Bu Tejo

0
263 views
Ilustrasi: Film Tilik (Ist)

Puncta 20.06.22
Senin Biasa XII
Matius 7: 1-5

FILM pendek berjudul Tilik pernah heboh beberapa tahun lalu. Tokoh film itu adalah Bu Tejo.

Tilik adalah cerita ibu-ibu dari kampung yang mau bezoek Bu Lurah yang sedang opname di rumah sakit.

Dalam perjalanan mereka “ngegosipin” Dian.

Bu Tejo suka sekali ngegosip, membicarakan dan suka menghakimi orang lain. Dian gadis kembang desa dituduh dan difitnah jadi cewek murahan yang suka ganggu suami orang.

Bu Tejo pandai sekali mereka-reka cerita yang menjelek-jelekkan orang lain.

Aku wis tahu lho mergoki Dian ki muntah-muntah. Mesti Dian lagi meteng. Karo sapa ya? (Aku pernah memergoki Dian muntah-muntah. Pasti dia sedang hamil, kira-kira dengan siapa ya?),” kata Bu Tejo membuat telinga panas.

Bu Ning menyahut, “Eh bu Tejo. Sing diomongke kait mau kok mung Dian wae. Aja gawe fitnah lho. (Bu Tejo itu sejak tadi hanya membicarakan Dian saja. Jangan bikin fitnah lho).”

Bu Sam menambahkan, “Iya lho bu, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”

Dengan sombongnya Bu Tejo bilang, “Dadi wong ki mbok sing solutif ngono lho. (Jadi orang itu yang pinter nyelesaiin masalah gitu lho).”

Ada banyak orang punya karakter seperti Bu Tejo. Mungkin model seperti dia ada juga menjadi sifat kita.

Suka melihat dan membicarakan kejelekan orang lain. Memfitnah dan mengadili orang di depan publik.

Lebih mudah mencari kesalahan orang lain daripada melihat kekurangan diri sendiri.

Banyak orang merasa hebat jadi pahlawan jika bisa memberi info melalui internet. Tidak menyaring benar tidaknya info itu.

Tetapi merasa hebat kalau bisa memberitakan yang pertama.

Yesus mengkritik gaya hidup seperti itu. Yesus berkata; “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

Kecenderungan kita adalah melihat kejelekan orang. Tidak mau melihat kejelekannya sendiri.

Yesus mengingatkan kepada kita semua, “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan itu dari matamu.”

Mari kita bercermin pada diri kita, apakah kita sering bertindak seperti Bu Tejo yang suka menyombongkan diri dan menjelekkan orang lain?

Menggoyang panggung perhelatan,
Para tamu berjoget sahut-sahutan.
Sombong menjauhkan persahabatan,
Jujur akan mendatangkan banyak teman.

Cawas, jangan sombong diri…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here