Bosan Hidup Lantaran Lakukan Banyak Kejahatan, Kini Bertobat Jadi Katolik

0
159 views
Ilustrasi -- Bertobat tinggalkan masa lalu yang kelam (Ist)

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Sabtu,15 Januari 2022.

Tema: Menjadi sesuatu yang berarti.

Bacaan

  • 1 Sam. 9: 1-4, 17-19, 10: 1a.
  • Mrk. 2: 13-17.

IMAN itu sesuatu yang pribadi. Dan itu mempribadikan seseorang. Bagaimana pun juga cara beragama dapat mewarnai dan menentukan sikap pribadi terhadap hidup.

Diharapkan hidup dalam kedamaian yang memperluas persaudaraan sebagai sesama menuju Yang Maha Tinggi.

Di luar itu mungkin akan lebih banyak menghambat kehidupan.

Manusia adalah pribadi yang terbuka sekaligus terluka. Ia sanggup menerima begitu banyak kebaikan, tetapi juga diberi kemampuan untuk hidup lebih baik.

Kadang gagal. Itulah manusia.

“Romo ada saudara saya ingin ikut Tuhan. Bagaimana caranya ya?”

“Ya, percaya saja.”

“Ia sedang belajar percaya. Ia memilih seiman dengan kita. Adik saya itu masih membangun keyakinan pribadi dari keterpurukan sebelumnya.”

“Datanglah kemari dan berbicara sejenak.”

“Kalau sendiri pasti tidak mau. Dia selalu merasa berdosa; tidak pantas masuk dalam lingkup Gereja. Ia mengalami masa-masa kelam.

Ia sendiri dan menyendiri. Tidak mau ketemu orang lain. Ia hanya bekerja dengan beberapa orang. Ia sulit percaya.”

Saat pertemuan tiba.

Selama pembicaraan dia tidak pernah memandang wajah saya. Tertunduk dan tidak menatap.

Berkali-kali saudaranya meminta untuk menatap wajah romo supaya kenal. Ia diam saja.

“Saya senang dan bangga denganmu. Tangguh dalam hidup. Kalau saya, mungkin sudah terkulai.”

Begitu awal pembicaraanku padanya.

“Mentalmu kuat. Walau sendiri bergulat. Dan akhirnya engkau menemukan siapa yang dapat kau percaya. Tidak gampang loh. Engkau telah memutuskan yang tersulit di dalam hidup: Percaya dan berserah.

Engkau tertimpa dalam pengalaman dan engkau berusaha mencari kebenaran.

Apa yang membuat kamu ingin percaya dan hidup dalam lingkup iman Gereja?”

“Saya sudah bosan hidup romo,” jawabnya.

Kepalanya sedikit terangkat. Namun tidak tidak berani memandang.

“Lalu?”

“Hidup masa lalu saya gelap dan kelam. Saya sudah melakukan banyak hal bahkan yang terjelek sekalipun. Saya hidup dalam dunia malam. Saya ikut dalam kekerasan.

Saya tidak takut siapa pun. Masuk keluar penjara sudah biasa. Saya belajar, tak ada gunanya hidup dalam kekerasan. Buang-buang waktu. Hidup saya saya tidak membuahkan apa-apa. Saya membuang masa muda saya sia-sia.”

“Waduh hebat sekali pengalamanmu. Kenapa engkau bisa berbalik?”

Suatu saat, saya sakit. Hampir mati. Memang keluarga merawat. Saya malu sendiri. Saya sudah mencemarkan nama keluarga. Bahkan membuat ibu saya menangis. Saya bergeming dan melanjutkan kehidupan fana saya.

Saya bermimpi. Saya dituntun oleh seorang tua. Ia memperlakukan saya dengan baik. Ketika saya terjatuh, Dia menggendong saya dan berkata, ‘Tidak apa-apa. Ayo jalan lagi. Jangan takut. Perjalananmu masih jauh.’

Saya melihat diri saya sebagai anak kecil. Tidak tahu apa-apa. Dan tidak tahu mau ke mana. Tapi sok tahu dan sok benar.

Ayo berjalanlah sendiri. Di depan nanti ada perempatan. Kita harus belok kanan. Kalau nanti lelah dan tidak kuat berjalan, Aku menggendongmu lagi.

Saya merasa aman dan nyaman dalam gendongannya. Bersama Dia, saya bisa melihat begitu banyak hal yang baik dan indah. Dengan Dia saya bisa merasa gembira, diteguhkan. Bebanku diringankan.

Tiba-tiba orang tua itu menurunkan saya dan berkata, ‘Kamu jalan terus ya. Jangan berhenti. Jangan lihat kiri dan kanan. Teruslah saja. Di depan itulah rumahmu. Aku akan mengikutimu dari belakang. jangan takut teruslah berjalan.”

Itu Romo mimpi saya. Saya dituntun pulang. Saya dibantu mengambil keputusan. Berani bersikap dan percaya.”

“Sangat mengesan, jelas, penuh rahmat.” kataku sambil menepuk bahunya.

Ia pun menangis.

Sabda Tuhan, “Ikutlah Aku.”

Tuhan, penuhilah kerinduanku dengan pengampunan-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here