“Bersyukur Tanpa Libur”, Laku Iman Seorang Penulis dan Seniman Bernama Arswendo Atmowiloto

0
512 views
Arwendo Atmowiloto. (Ist)

BUKU ini berjudul A Tribute to Arswendo. Tentang prinsip hidup berimannya di gelombang-gelombang hidupnya yaitu Bersyukur Tanpa Libur.

Ketika buku bernas ini dirilis, maka akan tertulis ragam mereka yang pernah dididik jadi jurnalis, ahli bermedsos saat itu, para sahabat dan paling batin adalah isteri dan putera-puteri mendiang.

Semuanya ternyata mewarisi “gen” kesenimanan dan kepenulisan Wendo. Demikian panggilan akrab Arswendo Atmowiloto.

Sisi-sisi berwarna-warni Wendo -terutama yang ditulis dalam puncak-puncak novelnya- yang Anda tinggal nge-klik saja nama Arswendo, pasti keluar lengkap daftarnya.

Dan itu menjadi penanda jelas betapa amat sangat kreatifnya dan benarlah adagium-nya yang terkenal itu, yaitu: Mengarang Itu Mudah.

Betapa tidak. Ia eksis tidak hanya di budaya tulis. Tapi juga di layar kaca. Mulai cerita silat bersambung, novel, esai-esai hingga budaya visual yang dia sendiri beri nama ciptaannya sebagai sinetron. 

Ini adalah singkatan dari “Sinema Elektronik”; terutama Keluarga Cemara yang sudah difilmkan.

Terasa mengenang dan mengendap hening dalam ingatan kita.

Namun, masih ada satu oase inti yang karena berupa mata air imannya, seakan memang tidak terlalu dipamer-pamerkan seturut logika panggung pesohor. Namun ini menjadi sumber kekuatan kreasi karya tulis dan imajinasi Wendo.

Lapis pertamanya mesti dimasuki. Juga belajar menangkapnya di balik ungkapan Bersyukur Tanpa Libur.

Inilah pengalaman Wendo menghayati hidup. Juga pernah dipenjara. Anda bisa menapakinya dn silahkan menyimak buku Bersyukur Tanpa Libur: Catatan Kehidupan Arswendo Atmowiloto, Gramedia Pustaka Utama, 2020.

Buku “Bersyukur tanpa Libur” karya almarhum Arswendo Atmowiloto. (GPU)

Serba yang pertama

Di dalam buku itu termuat Wendo berkisah tentang dirinya sendiri di bab 01. Mulai dari anjing pertama, ibu pertama, mesin tik pertama, celana panjang pertama, tato pertama, mobil pertama, rumah sakit pertama, mendalang pertama kali sampai perkenalan pertama dengan makhluk halus.

Semua serba pertama ada di 01.

Buku ini punya ketebalan sebanyak 123 halaman. Bagian 02 adalah orang-orang lain mengenai Wendo dalam judul cantik: Catatan dari Mereka yang Pernah Dekat dengan Arswendo Atmowiloto: Selalu dalam Kenangan (hal. 140-234); mulai dari keluarga, rekan satu profesi, dari teman dan rekan kerja.

Sehingga rangkuman bab-babnya dan seluruh buku pun diracik kata menurut mantra Wendo yang memang perajut kata bermakna dan dicuplikkan oleh editor dari buku tulisan-tulisannya atau kata (kalimat berjiwanya).

Bersyukur itu lega, tidak cemas, tidak lagi dibalut rasa takut, tidak berputar-putar dengan mencari alasan (Arswendo dalam bukunya Horeluya).

Pergulatan nilai

Pengolahan hidup dalam pergulatan nilai yang disumberkan pada imannya misalnya terungkap jelas di novel Dua Ibu.

Ia menulis: “Hanya mereka yang tulus akan menemukan jalan keluar yang menyenangkan, tidak menyakiti siapa-siapa dan tidak menyisakan dendam.”

Iman, sebuah ranah batin tempat oleh suka-duka hidup yang dihaturkan pergulatan dalam teriak protes maupun sumeleh pasrah.

Manakala riuh pergolakan itu menemukan keluasaan Tuhan yang dipercayai ranah hening doa kepada Nya.

