Cerpen: Jalan yang Sunyi

0
178 views
Jalan berlobang-lobang di pedalaman Ketapang - Dok OSA

DETAK jam tidak pernah berhenti. Berbeda dengan kehidupan insan manusia: Berdoa, Bekerja, dan beristirahat. Di saat sedang beristirahat selama satu jam, Dika menelpon sahabatnya, Egi.

Dika: “Hi, gimana kabarnya?”

Egi: “Semakin suram Bro.”

Dika: “Sama! Di sini juga bro. Yang penting, kamu sehat ya.”

Egi: “Pasti Bro. Sip. Eee, bentar ya, aku tutup pintu kamarku dulu.”

Setelah beberapa detik …

Egi: “Ok. Lanjutkan”

Dika: “Aku mau curhat nich. Cukup 30 menit saja.”

Egi: “Siap. Seperti biasa, pasti curhatanmu seru. Lanjut …”

Dika: “Egi, pernahkah kamu melewati jalan yang sunyi?”

Egi: “Ach kamu, puitis banget. Sekarang ini, dimana-mana jalan sunyi bro. Maksudmu?”

Dika: “Gimana ya, kok aku merasa hidupku semakin hari semakin tidak nyaman. Aku kehilangan “spirit rejoice”. Bahagia sich iya, tetapi tidak “Rejoice”.

Egi: Memang tidak sama “Bahagia” dengan “Rejoice”.

Dika: “Beda banget. “Happy” itu masih dangkal. Tetapi kalau “Rejoice” dalem banget bro. Dan itu sepertinya “menghilang” bro.

Egi: “Then …”
Dika: “Itu dia, sekarang aku merasa berjalan di jalan yang sunyi.”

Egi: “Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, tetapi setelah kurasakan, sama juga bro, aku juga sepertinya berjalan di jalan yang sama. Jangan-jangan …”

Dika: “Atau karena manusianya ya, sehingga jalanan menjadi sunyi.”

Egi: “Iya kali. Tidak ada suara. Jalannya tetap, tetapi tidak ada suara. Tidak ada senyum. Tatapan mata terhalangi.”

Dika: “Itu dia bro. Itu yang kumaksud. “Spirit Rejoice” benar-benar hilang. Sunyi betul jalan yang kulalui ini.”

Egi: “So, What we have to do?”

Dika: “Bertahan, teruskan perjalanan. Sampai menemukan keramaian kembali.”

Egi: “Lanjutkan Bro. Itu yang aku suka darimu. Tidak pernah menyerah.”

Dika: “Sebaliknya, yang aku suka darimu, selalu punya waktu untukku.”

Egi: “Sip Bro. Ada yang lain?”

Dika: “Cukup. Ok. Stay home. Stay healthy. Stay and stay ….”

Egi: “Ok. Lanjut. Sampai jumps 2 Minggu lagi ya.”

Dika: “Jangan lupa jemput di Bandara ya. Pesawatku mendarat Pukul 09.30 WIB. Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3.”

Egi: “Siap Bro. Aku sudah beli karpet merah dua meter di Pasar Tanah Abang.”

Dika: “Kok dua meter?”

Egi: “Iya dhonk. Cukup diletakkan di depan pintu mobil hahaha.”

Dika: “Gila lu, ok Bro. Sip-sip. God bless you. Bye.”

Egi: “Thanks. God bless you too. Bye.”

Dilanjutkan perjalanan melalui jalan yang sunyi ini …

Hong Kong, 14 April 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here