“Bus 657”, Demi Anak Harus Merampok

0
1,797 views

DI Barat, titel resminya adalah Heist, sementara di Indonesia –mungkin karena kurang ‘bunyi’—judulnya berubah menjadi Bus 657. Kisahnya tak beralih banyak dari judulnya, yakni tentang bus komuter bernomor punggung 657 yang melaju menjelang dini hari dan kemudian dibajak kawanan perampok kasino.

Kalau harus dibandingkan dengan Speed dengan bintang Sandra Bullock dan Keanu Reeves, maka Bus 657 sangat jelas kalah pamor. Dari segi cerita kurang menggigit, pun pula aksi heroiknya juga kurang ‘panas’,  selain hanya sisi kemanusiaan seorang perampok bernama Luke Vaughn (Jefrey Dean Morgan).

Cari uang untuk operasi

Vaughn lagi pusing tujuh keliling, lantaran anak semata wayangnya sakit serius, butuh operasi, namun dia terbelit masalah tak punya kocek. Lantaran sudah telanjur bokek, maka jalan satu-satunya adalah ‘ngemis’ kepada Mr. Pope (Robert de Niro), bos sekaligus pemilik kasino Swan. Namun, keserakahan telah membuat Pope lupa daratan. Yang ada hanya uang dan uang sehingga permohonan bantuan –atau utang 300 ribu dolar untuk pengobatan anak Vaughn—ditolaknya mentah-mentah.

Setan datang tepat pada waktunya. Seorang tak dikenal datang membujuk Vaughn untuk mau bergabung dalam aksi merampok brankas kasino milik Mr. Pope. Vaughn pun tak terkutik. Karena desakan harus membawa putrinya ke meja operasi, maka rencana aksi perampokan itu pun dia setujui.

bus3Keterlibatan Vaughn membawa petaka sekaligus aksi. Barulah di ujung cerita film ini, aksi pembajakan bus ini menyertakan ‘pemain’ anggota komplotan yang diam-diam ikut bersekongkol untuk menyelamatkan putri Vaughn. Seorang perempuan pura-pura hamil untuk mengundang simpati dan kemudian bisa diselamatkan oleh opsir perempuan Kris Bajos (Gina Carano).

Kalau pun ada yang menarik, maka sosok Mr. Pope yang dimainkan Robert de Niro menjadi pemicu daya tarik. Bukan karena aktingnya yang memang menawan, haus darah, kejam, dan pemuja uang sangat sempurna. Namun, lebih karena kegigihannya menegakan ‘aturan main’ dalam manajemen bekerja di Casino Swan miliknya: uang adalah uang. Tak ada istilah kawan boleh pinjam uang seperti pemeo tak ada makan siang yang gratis.

Semuanya masuk kalkulasi bisnis. Namun, di ujung cerita, semua perhitungan ini dia batalkan sendiri. Saat melihat kegigihan Vaughn berjuang mencari uang untuk biaya operasi putrinya, tiba-tiba secercah ‘pertobatan’ menghampiri Pope yang tengah dilanda frustrasi. Uang tidak membuatnya bahagia, termasuk ketika ia menawari saham besar kepada putrinya sendiri tapi dia ditolak mentah-mentah.

Uang rupanya tidak membuat Mr. Pope berhasil merebut hati putri kandungnya sendiri. Setelah menembak mati sekondannya yang setia, pertobatan Mr. Pope menjadi lebih lengkap lagi dengan kerelaannya membiarkan Vaughn pergi bebas tanpa beban. Padahal, sehari sebelumnya dia bertekad menghabisi nyawa Vaughn yang telah merampok uangnya sebanyak tiga juta dolar AS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here