Bleba Broit, Persaudaraan Tanpa Batas di Reuni Para Imam, Suster, Bruder Nusa Tadon Adonara

0
214 views
Para imam suster dan bruder asal Adonara ikut acara reunian di Adonara bersama Uskup Keuskupan Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung. (Romo Yohanes Kopong MSF)

MISI perdamaian lahir dari cinta tulus akan kemanusiaan dan persatuan. Peradaban budaya yang menempatkan martabat manusia sebagai makhluk sosial dan manusia berbudaya sejatinya mengedepankan solidaritas, persatuan dan persaudaraan. Semua ini  menembus seluruh sekat ke-ego-an demi hidup dan tumbuh kembangnya perdamaian.

Ini berangkat dari gerakan nurani yang satu dan sama untuk berjalam di jalan yang satu dan sama yaitu perdamaian.

Semua ini lalu menggerakan para imam, biarwan dan biarawati seluruh Adonara-Keuskupan Larantuka di mana sajabpun berada untuk kembali ke Lewo Tanah (kampung halaman) Nusa Tadon Adonara.

Ini guna membumikan misi perdamaian dalam bentuk reuni akbar pertama para imam, biarawan, biarawati. Kegiatan ini berlangsung tanggal 6-9 Juli 2023 di Paroki Werenfreid Lamabunga, Dekenat Adonara, Keuskupan Larantuka, Flores Timur.

Reuni para imam, suster, dan bruder asal Adonara, NTT. (Romo Yohanes Kopong MSF)

Badai Seroja panggil “pulang” putera-puteri Adonara

Badai Seroja telah meluluh lantahkkan sebagian wilayah Adonara dan menewaskan puluhan anak Adonara.

Bencana ini terjadi di desa Nele Lamadike dan beberapa daerah lainnya tanggal 4 April 2021. Bencana ala mini lalu menjadi titik pijak awal bagi para putera dan puteri Adonara -para imam dan biarawan-biarawati yang berkarya di wilayah Keuskupan Larantuka- untuk pulang ke Nusa Tadon Adonara.

Ilustrasi: Projek Caritas Indonesia KWI untuk program rekolasi penduduk yang terimbas potensi bencana erupsi dan badai siklon seroja di Pulau Lembata. (Mathias Hariyadi)

Satu tekad

Mereka datang ke Adonara dalam satu gerakan misioner yang sama yaitu Gerakan Gelekat (solidaritas); berjalan bersama para korban atau para terdampak dan seluruh masyarakat Adonara.

Untuk bersama bahu-membahu menolong dan menguatkan seluruh anak Adonara agar kembali bangkit dan bergerak memulihkan dan membangun kembali wajah Adonara yang penuh sukacita dan perdamaian.

Berawal dari gerakan kemanusiaan para imam, biarawan dan biarawati se Nusa Tadon Adonara ini lahirlah sebuah pemikiran untuk keberlanjutan misi solidaritas dan perdamaian di seluruh wilayah Adonara.

Penyambutan Uskup Keuskupan Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung. (Romo Yohanes Kopong MSF)
Prosesi adat untuk menyamut [para peserta reunian para imam, suster, bruder asal Adonara, Flores. (Romo Kopong MSF)

Pertemuan para imam, biarawan dan biarawati bersama keluarga terus dilakukan dalam bentuk misa dan perayaan Natal maupun Paskah bersama di Adonara.

Komunikasi dan diskusi sesama anak Nusa Tadon Adonara baik melalui grup WA  para imam, biarawan dan biarawati Nusa Tadon serta pertemuan entah face to face maupun melalui zoom terus dihidupkan.

Sehingga pada akhirnya lahir sebuah ide atau gagasan besar untuk melaksanakan reuni akbar pertama dalam catatan sejarah Adonara pada tanggal 6-9 Juli 2023. Dengan tema “Persaudaraan Tanpa Batas. Merajut Kembali Perdamaian di Nusa Tadon Adonara.”

Bleba Broit

Tema reuni dirangkai dalam satu misi perdamaian yaitu “Bleba Broit.”

  • Bleba artinya kayu pemikul beban.
  • Broit yang berarti pendongkrak bleba agar beban yang dipikul tidak terasa berat sebelah.

Perjalanan cinta, awal rajutan persaudaraan

Pada tanggal 6 Julin2023 peserta reuni akbar yang berjumlah sekitar 40 lebih peserta (para imam, suster dan frater asal Adonara) berkumpul di Pastoran Paroki Kristus Raja Waiwerang. Selanjutnya melakukan konvoi menuju Paroki Werenfreid Lamabunga. Perjalanan menggunakan mobil dan sepeda motor selama kurang lebih 30 menit.

Para imam, suster dan frater mengenakan jubah sejak dari Waiwerang menuju Lamabunga sebagai gerakan promosi panggilan.

