Budaya Kehidupan: Mana Opsi Terbaik, Ikut Misa atau Selamatkan Korban Tabrak Lari?

0
120 views
Ilustrasi - Memilih. (Ist)

ADALAH seorang yang saleh dalam mengambil keputusan dan perbuatan. Ia adalah seorang pemuda yang rajin ke gereja.

Setiap hari dan sebelum menjalani rutinitas harian sebagai mahasiswa di sebuah universitas ternama di Jayapura, ia menghabiskan 30-40 menit di gereja. Untuk ikut misa harian.

Baginya, hidup menjadi hampa tatkala tidak mengikuti Perayaan Ekaristi harian dan apalagi sampai absen menghadiri misa hari Minggu. Ia berusaha sedapat mungkin untuk mempraktikkan apa yang ia petik dari kotbah imam.

Ikut misa harian

“Saya akan berusaha menerjemahkan kotbah pastor, walaupun tidak sempurna dalam perwujudannya” kata dia suatu sore Sabtu.

Esoknya, hari Minggu ia sudah bangun tidur sejak waktu dini hari sekitaran pukul 04.00 WIT. Untuk mulai belajar, membersihkan halaman rumah kos, masak dan mencuci, kemudian makan. Sebelum beranjak pergi ke gereja, ia sudah terlebih dahulu merefleksikan bacaan pada hari itu di rumah.

Ia mandi dan mulai pukul 07.00 pagi  WIT, ia berangkat ke gereja, karena misa dimulai tepat pukul 07.30 pagi. Jarak dari rumah ke gereja hanya berkisar 200 meter saja. Ia selalu berusaha masuk gereja lebih dahulu.

Biasanya, sebelum mulai misa, 15 menit sebelumnya ia sudah ada di dalam gereja. Ia biasa menghabiskan waktu 15 menit untuk doa pribadi dan mempersiapkan diri untuk ikut misa.

Ilustrasi: Menghadiri Perayaan Ekaristi.

Biasanya, sebelum mulai misa, 15 menit sebelumnya ia sudah ada di dalam gereja. Ia biasa menghabiskan waktu 15 menit untuk doa pribadi dan mempersiapkan diri untuk ikut mis

Biasanya, sebelum mulai misa, 15 menit sebelumnya ia sudah ada di dalam gereja. Ia biasa menghabiskan waktu 15 menit untuk doa pribadi dan mempersiapkan diri untuk ikut misa.

Di hari Minggu itu, ia mendadak tak bisa pergi ke gereja sehingga jadi absen ikut misa.

Korban tabrak lari

Dalam perjalanannya ke gereja, ketika hendak menyeberang jalan di depan gereja, ada seorang dari arah timur dengan laju cepat sepeda motor itu menabrak seorang di depan gereja.

Ada beberapa orang di sekitar situ, tetapi tak ada orang yang mau membantu orang yang tergeletak di tanah dan pengemudi sang penabrak itu sudah melarikan diri.

Orang-orang di sekitar situ yang hendak ke gereja itu pun tak peduli, seakan-akan tak terjadi apa-apa di situ.

Sementara korban tabrakan lari itu sudah tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Tangan dan kaki si korban mengeluarkan darah segar.

Ketika semua orang tak peduli dengan korban tabrak lari itu, ia mengingat kembali homili imam Minggu lalu mengenai Hari Sabat.

“Keselamatan manusia adalah hukum tertinggi, maka semua praktik budaya maupun tradisi ritus mesti membantu manusia mencapai keselamatan itu sendiri.”

Ilustrasi – Kecelakaan tertabrak motor

Mewujudkan iman dalam bentuk perbuatan baik

Inilah sepintas pesan homili pastor yang dia ingat sampai saat itu. Setelah mengingat kembali pesan kotbah Minggu lalu, ia kemudian bergegas maju dan membantu korban tabrak lari dan kemudian membawanya ke rumah sakit.

Ia tak peduli ikut gereja atau tidak. Karena baginya, berbuat baik adalah wujud “sembahyang” lebih mulia. Dan Tuhan tahu itu.

Hari Minggu itu, ia  memang sampai tidak ikut misa. Karena ia masih menjaga korban tabrak lari di rumah sakit hingga yang bersangkutan sampai kembali sadar.

Si pemuda itu merasa sangat senang, karena pada hari itu ia bisa membantu dan menyelamatkan seorang nenek, korban tabrak lari itu. Walaupun ia tak ikut misa. Juga karena bajunya berubah warna karena darah, dan harus menahan lapar di rumah sakit.

Ilustrasi: Antara kata dan perbuatan harus sinkron. (Ist)

Menarik kesimpulan

Cerita di atas dengan baik bisa mencerminkan berikut ini. Yakni, bagaimana kita mesti mengutamakan kebiasaan atau budaya hidup. Tak peduli dari siapa, oleh siapa, dana untuk siapa budaya itu diadakan.

Manusia menang menciptakan budaya atau tradisi, tetapi sering kali malah bisa menjadi budak budayanya itu sendiri.

Banya orang sampai tega membiarkan orang lain menderita bahkan meninggal dunia. Hanya karena memilih taat dan menghargai budaya atas tradisi ritus.

Seorang pemuda dalam cerita di atas mengajari kita tentang hal ini. Yakni, selalu mengutamakan keselamatan manusia. Bukan ritus budaya atau bahkan ritual agama sekalipun.

Penulis bersama teman-teman kuliah di Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Fransiskus Assisi Semarang. Kami berfoto di depan Rumah Studi OSF Semarang. (Dok. Sr.M. Mitchaella Dogomo OSF)
Bersama teman-teman kuliah di Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Fransiskus Assisi Semarang. ((Dok. Sr. M. Mitchaella Dogomo OSF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here