Bertapa di Brahma Vihara Arama, Singaraja (1)

0
124 views
Brahma Vihara Arama, Singaraja, Bali. (Marcx)

SETELAH beberapa kali tidak kesampaian karena berbagai alasan, akhirnya pada tanggal 1-10 November saya bisa ikut retret meditasi Vipassana di Brahma Vihara Arama, Singaraja, Bali.

Sepuluh hari  praktis tanpa kontak dengan siapa pun. Tanpa hape, tanpa telepon, tanpa SMS, tanpa email, tanpa Facebook. Bahkan setiap hari juga silentium magnum, tidak berbicara dengan siapa pun kecuali pada saat konsultasi.

Hanya setelah konsultasi terakhir, saya curi-curi juga ngobrol dengan beberapa teman sebangsal tidur.

Ketika pada hari kesepuluh hape dikembalikan, ternyata Facebook saya diblokir selama tiga hari lantaran ada posting gambar batu akik cincin berbentuk payudara.

Mungkin saja ada yang report. Maka agak diperpanjang sedikitlah saya berdiam diri. Ha… ha… ha.

Berlatih meditasi

Sebelum masuk terlalu jauh, perlu diinformasikan bahwa mengenai seluk beluk meditasi di Brahma Vihara Arama, saya anjurkan untuk membaca buku Berlatih Meditasi tulisan Bu Nusya Kuswantin, yang tentu saja ditulis dengan baik, terstruktur, dan bagus.

Sedangkan kalau saya menulis di sini, tahu sendirilah seperti apa tulisan saya, amburadul, gak karuan, ke sana ke mari .

Yang pertama harus saya ungkapkan adalah salut dengan penyelenggaraan acara retret meditasi ini. Meskipun memang kita diharapkan memberikan kontribusi sesuai kemampuan, namun pada dasarnya sifatnya hanya sukarela saja.

Kontribusi sukarela

Saya salut kenapa umat Buddhis yang relatif jumlahnya sangat minoritas di Indonesia ini, namun mampu menyelenggarakan acara seperti ini yang secara praktis sebenarnya bersifat gratis bagi siapa saja.

Sebagian pesertanya malah kemungkinan besar bukan Buddhis.

Bandingkan saja dengan Gereja Katolik, misalnya, yang umatnya relatif lebih banyak, tapi biaya retret biasanya dipatok cukup mahal, sehingga kesempatan mengikuti retret masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar umat katolik.

Tidak tahu apakah masih ada lagi umat agama lain yang jauh lebih mayoritas tapi untuk segala macam kegiatannya masih harus minta biaya dari negara, yang berarti menggunakan uang dari umat lain.

Maka, penyelenggaraan retret meditasi seperti ini sangat layak diapresiasi. Bahwa ada orang yang mungkin akan bilang, “Ah, itu kan bagian dari Budhaisasi”, boleh saja.

Tapi sejauh ini agama Buddhis tidak termasuk agama yang cukup ekspansif. Tidak secara aktif melakukan upaya mencari pengikut, apalagi secara masif intensif dan besar-besaran di sepanjang waktu dan di segala tempat.

Latihan pikiran

Omong-omong, ngapain sih bermeditasi? Barangkali ada banyak definisi, tapi bagi saya meditasi ini merupakan salah satu exercise of the mind.

 Mungkin ada yang bertanya apakah orang yang bermeditasi lantas tidak bisa marah lagi, tidak bisa jahat lagi?

Barangkali pertanyaan itu setara dengan apakah orang yang berolahraga tidak bisa sakit lagi? Apakah orang yang beragama tidak bisa korupsi lagi?

Orang yang bermeditasi tetap bisa saja marah-marah. Orang yang berolahraga tetap saja bisa sakit. Tapi setidaknya ada upaya untuk meningkatkan kualitas sehingga relatif lebih tahan terhadap godaan untuk marah maupun sakit.

Seperti halnya orang yang berolahraga tetap manusia, demikian pula orang yang bermeditasi tetap juga manusia biasa. Kalau soal apakah orang beragama tidak bisa korupsi lagi, saya tidak tahu jawabannya.

Karena menurut berita-berita, ternyata yang korupsi juga beragama. Bahkan sebagian memiliki gelar keagamaan, bahkan konon menteri agama pun ada yang tersangkut perkara korupsi.

Jadi lebih baik saya tidak komentar soal apakah beragama dapat mencegah korupsi atau tidak.

Dalam angkatan retret meditasi kali ini ini, jumlah pesertanya 40 orang, 25 perempuan, 15 laki-laki.

Hampir 50% (17 orang) adalah orang asing.

Saya tidak tahu latar belakang agama mereka. Apalagi dengan orang asing, soal agama merupakan sesuatu yang janggal untuk ditanyakan.

Itu urusan pribadi. Dan saya juga tidak peduli.