Tengoklah ketika mengalami dipenjara dalam soal Tabloid Monitor yang tetap berpengharapan.

Nama baptis Paulus yang dalam perjalanan sejarah hidup dari Saulus. Ia adalah sosok pengejar-kejar Gereja Awal menjadi Paulus.

  • Yang bertobat, karena dipanggil Tuhan Yesus di jalan menuju Damaskus sehingga menjadi titik balik Paulus.
  • Yang menjadi ‘baru’ dibabtis Roh baru dengan tugas mulia rasul untuk kekristenan non Yahudi. Ya orang-orang bukan Yahudi sebagai jemaat awal.

Karena itu pergulatan iman di saat dipenjara pun mampu kita baca.

Hal itu terungkap sebagai berikut: “Kalau pun berbuat jahat, lebih baik bertobat, meskipun tidak menyesal. Daripada menyesal. tapi tidak bertobat”.

Dari penjara itulah, Wendo mampu menyulam puisi-puisi dalam anyaman olah batinnya, bahwa Berserah Itu Indah.

Sebuah pengalaman yang menyuratkan yang tersirat pengalaman sampai akhir tak pernah ada proses pengadilan dan terbukti korban kekuasaan pada kejeniusan imaji kreatif Wendo.

Namun toh tetap harus meringkuk di dalam bui yang membuktikan ia masih tetap hidup, kreatif, dan mampu beriman.

Bahkan menjalarkannya dengan mengajak rekan-rekan tahanan untuk tidak mentato, melukai diri dan tubuh sendiri lagi, tatapi energi “nglukis tato” itu ditorehkan dengan mentato sandal jepit bahkan sampai diekspor keluar.

Namun itu sekelumit kabar gembiranya yang mencuat. Dan toh sebagian besar hidup di tahanan memang penuh penderitaan.

Seperti Paulus yang akhirnya menjadi nama babtis Arswendo) seakan sama pengalamannya. Meski disesah (batin) dan menderita, namun religius Tuhan yang Baik itu; juga Maharahim.

Kalender 1954 pemberian Wendo

Namun buat seniman, Dia adalah indah dan “berserah kepada-Nya dan mempercayai-Nya itu indah adanya”.  

Karena inilah, kini saya bisa memahami lebih mendalam, mengapa di dalam pengalaman di penjara itu -dan melalui isteri dan anak-anaknya waktu kami bezoek– Wendo memberihadiah terindah dalam hidup saya.

Untuk hari syukur ulang tahun saya yakni hadiah berupa kalender bersejarah yang dia rawat temukan, ketika membersihkan gudang simpanan di penjara Cipinang.

Sebuah kalender bertahun kelahiran saya, yaitu 1954 hingga sejak saat itu perjalanan hari ke hari saya ditemani oleh kalender bertulis Djawatan Kependjaraan Republik Indonesia 1954.

Dahsyat bukan.

Ketika saya pulang ke Solo, saya lalu bercerita pada ibu (yang saat itu masih hidup) mengenai hadiah HUT dahsyat dari Wendo ini.

Beliau bahagia mendengar hal itu, lalu beliau bilang, “Kamu lahirnya dalam weton Jawa: Kamis Pon”.

Kalender tahun 1954 pemberian Arswendo Atmowiloto kepada Romo Mudji Sutrisno SJ (Dok. Rom Mudji SJ)

Hari weton itu keramat dalam keyakinan kosmologi dan waktu Jawa yang masih disembahyangi dengan puasa pada hari lahir weton Jawa ini.

“Lalu saya cek di kalender, saya lahir 12 Agustus 1954, benarkah lahir dengan hari baik Kamis Pon? Ternyata benar. Bukan main.”

Inilah kenangan terindah dari Wendo yang sejak itu saya juluki: “beyond the normal”, karena kreatif dan ide yang selalu dinamis muncul di benaknya.

Lalu saya “ngeh” (paham sekali) mengapa ia menulis makna sebuah kenangan sebagai berikut:

“Kenangan itu tidak bisa dikalahkan oleh waktu. Makin lama berlalu, kenangan makin bermutu” (buku Bersyukur Tanpa Libur hal. 99).

