“Colors of Christmas: Peace & Blessing”, Cara PUKAT KAJ “Membumikan” Sukacita Natal 2017 (1)

0
897 views
Penyanyi Lisa Depe tampil di gelaran musikal Konser Natal 2017 PUKAT KAJ bertema "Colors of Christmas: Peace & Blessing" di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta Selatan, Minggu 10 Desember 2017. (Dok Panitia)

DARI mana kisah panjang “Sejarah Keselamatan” secara biblis itu bermula?  Dalam teks Kitab Suci Perjanjian Lama,  sudah sering dinubuatkan tentang sekali waktu akan datang Mesias. Namun, justru pada ‘era’ Kitab Suci Perjanjian Baru itulah semua nubuat baru menjadi kenyataan.

Inilah saatnya, ketika Allah Maha Kuasa, Ilahi dan Transenden akhirnya berkenan “menjadi daging dan tinggal di antara kita”. Itu terjadi dengan diutusnya Putera-Nya sendiri –Yesus— yang lahir dari rahim Maria sebagai anak manusia seperti kita kebanyakan.

Mengenangkan peristiwa Inkarnasi Ilahi inilah yang nantinya akan kita peringati dalam suasana kegembiraan bersama dengan segenap umat kristiani Gereja Universal di Hari Raya Natal beberapa pekan mendatang.

Sejarah melawan lupa

Natal adalah ingatan sejarah melawan lupa atas peristiwa ilahi yang menjadi salah satu pondasi iman kristiani.  Yakni,  kenyataan bahwa Tuhan telah  lahir “menjadi manusia dan tinggal di antara kita”, lengkap dengan suasana sukacita yang diungkapkan para gembala dan tiga raja dari Timur.  Natal adalah momen bersaput suasana kegembiraan penuh syukur, karena di Hari Natal itulah Tuhan datang dan menyapa kita dengan ‘bahasa manusia’.

Natal itulah yang akhirnya mendekatkan kita pada Tuhan sehingga Yang Ilahi dan Transenden itu lalu menjadi immanens —tinggal akrab dalam keseharian kita.

Cintakasih sebagai kiblat hidup

Dengan Tuhan yang telah hadir dan riil  dalam sejarah peradaban manusia –lahirnya bayi Yesus  sebagai anak  Yahudi di Tanah Israel— maka dimulailah proses panjang “Sejarah Keselamatan” menuju hadirnya Kerajaan Allah. Inilah sebuah konsep teologis yang mesti dimaknai sebagai kondisi dimana tata nilai cinta kasih –ajaran utama Yesus– akhrinya menjadi kiblat hidup sosial manusia.

Natal sangat  kental dengan atmosfir pengharapan.  Sementara Masa Adven bercirikan suasana pertobatan.   Inilah momen rohani  ketika kita berusaha menjadikan diri  lebih pantas menyambut kedatangan Mesias dalam rupa bayi Yesus di palungan.

Raison d’être

Konser tahunan PUKAT KAJ (Profesional Usahawan Katolik Keuskupan Agung Jakarta) di awal bulan Desember 2017 ini mengusung tema Colors of Christmas: Peace & Blessing. Dalam konteks nalar Teologi Keselamatan dari perspektif biblis di atas, menjadi sangat relevan mengaitkan tema itu dengan raison d’être (alasan eksistensialnya) awal catatan reflektif tersebut.

Konser tahunan PUKAT KAJ 2017 dengan semangat Colors of Christmas: Peace & Blessing rasanya tidak jauh panggang dari api. Dan gebrakan meletupkan semangat harapan itu sedari awal sudah dikobarkan oleh Lisa Depe – yang bernama asli Elisabeth Dwi Purna–  dengan warna suara yang so powerful.

Penyanyi dengan suara berkarakter asal Malang: Elisabeth Dwi Purna alias Lisa Depe.

Lihatlah Lisa Depe,  ketika ia melantunkan tembang bertitel It’s the Most Wonderful Time of the Year. Ini adalah sebuah lagu ‘klasik’  Natal yang selalu enak mendarat di telinga kala dinyanyikan dengan sentuhan jazzy oleh Johnny Mathis yang memainkan partitur aransemen besutan David Foster dalam kepingan CD The Christmas Album (1993).

Kentalnya atmosfir harapan disertai ekspektasi agar tata hidup sosial di dunia ini makin beradab dan bersemangatkan kasih  kembali  digelorakan lagi oleh Lisa Depe dengan tembangnya bertitel  Grown-Up Christmas List. Lagu ini buah karya duet David Foster dan Linda Tompson Jenner –ibunya Kendall Jenner, super model yang paling dicari lelaki sejagat saat ini.

Lagu ini awalnya dilantunkan oleh Amy Grant di tahun 1992. Namun, Natalie Cole dengan suaranya yang khas kemudian mengangkat pamor lagu tersebut.