Tapi yang jelas, ketika saya mendaftar masuk, kebetulan ada seorang ibu dengan puterinya, kedua-duanya non Buddhis.

Mungkin soal agama perlu ditanyakan kepada peserta lokal karena bagi rata-rata kebanyakan orang, masalah ini masih dianggap sensitif, termasuk misalnya menyangkut soal makan dan tuntutan ibadah.

Panitia mengatakan bahwa makanan pada umumnya termasuk halal, kalau ada yang menyumbang makanan mengandung babi, akan diberitahukan, sehingga yang Muslim tahu.

Demikian pula, panitia menyatakan bahwa yang Muslim dipersilakan tetap menjalankan ibadah mereka.

Kelak saya perhatikan bahwa ibu dan puterinya itu merupakan salah satu yang paling tekun meditasinya. Mereka bisa bermeditasi berjam-jam sesuai petunjuk dengan sangat tekun luar biasa.

Tak terganggu lainnya

Soal ketekunan menjalankan meditasi, ada seorang cewek, bernama Alexandra, yang begitu tekun dalam meditasinya. Kalau sudah tenggelam dalam meditasi, sudah tidak terganggu apa pun.

Bahkan ketika suatu kali dia sedang bermeditasi di bawah pohon, dan kemudian hujan deras, dia tetap bertahan bermeditasi dalam hujan. Ketika bermeditasi, wajahnya begitu tenang, seperti Bunda Maria.

Pikiran saya usil, lantas terlintas, “Wah kasihan sekali jadi cowoknya, kalau dia punya cowok”.

Pada saat cowoknya lagi terangsang, eh malah dia asyik bermeditasi atau berdoa Rosario. Mungkin lebih cocok jadi moeder overste di biara Trappistin atau Klaris saja ya? Atau jadi bhikuni?

Oh, Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus. Oh, Bunda Maria, Bunda Allah, doakanlah kami orang yang berdosa ini.

Secara umum memang para perempuan ini lebih tekun dalam bermeditasi. Hampir semuanya sangat tekun. Menurut saya pribadi, seharusnya memang agama-agama dipimpin oleh para perempuan, karena hanya merekalah yang jauh lebih tekun.

Sedangkan laki-laki lebih banyak suka mengatur-ngatur, banyak omong tentang apa yang seharusnya, tapi mereka sendiri tidak mau melakukannya, atau lebih banyak munafiknya.

Faktanya memang nyaris sebagian besar agama dibuat oleh dan demi kepentingan laki-laki, yang banyak mengatur-ngatur perempuan, dan kerap kali mendudukkan perempuan di posisi yang disubordinasikan.

Saya tidak tahu kenapa banyak perempuan mau beragama, karena hanya banyak diatur, banyak dimanfaatkan, disuruh tekun dan patuh, sementara haknya tidak dianggap setara.

Maka saya heran kalau perempuan tetap beragama.

Yang jelas, bila agama-agama dipimpin oleh perempuan, kemungkinan tidak akan pertikaian antar agama. Kalau ada di antara mereka yang tidak sepakat, paling banter hanya “jothakan” atau “neng-nengan”, gak sampai berantem apalagi bunuh-bunuhan.

Tak omong

Praktis sebenarnya selama 10 hari kami tidak saling mengenal satu sama lain, kecuali yang memang sedari awal sudah saling kenal.

Ada kok yang tampaknya mereka datang sebagai pasangan. Karena perkenalan yang singkat praktis hanya terjadi semasa pendaftaran saja.

Itu pun kedatangan berbeda-beda. Jadi mungkin hanya kenal satu dua. Ada yang datang cukup terlambat.

Menjelang pembukaan, ada kesempatan makan sore terakhir.

Setelah itu upacara pembukaan, dan resmi sejak itu diberlakukan “silentium magnum”, sama sekali tidak kontak dengan siapa pun.

Hanya berdiam diri. Kalau ketemu orang, tidak kontak mata juga. Apalagi kontak dengan alat komunikasi. Bicara hanya pada saat konsultasi dengan guru saja.

Baru bisa komunikasi lagi setelah penutupan. Maka praktis hanya mengenal teman-teman berdasarkan apa yang dilihat saja, itu pun tidak disarankan mengamati sampai detil, hanya sekilas melihat dari kejauhan.

Karena ketika meditasi disarankan untuk menatap ke bawah pada saat berjalan. Tentu saja saya sulit seperti itu, pasti mata saya ke sana ke mari.

Itulah sebabnya saya kurang lebih “mengenal” (dalam tanda kutip) mereka.

Teman sebangsal

Tentu yang paling mudah saya “kenali” adalah teman-teman sebangsal saya. Para peserta perempuan ditempatkan di kompleks untuk mereka.

Tampaknya mereka ditempatkan dalam kamar-kamar yang berisi satu atau paling banter empat orang. Tentu saja saya tidak tahu persis, karena memang dilarang untuk ke sana.

