semua serba turun. Hukum pasar, Mo. Kami bisa bertahan ini sudah cukup baik. Masih bisa makan dan sekolahin anak,” jelasnya.

“Hee… nggak boleh bilang sepi. Tuhan telah mengatur,” sela mama tegas.

Sebuah perjumpaan dan percakapan yang meneguhkan hidup.

Darius yakin, “Allah Daniel, Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mukjizat di langit dan di bumi.” ay 28

Tuhan, biarlah aku tetap berani belajar percaya kepada-Mu dan menikmati hari-hari bersama-Mu. Amin.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here