Lihatlah tampilan duet Lisa Depe bersama Farman Purnama mampu menggelorakan raison d’être  kisah Sejarah Keselamatan yang terjadi di Hari Natal. Inilah daftar harapan orang dewasa agar dunia menjadi lebih baik, lebih beradab secara moral dan sosial –intisari lagu Grown-Up Christmas List.

So here’s my lifelong wish
My grown up Christmas list
Not for myself but for a world in need

No more lives torn apart
That wars would never start
And time would heal all hearts
And everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end,

This is my grown up Christmas list

As children we believe
The grandest sight to see
Was something lovely wrapped beneath the tree
But Heaven only knows
That packages and bows
Can never heal a heartached human soul

No more lives torn apart
That wars would never start
And time would heal all hearts
And everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end

This is my grown up Christmas list
What is this illusion called the innocence of youth
Maybe only in our blind belief can we ever find the truth

No more lives torn apart
That wars would never start
And time would heal all hearts
And everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end

This is my grown up Christmas list
This is my only lifelong wish
This is my grown up Christmas list

Penyanyi tenor Farman Purnama (Angelus Agustinus/Dok Panitia)

Sukacita Natal

Kedatangan bayi Yesus di palungan sebagai tanda paling nyata kasih Allah kepada umat manusia itu mendatangkan atmosfir sukacita bagi ketiga Orang Majus dari Timur (baca: Persia, kini Iran) yang masing-masing membawa ‘hadiah’ persembahan bagi Mesias Kecil. Maka, lihatlah bagaimana ketiga anak remaja bernama Bimashakti, Hans M Sagala, dan Joel Widjaja melantunkan tembang We Three Kings.

Yang pasti, suasana sukacita penuh gelora itu kembali hadir ketika rombongan The Resonanz Children’s Choir melagukan tembang ceria bertitel Rudolph The Red Nosed Reindeer-Rockin’ Around the Christmas Tree. Atmosfir sama berulang lagi, ketika ‘the power of emak-emak’ dalam kemasan grup Armonia Choir unjuk gigi dengan tembang White Christmas – Jingle Bells Rock.

Penampilan tiga anak tanggung membawakan tembang “We Three Kings” (Angelus Agustinus/Dok Panitia)

Hal sama kembali digelorakan oleh BMS Male lewat tembang ceria bertitel Santa Claus is Coming to Town. Juga sebelumnya, penyanyi pop Sammy Simorangkir merangkai kemasan sukacita itu dalam tembang Hai Mari Berhimpun –satu-satunya lagu berbahasa Indonesia di Konser Natal produksi ke-23 PUKAT KAJ bertema Colors of Christmas: Peace and Blessing.

Sukacita Natal yang menjadi atmosfir utama setiap perayaan memperingati Hari Kelahiran Tuhan memang terasa kental mengisi sudut-sudut Ciputra Artpreneur Theater yang selama tiga tahun terakhir ini menjadi venue konser dapukan PUKAT KAJ. Sukacita itu pula yang kini –sehari usai pekerjaan besar menggelar konser—mulai mengisi relung-relung hati setiap anggota panitia yang telah bekerja keras tanpa pamrih untuk menyukseskan gelaran musik tahunan ini.

Batavia Madrigal Singers (BMS) Male.

Padahal, kalau melihat bagaimana mereka bekerja sejak pertengahan Oktober sampai 10 Desember 2017, rasa-rasanya konser megah dengan hasil segemilang itu tak mungkin terjadi. Selain waktunya sangat mepet, anggota panitia masih digelayuti kepenatan fisik usai menggela A Night with a Mission: Charity Concert 2017  yang berlangsung tanggal 11 Oktober 2017 lalu.

Praktis hanya dalam tempo dua bulan, panitia PCC (PUKAT Christmas Concert) menunjukan etos kerja keras yang akhirnya berhasil menyuguhkan gelaran Konser Natal 2017.

Lalu, konklusi macam apa yang bisa ditarik sebagai benang merah ketika kita berkilas balik atas semua kerja keras panitia tersebut?

Selama kurang lebih dua tahun ikut aktif sebagai pengurus inti PUKAT KAJ, saya kagum melihat bagaimana Panitia PCC –terutama Bu Pieneke Sutandi, sesepuh PUKAT KAJ– yang  selalu bekerja keras tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih.

Cuitan pendek -usai acara- dari ibu asal Malang yang dua tahun lalu mensyukuri pernikahan emasnya bersama Paul Sutandi ini rasanya bisa mewakili rasa takjub panitia. “Ternyata,” tulis Pieneke Sutandi di grup Whatsapp PCC 2017, “Tuhan tidak tidur.”

Refleksi iman itu selaras dengan bahasa musikal yang dipopulerkan oleh Whitney Houston bersama Mariah Carey dalam tembang nan apik When You Believe.

Kali ini, atmosfir theme song film kartun Prince of Egypt itu kembali menggelegar di Ciputra Artpreneur Theater berkat suara mantap duo penyanyi: Lisa Depe dan Regina Handoko. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here