Sedangkan laki-laki ditempatkan di kompleks lain yang berjauhan. Beberapa teman ditempatkan di ‘kuti’ yang terdiri dari kamar-kamar, sehingga tampaknya satu kamar hanya berisi sekitar dua orang.

Sedangkan saya ditempatkan di sebuah bangsal dengan kapasitas cukup besar, tapi hanya ditempati tujuh orang.

Tiga orang bule. Sisanya orang Indonesia.

Yang bule bernama Andrew, Morgan, dan Sam. Pada saat makan sebelum acara dimulai, saya sempat kenalan dengan dia. Katanya kali ini merupakan yang kedua dia mengikuti retret meditasi, sebelumnya pada bulan April tahun ini.

Kelak setelah acara selesai, Andrew bercerita bahwa dia sudah tiga kali mengikuti. Sedangkan Sam baru pertama kali. Andrew ini berbadan tinggi besar sangat atletis, dengan otot-otot bisep dan trisep yang tampak kekar. Yang luar biasa, Andrew ini sangat kuat bermeditasi. Bisa berjam-jam duduk diam tanpa bergerak. Juga kalau meditasi jalan bisa begitu tenang.

Sedangkan Morgan, yang saya lihat sering bangun terlambat. Ketika dibangunkan pagi pukul 03.45 WITA, dia tarik selimut lagi meneruskan tidurnya. Habis makan pagi maupun siang, tidak pernah absen tidur, juga dalam waktu yang cukup lama.

Samuel juga cukup sering tidur.

Dua teman lain yang ada di kamar adalah Nicko dan Mike, orang Indonesia. Mereka datang bersama. Ada satu lagi di bangsal itu tidak tahu namanya, tapi dia tampak cukup semangat.

Dia sering meditasi di tempat tidur, selain juga tidur.

Tidur beramai-ramai dalam bangsal besar bagi saya sudah biasa, karena dulu saya pun pernah tinggal di asrama. Karena semua laki-laki, banyak juga usil dan nakalnya.

Misalnya, pagi-pagi sering yang bangun duluan menginspeksi siapa yang “tenda”-nya paling tinggi, karena normal anak laki-laki pada pagi hari “tongkatnya” menjadi tegak ke atas.

Selain itu juga saling usil mengganggu satu sama lain. Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi pada kesempatan saat ini, karena toh tidak saling kenal.

Tentu saja saya tidak tahu tentang para peserta perempuan. Paling yang saya tahu hanya apa yang tampak saja.

Ada dua orang bhikuni yang mengikuti retret ini. Satu sudah sepuh, dan yang satunya masih samanera (novis) tapi dari aliran lain, tampaknya dari Vajrayana, bila ditilik dari pakaian dan namanya ada Lobsang.

Sebagian peserta perempuan sudah cukup lanjut, tapi ada beberapa juga yang masih muda, dan cantik. Tentu saja dalam soal cantik. mata saya sangat awas. Ha… ha….

Salah satunya yang menarik perhatian, karena berbeda dari yang lain adalah bahwa dia ini selain cantik dan ramping serta seksi, juga sering memakai rok panjang, tapi belahannya di kanan kiri sangat tinggi.

Tentu pemandangan yang tidak boleh disia-siakan mengamati paha mulusnya.

Pada suatu siang hari yang panas, mungkin karena lelah, dia ini tidur di bale bengong, tentu saja karena roknya dengan belahan samping kanan kiri yang sampai ke atas, maka tersajilah pemandangan paha mulus.

Benar-benar sesuatu yang harus disyukuri.

Namun mungkin karena ada CCTV di mana-mana, pada malam harinya lantas keluar instruksi agar tidak tidur di tempat publik kalau kelelahan, disuruh tidur di kamar saja.

Waduh, jadi rugi dapat kesempatan pemandangan indah nih.

Oh ya, memang dalam pakaian ada aturan. Laki-laki mengenakan kain sarung atau kain. Kalau tidak bawa/punya, bisa pinjam dari penyelenggara.

Saya sendiri sih sudah sehari-harinya kalau di rumah pakai kain saja, maka dengan aturan ini saya merasa seperti “di rumah”.

Sudah jangan ditanyakan lagi apa maksudnya “seperti di rumah”. Demikian pula untuk para perempuan. Mereka disediakan kain, atau rok panjang, dan selendang.

Tapi praktiknya hanya beberapa ibu sepuh yang mengenakan selendang. Dan yang menyenangkan tentu saja ada yang pakai rok panjang dengan belahan sampai ke atas itu.

Saya tidak tahu para lelaki siapa saja yang tidur di ‘kuti’ sebelah. Tapi yang jelas ada dua orang yang sudah cukup sepuh. Kelak setelah acara berakhir, salah satu dari antaranya menyatakan bahwa sudah ikut retret meditasi ini 15 kali, sejak masih dipimpin oleh Bhante Giri, pendiri vihara ini. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here