Tiba di gerbang menuju Paroki Lamabunga, ratusan umat Paroki Lamabunga yang berasal dari lima stasi melakukan ritual penjemputan bagi para peserta reuni. Dengan tutur adat penyambutan yang mewakili seluruh umat ParokiLamabunga, pengalungan selendang bagi perwakilan peserta reuni, pemotongan pita dan selanjutnya para peserta reuni diarak menuju Paroki Lamabunga dengan tarian perang yang dalam bahasa Adonara dikenal dengan tarian Hedung.

Tiba di halaman gereja Paroki Lamabunga para peserta reuni berisitirahat sejenak, selanjutnya memperkenalkan diri dan dibagi ke stasi-stasi untuk melaksanakan live in bersama umat di stasi dan komunitas basis.

Uskup Keuskupan Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung memberkati salib. Para suster, imam, dan bruder asal Adonara berdiri di depan altar di hadapan segenap umat Paroki Lamabunga, Dekenat Adonara, NTT.

Pada kesempatan ini Romo Willy Ola Lanan selaku ketua panitia reuni kembali mengingatkan para peserta reuni akan jadwal kegiatan reuni. Disampaikan sebelum para peserta beranjak menuju ke stasi-stasi, tempat para peserta reuni melakukan live in.

Pada malam hari, puluk 19.00 WITA, para peserta reuni kembali ke Paroki Lamabunga untuk melakukan syering bersama di antara para peserta reuni. Poin penting dari syering ini adalah peneguhan dan penguatan sebagai sesama kaum berjubah. Untuk tetap setia melayani dalam ketaatan, sukacita dan komunikasi iman serta budaya bersama umat dan pastor paroki.

Syering bersama ditutup dengan santap malam bersama dan selanjutnya para peserta reuni kembali ke tempat penginapan masing-masing.

Lokakarya Bleba Broit

Pada hari Jumat 7 Juli 2023, misi merajut persaudaraan dan perdamaian di Nusa Tadon Adonara dimulai dengan lokakarya Bleba Broit.

Lokakarya dihadiri sekitar 148 peserta yang terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, unsur pemerintah, para guru, para ibu, TNI-Polri dan Orang Muda Katolik secara resmi dibuka oleh ketua kelompok para imam, biarawan/biarawati: Romo Willy Ola Baga.

Dalam sambutan pembuka acara lokakarya, Romo Willy mengajak peserta lokakarya untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi-diskusi kelompok dan menjadikan lokakarya ini sebagai pijakan kokoh kuay membumikan semangat misioner “Bleba Broit.”

Romo Ancis Kwaelaga yang menjadi pemantik diskusi menjelaskan makna dan tujuan dari lokakarya serta makna Bleba Broit sebagai jalan membangun perdamaian di Nusa Tadon Adonara.

Lokakarya Bleba Broit dengan para peserta reunian para imam, suster, dan bruder asal Adonaraq bersama umat Paroki Lamabunga. (Romo Yohanes Kopong MSF)

Lebih lanjut, Romo Ancis menegaskan bahwa yang menjadi narasumber adalah para peserta sendiri dan hasil dari diskusi ini akan melahirkan sebuah komitmen bersama untuk menjadi agen perdamaian “Bleba Broit.”

Para peserta lokakarya dibagi kedalam empat kelompok dan hasil dari diskusi tersebut dirangkai dalam sebuah komitmen perdamaian  yang isinya sebagai berikut:

“Kami para imam, biarawan, biarawati mulai saat ini berjalan bersama masyarakat/umat, tokoh pemerintah dan tokoh adat, tokoh masyarakat (tiga tungku), kaum perempuan dan anak-anak serta orang muda apa pun agama dan kepercayaan di jalan dan tujuan yaitu perdamaian.”

Komitmen perdamaian sebagai buah yang lahir dari lokakarya “Bleba Broit” kemudian dibacakan pada akhir lokakarya yang kemudian ditandatangani oleh Romo Deken Adonara: Romo Lazarus Laga Koten, Romo Agustinus Doni Tupen MSF (mewakili peserta reuni) dan Bapak Simon Seli Eko (mewakili peserta Lokakarya).

Hasil lokakarya berupa komitmen perdamaian bersama juga diserahkan kepada Yang Mulia Mgr. Fransiskus Kopong Kung selaku Uskup Keuskupan Larantuka.

Lokakarya ditutup dengan tarian sole oha dan dolo; tarian persaudaraan khas Adonara bersama peserta lokakarya dan peserta reuni.

Temu Sekami, Sekar dan OMK

Gaung “Bleba Broit” terus bergema hingga ke ruang-ruang kehidupan umat beriman. Pada kesempatan ini anak-anak Sekami, remaja (Sekar) dan OMK menjadi subjek penyebaran semangat misioner “Bleba Broit.”