Mgr. Leo Soekoto SJ kunjungi Wendo di penjara

Merupakan kenangan potret gembala yang baik seorang Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ (alm.), sudi dengan gembira menengok atas permintaan Wendo sendiri untuk berikan ucapan Selamat Natal kepada Arswendo di Penjara Salemba.

Begini kisahnya, Mas Wendo saat di-bezoek (dikunjungi) meminta apakah mungkin Uskup Keuskupan Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ berkenan datang berkunjung di saat beberapa hari setelah Natal (karena pasti sulit di saat Natal).

Arswendo ingin mendapat berkah Natal dengan kehadiran Sang Gembala. Dan Tuhan itu ajaib, ketika saya ajukan permintaan ini, langsung spontan mengiyakan dan mau.

Lebih unik lagi adalah kenangan menjemputnya di Katedral.

Kami, Bu Agnes, anak-anaknya sudah menunggu di kamar tamu Katedral (yang bangunan lama. Kita bisa melihat naik turunnya Uskup dari bawah ke atas). Menunggu cukup lama, ada apa ya? Demikian pikir kami.

Karena salah satu syarat mengengok ke penjara adalah membawa identitas diri, KTP atau sejenisnya.

“Eh tiba-tiba terkejut,” karena spontan beliau bersuara lantang sambil turun tangga: “Wah KTP-ku tak berhasil saya temukan. Mungkin karena merasa sudah dikenal, kemana-mana tanpa harus bawa KTP. Belum ketemu, namun saya bawa tanda pengenal paspor saja ya?”

Kami tertawa sambil ada yang nyeletuk: “Tidak masalah, Monsinyur.”

Begitulah dalam kenangan unik, belum ada orang yang meminta dikunjungi seorang Uskup Agung di Hari Natal, kalau bukan Mas Wendo.

Arswendo Atmowiloto mendapat kunjungan Uskup KAJ Mgr. Leo Soekoto SJ di Penjara Salemba. (Koleksi keluarga Arswendo; arsip pribadi Romo Mudji Sutrisno SJ)

Pergulatan iman, kisah isteri Wendo

Namun, jejak pergulatan iman dan laku beriman dari Arswendo yang sudah lama menerima Yesus, sejak perkawinan dengan isterinya di Solo dengan Agnes Sri Hartini, yang diberkati secara Katolik oleh almarhum Romo Soegiri SJ.

Pemberkatan perkawinan itu terjadi di Gereja Dirjodipuran, Solo, Jateng.

Dan itu tetaplah sebuah proses yang dari tahap tersirat akhirnya tersurat resmi baptisannya dengan nama permandian Paulus.

Sensus Catholicus sudah dia hayati dengan ke gereja tiap hari Minggu, sekeluarga sampai umat ingat deretan bangku duduk Wendo dan keluarganya di Gereja Bintaro.

Romo L Sugiri SJ memberkati penganten Arswendo Atmowiloto dan Agnes di Gereja Santo Antonius Purbayan Solo 9 Des 1971 — Dok Kel Arswendo via Romo Mudji SJ

Proses menjadi Katolik ini, saat saya mintakan ditulis oleh Bu Agnes istreinya, bukan main-main, ditulis sepenuh hati dan dengan dokumen Surat Baptis dan Sakramen Penguatan dikirim ke saya.

Menunggu 18 tahun Wendo “Bertobat”

Ini adalah goresan tulisan Bu Agnes Sri Hartini kepada penulis. Saya memulai dengan permintaan di WA.

Ibu Agnes bisa cerita tentang Mas Wendo saat baptisnya, sebab novel Sukses dengan Satu Isteri (Sudesi) dan Keluarga Cemara itu bermata air dari pendamping setia isteri yang dalam perkawinan doa yang dipersembahkan di sana serta prasetya pasutri adalah tetap setia dalam suka duka, untung dan malang, gembira dan susah kehidupan ini.”

Inilah kata per kata dari Bu Agnes yang sudah saya minta izin, bila ini akan dipublikasikan untuk kesaksian iman.

