Business Sustainability Forum II: Smart City Kombinasi Teknologi dan Modal (4)

0
1,181 views

NARASUMBER kedua yang ditampilkan adalah CEO Nusantara Infrastructure, Mohammad Ramdani Basri. Di Rajawali Group, Nusantara Infrastructure merupakan perusahaan yang bergerak pada lima bidang secara khusus: jalan tol, pelabuhan, air, energi, dan pembangunan tower. (Baca:  Business Sustainable Forum II: Muhammad Awaluddin, Telkom Lokomotif Smart City (3)

Menurut Ramdani, pada dasarnya, smart city merupakan kombinasi dari teknologi dan modal. Sebuah kota dikatakan cerdas jika tiga unsur kota yaitu infrastruktur, operasi, dan orang, dapat tehubung antara satu dengan yang lain dan masyarakat dapat memiliki akses atas segala sesuatu yang dibutuhkan.

Beberapa sorotan yang menjadi tujuan penerapansmart city adalah:
• Mengurangi kemacetan;
• Meningkatkan keamanan publik;
• Meningkatkan pelayanan kepada publik dalam edukasi dan pelatihan;
• Meningkatkan akses terhadap fasilitas kesehatan.

Beberapa permasalahan yang terjadi pada umumnya di kota yaitu adanya pertambahan kebutuhan akibat pertumbuhan kota, sehingga berimplikasi pada banyaknya kebutuhan atas energi dan persediaan energi. Oleh karena itu, masyarakat kota harus mengatur pemakaian energi yang ada dan mencari sumber energi alternatif lain (misalnya energi alternatif dari air, angin, dan lain-lain) agar tidak terjadi pemborosan sumber daya alam.

Pak Ramdani2(1)
CEO Nusantara Infrastructure Mohammad Ramdani Basri. (Wandi/Studio Atma Jaya Jakarta)

CEO Nusantara Infrastrukcture sejak 2008 ini memberi contoh Denmark yang mengimpor sampah agar dapat menjadi bahan tambahan penghasil energi.

CEO muda yang ahli menangani transaksi akuisisi dan merger ini mengemukakan ada beberapa contoh penerapan smart city terkait energi, yaitu:
Smart management: mencari alternatif dari sumber energi.
Smart building: konsep green building (untuk menghemat penggunaan listrik dalam kebutuhan rumah tangga).
Smart transportation: meningkatkan kualitas dari transportasi publik (agar dapat memicu orang untuk lebih menggunakan transportasi publik sehingga dapat menghemat penggunaan energi).

Mewakili sektor swasta, Ramdani menyerukan agar dalam membangun smart city, sektor swasta harus dilibatkan. Sektor swasta dapat diarahkan untuk menjalankan operasional sementara pemerintah lebih diarahkan untuk menjalankan fungsi sosial.

Faktanya, kebutuhan dana lima tahun untuk infrastruktur adalah sebesar 124 miliar dolar. Pemerintah tidak akan mampu mendanai itu semua. Oleh karena itu, sarannya bagi kota-kota di Indonesia agar membentuk Public-Private Partnership dalam mengelola kota untuk mendapatkan berbagai manfaat seperti risk sharing antara pemerintah dengan swasta, sumber pendanaan yang lebih banyak, dan lain-lain sehingga smart city dapat diimplementasikan secara penuh di Indonesia.

BSF6
Para narasumber, moderator, panitia penyelenggara Business Sustainable Forum II di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta, Kamis, 19 November 2015. Ki-ka: Presiden IGCN YW Junardy, pakar lingkungan Dr. Maria Ratnaningsih, mantan Rektor Unpar Bandung Prof. Dr. Robertus Triweko, Direktur Enterprises & Business Servive PT Telkom Muhammad Awaluddin, CEO Nusantara Infrastructure Tbk. Ramdhani Basri, Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. Lanny Panjaitan, Ketua Yayasan Bhumiksara Eddie Cahyono Putro. (Wandi/Studio Unika Atma Jaya)

Konsep teknologi smart city yang mulai dikembangkan oleh Nusantara Infrastructure terutama berkaitan pada bisnis jalan tol dengan menerapkan Traffic Information System Toll Road di Makassar. Sistem tersebut dapat memonitor jalan-jalan di Makassar dengan CCTV sehingga dapat memberikan informasi secara akurat dan memadai terkait kondisi di sekitar jalan tol tersebut.

Selain itu, khusus jalan tol bisa didesain untuk melakukan scan pada mobil secara otomatis ketika memasuki jalan tol sehingga tidak perlu antri  untuk membayar biaya melewati jalan tol.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here