Bertobat

0
243 views
Bertobat, ibu hamil dan ingin gugurkan kandungannya. (Ist)

Renungan Harian
16 September 2021
PW. St. Kornelius dan Siprianus

Bacaan I: 1Tim. 4: 12-16
Injil: Luk. 7: 36-50
 

“SUDAH
10 tahun kami mengarungi bahtera perkawinan. Kami sudah memiliki seorang anak laki-laki yang sehat dan ganteng. Anak kami bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Kami bahagia dengan tumbuh kembangnya. Setiap kali bertemu dengan teman atau kerabat pertanyaannya yang disampaikan ke kami selalu sama: “Kapan, si ganteng mendapat adik?.”

Biasanya kami hanya tersenyum. Sebenarnya tidak ada masalah kesehatan bagi kami berdua untuk memiliki anak lagi.

Tetapi kami sudah memutuskan tidak ingin menambah anak lagi agar perhatian kami tercurah untuk anak kami.

Ada alasan kuat bagi kami untuk tidak memiliki anak lagi.
 
Pada saat kami masih pacaran, karena kebodohan kami, maka saya hamil. Saat itu sungguh dunia ini seperti runtuh.

Saya belum siap untuk punya bayi, dan saya juga tidak mungkin saat ini harus mengurus bayi.

Maka saya bersama pacar saya yang sekarang menjadi suami saya sepakat untuk menggugurkan kandungan saya. 

Saya sudah mendatangi beberapa dukun untuk menggugurkan juga sudah minum beberapa ramuan, ternyata bayi ini bandel tidak juga mau keluar.

Akibatnya, perut saya semakin membesar dan ketahuan oleh orang tua kami. Maka kami segera dinikahkan.
 
Setelah pernikahan, kami amat khawatir dengan bayi dalam kandungan saya.

Saya khawatir bayi saya menjadi cacat lantaran ulah kami mau menggugurkan. Saat itu saya dan suami berjanji kalau bayi ini lahir apa pun keadaanya kami akan merawat dengan sepenuh hati.

Kami berharap kasih sayang yang kami curahkan kepada anak kami bisa menjadi silih atas perbuatan dosa yang pernah kami lakukan.

Maka seluruh perhatian dan kasih sayang kami, kami curahkan pada anak kami ini, sejak masih dalam kandungan hingga sekarang.

Itulah alasan kami untuk tidak mempunyai anak lagi,” sharing seorang ibu muda ditemani suaminya.
 
Pasangan suami isteri itu menyadari kesalahannya dan memperbaiki dengan mencurahkan kasih sayangnya pada anak yang awalnya hendak digugurkan.

Mereka berdua mencurahkan kasih sayangnya dengan berharap bisa menjadi silih atas segala kesalahan dan dosanya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”
 
Bagaimana dengan aku?

Dengan cara apa aku melakukan perbuatan silih atas dosa dan kesalahanku?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here