Inggih Romo, sebenarnya berkali-kali dia itu (Arswendo) kepingin dibaptis. Dan berkali-kali pula ikut pelajaran agama. Karena keseringan tidak masuk, maka tidak pernah lulus.

Pertama kali belajar di Solo, sama Romo Sugiri SJ… dan nggak tuntas karena dia banyak kesibukan. Setelah itu kami pindah ke Jakarta.

Sampai lama dan tidak pernah belajar lagi, sampai akhirnya ketemu dengan alm. Romo Ndito “Gendit Jiyoto” Martawi Pr yang datang ke rumah untuk kursus privat.

Eh… malah romonya yang diajari sama Arswendo. Jadi kalau sedang belajar jadi meriah, karena ada tanya jawab yang agak-agak serius, tapi diselingi dengan modelnya Arswendo yang sok pintar.

Sok pintarnya itu karena sebelumnya dia juga sering saya aja ke gereja untuk mendengarkan kotbah-kotbah kalau misa.

Sampai beberapa lama… dan akhirnya sudah cukup, untuk belajar persiapan guna dibaptis. Waktu itu di gereja kami ada tamu, yaitu Duta Besar Vatikan bernama Mgr. Francesco Canalini.

Beliaulah yang membaptis Arswendo pada tanggal 17 desember 1989 dengan nama baptis Paulus, sesuai dengan Surat Permandian dari Gereja St. Matius Penginjil Bintaro.

Peristiwa penting ini terjadi ketika kami sudah menikah18 tahun lalu di Gereja Katolik oleh Romo Sugiri SJ. Lalu tahun 1990, Peristiwa “Monitor” terjadi. Lalu dia masuk penjara.

Berarti peristiwa ini terjadi, setelah dia dibaptis satu tahun… dan ketemulah Arswendo dengan Romo Mudji Sutrisno SJ yang dengan rajinnya mengajari dia mendalami Alkitab. Puji Tuhan. Sampai Arswendo mau berpulang menghadap Tuhan, Romo Mudji-lah yang setia mengantarkannya dengan Sakramen Minyak Suci.

Memang Romo, dari awal pernikahan, tidak henti-hentinya saya selalu “nyenyuwun”, semoga suami saya Arswendo ini pinaringan (dianugerahi) hati yang lembut dan tinarbuka (terbuka) agar bersedia menerima Kasih Tuhan, biarpun saya menunggu sampai 18 tahun.

Akhirnya dengan kekuatan Roh Kudus, diterimalah Sakramen Baptis ini. Matur Gunging Panuwun, Gusti.

Sampai hari terakhirnya, telah diterima Sakramen Perminyakan lewat Romo Mudji Sutrisno SJ dan Romo Hendar Pr serta Romo Yacob Sriyatmoko SX. Matur Gunging Panuwun.

(Surat WA 14 Mei 2021).

Untuk menutup tulisan ini, saya masih mau mengutipkan tulisan saya di buku Bersyukur Tanpa Libur hal. 191.

Arswendo Atmowiloto saat membuka pameran sketsa di Taman Ismail Marzuki yang berlangsung 8-17 Januari 2014. (Dok. Romo Mudji Sutrisno SJ)

Mengapa?

Lantaran ada satu keinginan hidup yang didamba Arswendo sepanjang hidup, terutama setelah menjadi Paulus Arswendo Atmowiloto (yang 18 tahun setelah pernikahan, Ibu Agnes selalu mohon dengan penuh setia Tuhan, agar mau menjadi Katolik, dan inilah kekuatan doa seorang perempuan).

Arswendo ingin menjadi pewarta Kabar Gembira, ya Pewarta Sabda.

Inilah yang ia tinggalkan dalam baris-baris, untai narasi saat sakit sampai dipanggilnya kembali menghadap-Nya dalam rupa novel pamungkasnya, yaitu Barabas Diuji Segala Segi (Gramedia Pustaka Utama, 2020).

Novel Barabas inilah yang merupakan rangkuman perjalanan spiritual Arswendo, sejak dipenjara, menangkap sasmita Tuhan, bahwa “berserah itu indah”.

Dan Arswendo menjadi pewarta Kabar Baik ini melalui sosok Barabas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here