Camaraderie Khas Anak-anak Sekolahan

0
238 views
Ilustrasi - Pertemanan sejak lama. (Ist)

BAPERAN – BAcaan PERmenungan hariAN.

Sabtu, 10 Juli 2021.

Tema: Karena kamu lebih berharga.

  • Bacaan Kej 49: 29-32, 50: 15-24.
  • Mat. 10: 24-33.

Hanya satu kata yang penting. Kamu lebih berharga dari segalanya.

Kesalahan bisa diperbaiki. Ketersesatan dan salah jalan bisa diluruskan. Luka bisa disembuhkan. Kegagalan bisa diperbaiki. Bahkan dosa pun bisa diampuni.

Ia hanya melihat dirimu. Bukan pertama-tama perbuatanmu. Ia memahami, tidak mengadili. Ia lebih mengasihi daripada hanya menghukum. Ia mengetahui manusia kadang tergantung pada situasi dan kondisi di mana ia berada

Bahkan, keputusan dan tindakan yang ideal pun kadang mesti ditunda. Mundur selangkah sebelum bergerak maju kembali.

Dugaan negatif

Sepeninggal mati ayahnya, Yakub, saudara-saudara Yusuf berkata, “Boleh jadi, Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.” ay 15.

Dugaan negatif kadang merupakan hasil tindak kejahatan sebelumnya. Pola hidup balas dendam. Ketakutan.

Tapi tidak bagi Yusuf.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya hanya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makananmu dan makan anak-anakmu juga.” ay 20.

Berani belajar menghargai hidup

Pernah saat di  SMA, kami semua dihukum. Tidak boleh pulang, sebelum ada yang mengaku.

Sementara guru mengajar dan menulis di papan tulis, kami ketawa cekikikan. Ada yang usil, melempar sesuatu.  Suasananya guyonan.

Saling menduga. Ada satu lemparan potongan kapur mengenai guru.

Guru marah. Ia ingin tahu siapa yang melempar. Semua diam.

Pak Jos sebagai penjaga menyelidiki. Tak berhasil. Wali kelas Pak Ahmad juga. Nihil.

Ahirnya Sr. Virgin SDP (PI), sang kepala sekolah, mengancam hal yang sama. Suasana hening, saling melirik, menoleh sebagai tanda bahwa jangan mengaku. Biarlah semua dihukum. Kebersamaan dan setia kawan.

Saya dipanggil menghadap suster.

“Kamu kan calon seminaris, siapa yang melempar kapur? Jangan bohong,” ancam Sr. Virgin SDP.

“Nggak tahu, Suster. Tidak bohong, Suster. Saya kan orang baru d isini,” jawabku.

“Kamu harus jujur. Suster hanya menghukum yang bersalah. Kamu tidak boleh bohong dengan suster. Apalagi kamu mau masuk seminari. Kamu takut dengan mereka?” kata suster.

Saya hanya diam. Saya kembali ke kelas memberi tanda kepada teman-teman, saya tidak mengatakan siapa yang melempar

Dan betul kami semua disetrap. Tak lama, Pak Yos berkata, “Sigit kamu boleh pulang.”.

Sampai sekarang pun belum ada yang mengaku. Saya harus pulang, karena besok tes masuk seminari.

Mengharukan.

Setiap reuni selalu ada bingkisan kasih untuk para guru. Dulu, mereka terkesan galak, karena fungsi mereka mendidik.

Nalar kami tak paham.

Kini, mereka menjadi sahabat, kakak-kakak tua kami. Gembira berbagi itu kesadaran dan terimakasih kami.

Sampai saat ini, bila ada guru sakit, dikumpulkanlah dana solidaritas.

Mengagumkan.

Selalu ada teman yang sigap menjadi inisiator.

“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipi.” ay 29, 31b.

Tuhan, menapak bersama-Mu meninggalkan kenangan indah. Tuntunlah Kami selalu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here