Blekoncert, Musik Perkusi Khas Anak-anak SD Kanisius Kenalan

0
150 views

Belasan anak tampak ceria memukuli beragam jenis barang bekas dengan ritmis sigrak memecah keheningan malam di pedesaan. Jauh dari kesan mewah, mereka yang mengenakan pakaian keseharian anak desa tampil di sudut sempit halaman sekolah yang dijadikan panggung musik. Temaram cahaya tidak mengurangi semangat para penampil. Para penonton betah menyimak hingga pertunjukan berakhir.

Itulah konser Blekothek, tepatnya tontonan musik perkusi oleh anak-anak SD Kanisius Kenalan pada Jumat, 30 Desember 2022 lalu sebagai puncak kegiatan pembelajaran semester I tahun pelajaran 2022/2023. Konser ini hanya menampilkan lima komposisi perkusi yang dirangkai dengan cerita khas anak-anak Blekothek.

Konser musik dengan alat musik seadanya ala anak-anak SD Kanisius Kenalan Magelang. Foto-foto : Maryono/Sesawi.Net

Sinopsis
Lanjar dan Cabe Cebol ikut merasakan bagaimana keluh kesah dari Tombok, Lemi, dan Tomblok yang mengungkapkan bahwa harga tomat dan lombok semakin mahal di pasaran. Oleh karenanya Lanjar dan Cabe Cebol memiliki ide untuk menanam sendiri kedua bahan sayuran tersebut bersama dengan kawan-kawannya.

Dalam proses merawat tanaman sayuran tersebut, Lanjar dan Cabe Cebol dibantu oleh Bathok Mengkurep, Gundhul, dan Ganclong. Mereka bekerja sama dalam melakukan pekerjaan, membagi tugas menyiram, memupuk dan membersihkan setiap tanaman.

Tibalah waktu mereka memanen hasil dari tanaman mereka. Lanjar marah. Bathok Mengkurep, Gundhul, dan Ganclong yang selama ini membantu proses perawatan, malah mencoba mencuri ingin memiliki sendiri semua hasil panenan tersebut. Cerita ini ditutup dengan pesan bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik membutuhkan proses yang sungguh-sungguh.

Komunitas Blekothek
Bermain, dunia nyata bagi setiap anak di mana dan kapanpun. Di sekolah, aktivitas itu tidak bisa diabaikan. Di situlah nalar dan kreativitasnya berkembang. Harus dipahami, bila anak “membunyikan” meja atau kursi untuk melepas kejenuhan belajar, ia sedang mengekspresikan satu dari kecerdasannya, musikal. Maka, supaya potensi musikal itu tidak berkembang menjadi naluri merusak (meja) perlu disediakan ruang ekspresi bermain musik.

Keinginan anak Republik Anak Kenalan (RAK) untuk bermain musik diwadahi dalam kegiatan Blekothek. Blekothek ini memanfaatkan barang bekas; kaleng, botol plastik/pecah, perkakas rumah tangga yang tidak berfungsi lagi, alat pertanian, kayu, bambu. “Sampah-sampah” itu diambil dan dikelompokkan menurut karakteristik bunyinya. Maka, nama Blekothek diambil sesuai dengan bahan yang dipakainya, bleg (kaleng) dan kothek=klothekan (bambu/kayu).

Blekothek sebagai kegiatan yang makin diminati anak-anak memberikan makna yang lebih dalam. Blekothek merupakan akronim dari biar jelek, otak harus melek. Ungkapan ini mengandung makna, meskipun kami anak desa yang buluk dan tidak mempunyai “apa-apa’, toh kami mampu mengasah otak untuk berkreasi/mencipta yang tidak berguna menjadi bernilai guna.

Blekothek mulai dikemas sebagai model seni ekspresi, yang menjadi irisan dari kegiatan Geladi Wicara, Estetika, Menulis, Seni tradisi, dan Permainan. Ia menjadi semacam muara dari kegiatan kegiatan yang sudah berlangsung di sekolah.

Lewat seni Blekothek ini, diharapkan anak mampu mengekspresikan kenakalan, ke-jenaka-an, kecerdasan, keterampilan, keberanian, dan ketulusannya. Kemudian, berkembang jiwa merdeka mendasari karakternya.

Proses belajar melalui Blekothek diawali dari 1) Eksplorasi; ide dan alat 2) Bermain musik (thuthukan), Perencanaan; pembagian peran (dhapukan), penyusunan naskah, latihan 3) Aksi; pentas dan 4) Evaluasi/Refleksi. Anak sebagai subjek selalu berperan aktif dalam setiap langkah proses.

Seni Blekothek selalu mewarnai kegiatan – kegiatan insidental sekolah yang dikoordinir oleh RAK. Dan, menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak Blekothek ketika mendapatkan kesempatan untuk tampil di luar negeri RAK. Komunitas ini sering tampil di kegiatan gereja dan masyarakat Kenalan dan sekitarnya. Hingga berkesempatan diliput media elektronik dan cetak. Lebih dari 10 tahun, Blekothek mengalami lika-liku lekuk perjalanan berkomunitas.

Blekoncert 2022
Blekoncert, sebagai kemasan pembelajaran kontekstual ala Kenalan mengusung semangat Melek, Mrantasi, dan Moncer. Diawali dengan “melek”, terbuka hati dan pikirannya untuk menerima segala bentuk pengetahuan, anak diharapkan “mrantasi” yaitu memiliki kemampuan untuk menangani hal-hal yang ia alami dalam hidup, dan dari kemampuan itu menjadikan anak “moncer”.

Blekoncert 2022 ini mengangkat tema “TomBok Ora Bosok”. Tombok dalam konteks yang sebenarnya merupakan singkatan dari “tomat lombok”. Tomat dan lombok menjadi materi dan sumber pembelajaran bagi siswa SD Kanisius Kenalan dari kelas I sampai kelas VI selama satu semester ini. Anak-anak diajak mengalami berbagai proses yang ada mulai dari menanam, merawat, mengamati hingga memanen hasilnya.

Makna yang lain, Tombok berarti menambahkan karena belum cukup. Tombok merupakan tindakan konkret dari keutamaan hidup berjuang dengan pengorbanan agar tercukupi/tercapai apa yang diharapkan. Pengorbanan harus dilandasi dengan sikap tulus ikhlas. Maka, tombok tidak akan membuat rugi, sebaliknya menguatkan kehidupan.

Blekoncert yang baru digelar pertama kalinya ini juga menyajikan berbagai hasil karya anak yang dikemas dalam pameran. Hasil kerajinan itu berupa batik, poster, gambar, dan hasil karya lainnya yang dibuat oleh anak. Arini, Presiden Republik Anak Kenalan, menyerahkkan uba rampe jenang Breng-Breng kepada Dista Koordinator Blekothek untuk menandai diselenggarakannya Konser Blekothek dan pameran kecil itu.

Blekoncert 2022 pada malam itu menambah pengalaman dan semangat SD Kanisius Kenalan yang memasuki usia 93 tahun pada Januari 2023. Semoga energi positif ini menjadi daya bagi anak-anak untuk mampu melanjutkan gelaran berikutnya tahun 2023. Sampai ketemu pada Blekoncert 2023 yang pasti lebih mrantasi. (Yosef Onesimus Maryono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here