Sabtu, 8 Juli 2023 para peserta reuni akbar melakukan pertemuan kebersamaan dan katekese bersama anak-anak Sekami, Sekar dan OMK.

Kesempatan temu iman ini juga dimanfaatkan oleh para imam, suster dan frater untuk melakukan promosi panggilan berupa syering panggilan dan memperkenalkan tarekat masing-masing.

Dimsamping itu kesempatan ini menjadi peneguhan dan penguatan bagi anak-anak Sekami, Sekar dan OMK untuk menempuh pendidikan yang maksimal agar mampu menjadi agen perdamaian atau agen “Bleba Broit” di Bumi Nusa Tadon Adonara.

Seluruh rangkaian kegiatan pada hari ini ditutup dengan pertandingan sepak bola persaudaraan antara para imam dan frater FC vs. umat di lapangan Mangaaleng. Lomba dimenangkan oleh para imam dan frater 5-2 melalui drama adu penalti.

Pergilah, kita diutus

Puncak dari kegiatan reuni akbar para imam, biarawan dan biarawati Nusa Tadon Adonara disatukan dalam perayaan syukur Ekaristi kudus yang dipimpin langsung oleh Mgr. Fransiskus Kopong Kung.

Ekaristi menjadi puncak sekaligus penguatan dan pengutusan bagi seluruh umat Allah Nusa Tadon Adonara. Untuk berjalan bersama dalam satu semangat yang sama yaitu semangat “Bleba Broit”: semangat dan misi Perdamaian.

Kedatangan Bapak Uskup bersama rombongan dijemput oleh para peserta reuni bersama umat Paroki Lamabunga di depan gapura dan diiringi dengan tarian hedung oleh anak-anak remaja.

Dalam kotbahnya, Bapak Uskup mengajak para imam, biarawan dan biarawati serta umat beriman seluruh Adonara untuk bergandengan tangan memikul misi bersama yaitu misi perdamaian dan solidaritas.

Lebih lanjut Bapak Uskup mengajak semua masyarakat Adonara untuk belajar pada Yesus yaitu kerendahan hati dan kelemahlembutan dalam arti menjadi orang Adonara yang cinta damai.

Salib Bleba Broit.

Salib Bleba Broit

Dalam perayaan Ekaristi ini juga dilakukan pemberkatan salib damai yang lahir dari refleksi dan komitmen lokakarya “Bleba Broit” oleh Mgr. Kopong Kung.

Salib “Bleba Broit” dengan latar tombak, parang, perisai dan corpus.

Setelah misa dilaksanakan ramah tamah halaman Gereja St. Werenfreid Lamabunga. Didahului sambutan-sambutan dari Pastor paroki Lamabunga Romo Willem Atawolo.

Ia mengungkapkan rasa bangga karena reuni akbar pertama dalam sejarah Adonara dilaksanakan di Paroki Lamabunga. Romo Willem selaku pastor Paroki Lamabunga menegaskan kembali komitmen “Bleba Broit” untuk dihidupkan di seluruh wilayah paroki Lamabunga.

Romo Agustinus Doni Tupen MSF yang mewakili suara peserta reuni akbar mengucapkan limpah terimakasih kepada semua pihak terutama kepada pastor paroki, DPP Lamabunga selaku panitia lokal.

Mereka telah bekerja keras dan menerima kami sehingga kegiatan reuni bisa berjalan dengan baik dan sukses.

Ucapan terimakasih juga untuk Bapak Uskup Larantuka, seluruh umat Allah dan saudara-saudari umat Muslim yang ikut terlibat dalam seluruh kegiatan reuni akbar.

Bapak Uskup Keuskupan Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung dalam sambutannya menegaskan kepada kami semua untuk saatnya menjadikan Yesus sebagai pusat dalam menyelesaikan setiap persoalan dan permasalahan di Adonara agar kedamaai sungguh-sungguh hadir dan hidup di Adonara.

Penandatanganan komitmen untuk merawat Adonara. (Romo Yohanes Kopong MSF)

Menjadikan Yesus sebagai pusat hidup

Saatnya untuk meletakkan tombak, parang dan perisai di belakang dan menjadikan Yesus di depan dalam menyelesaikan persoalan.

Hati seluruh masyarakat Adonara menjadi tempat Yesus bersemayam sehingga kedamaian menjadi semangat persaudaraan tanpa batas seluruh masyarakat Nusa Tadon Adonara.

Demikian penegaskan Uskup Mgr. Kopong Kung.

Seluruh acara kebersamaan ditutup dengan perkenalan dari para imam, biarawan, biarawati asal Adonara, makan siang dan acara persaudaraan berupa sole oha, dolo dan tarian.

Sayonara, sampai jumpa di reuni berikutnya. Pergilah, kita diutus untuk mewartakan spirit “Bleba Broit”, semangat perdamaian dan persaudaraan tanpa batas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here