Bunda Maria Guadalupe, Bunda Para Ibu

0
2,334 views

Tujuh tahun lalu, inilah isi pengalamanku. Saya merasakan ‘pengalaman kehadiran’ seorang Ibu yang bernama Maria, Bunda Tuhan. Layakn ya seorang anak berjumpa dengan ibunya, apa saja saya ungkapkan di hadapan Ibu. Tak ada batas atau jarak. Kehadiran saya kedua kalinya di Guadalupe membuat saya melambung lebih tinggi lagi. Kini, saya merasakan kehadiran seorang Ibu Dari Semua Ibu.

Di dalam lubuk hati terdalam, seorang ibu membisikkan sesuatu kepada saya. Katanya, “Kenapa kamu cemas, gelisah? Lihat, bukankah aku ibumu? Aku di sini, jangan khawatir!”

Kata-kata Ibu Maria ini pernah disampaikan kepada Juan Diego, si visioner ketika dia bergegas hendak menjumpai pamannya yang tengah sakit bernama Juan Bernardino dan sebenarnya ingin menghindari perjumpaan dengan Ibu Maria. Dengan kata-katanya, Ibu Maria hendak mengingatkan kita –manusia modern yang sering hanyut dalam suasana kecemasan tanpa alasan. Seakan kita ini sudah lupa bahwa kita mempunyai seorang Ibu yang siap membantu dan menolong kita, bahkan Ibu Maria selalu siap menjumpai kita, kapan saja.

Terlepas dari begitu banyak arti kata “Guadalupe”, yang pasti kata itu berasal dari bahasa asli Tequantlaxopeuh (Baca: Tehuantlazupeh) yang mempunyai makna “Ibu dari Semua Ibu”.

“Kenapa kamu cemas, gelisah? Lihat, bukankah aku ibumu? Aku di sini, jangan khawatir!”

Mengingat Guadalupe berarti kita mengingat seorang Ibu yang menjadi ibu dari semua ibu. Dan “Ibu dari para ibu” ini tak lain adalah Maria.

Apa artinya menjadi seorang Ibu? Dia melahirkan anak-anak. Yang mengerang kesakitan, namun dengan cepat erangan itu berubah menjadi kebahagiaan penuh ketika ia mendengar tangisan pertama dari sang anak. Dari rahimnya, sang anak “hadir” ke alam nyata dan menghirup udara kehidupan dunia ini.

Seorang Ibu biasa memberi dan berbagi. Ia rela menderita dan susah, asal anaknya mendapat jalan terang dan kebahagiaan. Tanpa pamrih ia memberi cinta kepada anak-anaknya. Bunda Maria tak lain juga seperti kaum ibu pada umumnya. Ia begitu bahagia, ketika anak-anaknya bersedia kembali ke pangkuannya di saat-saat susah dan senang. Datang menghirup nafas dan semangat baru di tengah hiruk-pikuknya kehidupan.

Demikian pun anak-anak Mexico ingin selalu berada dekat dengan ibunya yang selalu bisa memberi ketenangan dan kenyamanan. Inilah tipikal seorang ibu yang menerima apa saja yang mereka sampaikan dan percaya begitu saja (layaknya sesuatu yang alamiah) bahwa ibu mereka akan melakukan yang terbaik untuk mereka.

Tanda-tanda kehadiran Bunda Maria di sini begitu mudah kita temukan. Banyaknya para peziarah yang datang ke tempat ini telah menjadikan para peziarah lain dibuat tercengang. Mereka mengungkapkan bakti hormat mereka kepada Bunda Maria dengan berbagai cara. Hari Minggu itu, serombongan warga Katolik Mexico tampak begitu antusias memasuki komplek suci Guadalupe. Mereka membawa terompet, spanduk, gambar dan patung Bunda Maria, bunga dalam sebuah pesta arak-arakan dan misa yang diselenggarakan setiap jam. Semua kegiatan dan kehadiran dari peziarah mau sungguh membuktikan bahwa Bunda Maria sungguh-sungguh hadir di sini.

13 Agustus 2008, pagi-pagi buta, kami harus segera meninggalkan Mexico untuk destinasi lain. Karena itu, sebelum meninggalkan Mexico City, saya bersama beberapa temen peziarah nekad naik taksi kembali menengok Basilika Guadalupe. Pengalaman saya : di tempat mana pun di Mexico City ini, saya merasakan bisa berdoa dengan khusuk, merasakan kehadiran Bunda Maria dan Sang Bunda dari Semua Para Ibu ini juga hadir di hadapan saya.

Benarlah demikian, karena begitu memasuki kompleks Guadalupe, perasaan bahagia dan teduh langsung menyergap perasaan saya. Sesudah menyelesaikan butir-butir rosario dalam doa hening pribadi dan mendoakan semuanya saja, saya pun lalu pamit kepada Sang Ibu. Waktu sudah mendekati pukul 21.00, saatnya kompleks Guadalupe harus ditutup. Dengan membungkuk dalam-dalam di hadapan ‘gambar’ kehadiran Bunda Maria, saya mengungkapkan segenap cinta, hormat, pengabdian dan kesetiaan.

Dengan penuh syukur doa pun terucap:

Kepadamu Bunda

Kupasrahkan segenap hati dan budi

Segenap rasa dan kerinduan

Untuk selalu mohon perlindungan dan pertolonganmu

Di saat susah dan sedih

Di saat duka dan derita

Ketika tak berdaya dan putus asa

Engkaulah Bunda yang selalu mengerti

Bunda yang selalu mau mendengarkan

Rengkuhlah aku dalam kasihmu

Karena engkaulah Bunda dari semua bunda

Panggilah aku kembali suatu saat

Di tempat kudusmu ini.

Amin


Fransiscus Asmi Arijanto, Indonesian Tour Leaders Association (ITLA), Vice Chairman Organization 2009-2013, Membership # 0902-0003.

Picture: ourladyforlife.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here