Claudia Emmanuella Santosa

0
337 views
Claudia Emmanuella Santosa. (ist)

Puncta 13.03.23
Senin Prapaskah III
Lukas 4: 24-30

MUNGKIN sebagian besar dari kita merasa asing dengan nama Claudia Emmanuella Santosa (19) asal Cirebon ini. Ia menjuarai ajang The Voice of Germany tahun 2019 dengan perolehan voter tertinggi mengalahkan pesaingnya.

Ia menyanyikan lagu I Have Nothing yang dipopulerkan Whitney Houston.

Suara emasnya memukau banyak orang di luar negeri, walau ia sendiri tidak begitu dikenal di negerinya sendiri.

Mungkin selera juri-juri Indonesia tidak mengena dengan suara Claudia. Tetapi nyatanya gadis Cirebon itu telah memukau jutaan pemirsa di German.

Selain Claudia, ada juga Eki Cahayadi yang dulunya pengamen jalanan di Jakarta mampu menyabet juara satu dalam ajang “All Together Now Italia 2020″ di Roma.

Eki yang sekarang tinggal di Milan, karena isterinya orang Italia, berhasil mengalahkan 4000 peserta ajang pencarian bakat.

Talenta yang kadang di negeri sendiri tidak dihargai, tetapi justru di negara lain sangat dinilai tinggi.

Tidak hanya di bidang nyanyi, tetapi di bidang ilmu pengetahuan pun juga sama. Ada banyak doctor-doktor dari Indonesia yang penemuannya dihargai di negara lain.

Dalam Injil hari ini, Yesus ditolak di daerah-Nya sendiri, Nasaret. Ia menyatakan kepada orang-orang di rumah ibadat, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”

Ia memberi contoh yang pernah terjadi dengan Nabi Elia dan Nabi Elisa. Mereka tidak dihargai di Israel tetapi mereka justru membuat mukjizat di negeri asing.

Elia menyelamatkan seorang janda di Sarfat, daerah Sidon dari bahaya kelaparan, kendati ada banyak janda di Israel.

Begitu pun Elisa, banyak orang sakit kusta di Israel, tetapi hanya Naaman panglima dari Siria yang diselamatkan karena percaya kepada nabi. Orang Israel sendiri justru tidak percaya dan menolak nabi-nabinya.

Yesus pun mengalami hal yang sama. Orang-orang di daerah-Nya sendiri justru tidak menerima dan percaya kepada pewartaan-Nya.

Maka Dia tidak banyak membuat mukjizat di Nasaret, tempat Ia dibesarkan. Orang-orang di situ tidak mempercayai-Nya.

Yesus banyak membuat mukjizat di Kapernaum. Penghargaan pada hasil karya dan budaya sendiri itu modal awal untuk bisa mengembangkan diri.

Kalau kita tidak bangga pada hasil karya dan budaya sendiri, bagaimana kita akan maju?

Kita lebih suka membanggakan merek-merek luar negeri. Padahal orang-orang luar negeri justru mengagumi karya dan budaya kita.

Kita tidak bangga dengan batik atau kain songket, tetapi malah senang kain berkabung. Kita tidak bangga dengan sepatu atau tas buatan sendiri, tetapi suka pamer merek luar negeri.

Sekarang bukan penjajahan fisik, tetapi mental kita yang terus-menerus dijajah oleh budaya mereka.

Kita sudah terlalu lama dijajah orang asing. Kita tidak berani mandiri dan bangga dengan diri sendiri.

Mental dijajah itu masih melekat dalam otak kita, tertanam sangat dalam. Mari kita kembali menghargai budaya dan karya-karya anak bangsa sendiri.

Aku senang ayam goreng Kalasan,
Daripada chicken-chicken luar negeri.
Sudah tidak ada lagi zaman penjajahan,
Tetapi mental kita tidak mau mandiri.

Cawas, makan dengan trancam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here