Cinta yang Menyesatkan

0
332 views
Ilustrasi - Anak-anak dengan gadget HP. (Ist)

Renungan Harian
Selasa, 27 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 33: 7-11; 34: 5b-9.28

Injil: Mat. 13: 36-43

BEBERAPA waktu yang lalu beredar di media sosial berita tentang anak yang mengalami “depresi” atau mengalami sakit mata parah karena kecanduan dan kebanyakan bermain gadget.

Berita yang itu kemudian disusul berita-berita lain yang serupa. Artinya ada banyak anak yang mengalami gangguan karena kecanduan gadget.

Kenyataan itu tidak hanya muncul dalam berita-berita media sosial, tetapi juga saya dengar langsung pengalaman dari para orangtua.

Banyak orangtua yang mengeluh berkaitan dengan kebiasaan anak-anaknya main game atau apa pun menggunakan gadget.

Pada titik tertentu persoalan ini menjadi sumber keributan antara orangtua dan anak.

 Dalam sebuah obrolan dengan beberapa orangtua yang mengeluh tentang anaknya yang “kecanduan” main gadget, dengan bergurau saya mengatakan bahwa kejadian itu yang salah adalah orangtuanya.

Karena mereka memberikan fasilitas gadget dan kuota.

Para orangtua itu memberi jawaban yang senada. Kalau tidak memberi anaknya gadget, kasihan dengan anaknya.

Teman-temannya semua sudah pegang gadget, kalau hanya anaknya sendiri yang tidak pegang, sebagai orangtua tidak tega.

Di samping itu anak-anak akan terus merengek, apabila tidak diberi gadget mengingat teman-temannya semua sudah pegang gadget

Kenyataan lain, saya melihat bahwa banyak orangtua dengan sengaja memberikan gadget kepada anaknya yang masih balita.

Tidak jarang mereka dengan bangga bahwa anaknya yang masih balita dapat mengoperasikan gadget.

Beberapa orangtua bercerita bahwa anak-anaknya lebih mudah untuk disuapi makanan manakala sambil menonton sesuatu di gadget.

Artinya anak-anak sejak usia dini sudah dibiasakan dengan gadget dan “dibuat” tergantung dengan gadget. Dan sayangnya yang melakukan itu justru orangtuanya sendiri.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa tanpa disadari orangtua telah menyesatkan anak-anaknya sendiri.

Sudah barang tentu tidak ada orang tua dengan sengaja menyesatkan anaknya menjadi pecandu gadget.

Namun dengan alasan cinta pada anak-anaknya membawa anak-anak pada jalan yang sesat sebagai pecandu gadget, yang pada gilirannya mengakibatkan pelemahan fisik dan psikis.

Butuh diskresi yang luas dan mendalam kapan orang tua memberikan gadget pada anak-anaknya dan bagaimana bentuk pendampingannya agar tidak menyesatkan.

Pada masa teknologi informasi ini, gadget menjadi sarana yang amat baik dan sekaligus pintu masuk yang amat luar biasa bagi roh jahat untuk menyesatkan generasi mendatang.

Dan sayangnya salah satu agen penghubung antara gadget dan generasi mendatang adalah para orangtua mereka sendiri.

Dengan alasan cinta yang begitu besar pada anak-anaknya mereka telah membuat dirinya menjadi agen roh jahat untuk penyesatan.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Matius dalam perumpamaan ilalang dan gandum, ilalang adalah penyesatan yang ditaburkan oleh roh jahat.

“…..mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.”

 Bagaimana dengan aku?

Apakah aku telah melakukan diskresi yang mendalam saat memberikan gadget pada anak-anakku?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here