Covid 19: Persaudaraan Kongregasi Suster SFIC vs Social Distancing

0
173 views
Membuat Face Shield Alat Pelindung Diri (APD) untuk para medis yang menangani pasien covid 19 di Rumah Sakit St. Vincentius Singkawang, Kalbar. (Sr. Maria Seba SFIC)

PANDEMI Virus Corona (Covid-19) semakin massif menyebar. Hingga saat ini, kematian  merebak di berbagai kota dan negara. Seakan-akan  dunia masuk dalam masa gelap. Kematian hadir begitu dekat.

Wabah yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok,  ini menyentak batin sehingga membuat semua orang panik dan bingung, tidak tahu apakah akan menjadi yang tertular sekaligus yang menularkan.

Maintaining relationships

Namun ada sisi positif di balik goncangan akibat wabah virus corona ini yakni membawa semua orang kembali untuk memaknai apa itu kebersamaan.  Semua orang diberi kesempatan untuk memperbaiki relasi kekeluargaan dengan melakukan aktivitas rumah bersama.

Dengan kata lain Corona seakan mengoyakkan tabir modernisme dan globalisasi yang telah membentuk manusia menjadi super individualis.

Membuat cairan disenfectan sendiri (Sr. Maria Seba SFIC)

Berdoa, belajar dan bekerja dari rumah

Peristiwa memilukan ini bak tamparan keras menghantam dibeberapa sendi kehidupan manusia, termasuk tatanan kehidupan beriman.

Untuk beberapa saat (semoga tidak terlalu lama) lantunan lagu-lagu rohani tak terdengar lagi di gereja. Setiap pelayanan rohani dan perjumpaan antara umat dan pastor terjadi melalui media online.

Umat Katolik diajak  menemukan cara baru untuk beribadah, cara baru untuk berdoa, cara baru untuk menerima Tubuh Kristus, yaitu secara batin (komuni batin). Untuk sebagian umat mungkin hal ini menggoyahkan iman, karena belum terbiasa, dan terasa aneh.

Sekolah-sekolah, universitas-universitas telah menjadi ruang kosong, karena murid-murid dan para mahasiswa memulai budaya baru, belajar dari rumah. Ruang kosong di sekolah menciptakan ruang keakraban di rumah, karena orangtua menjadi sibuk melayani anak-anak, baik makan minum, tetapi terlebih belajar bersama anak-anak.

Tempat-tempat pariwisata, pusat keramaian dikosongkan, panggung-panggung gembira, bioskop-bioskop juga dikosongkan, supaya orang  bisa “manggung” di rumahnya masing-masing. Jalanan pun menjadi lengang, tercipta ruang kosong, tanpa polusi agar alam bisa bernafas lagi.

Menghadiri misa online di kapel susteran.

Maintaining relationships, practicing social distancing

Tembok biara yang megah tidak menjamin para penghuninya imun dari ancaman wabah virus Corona. Menyikapi wabah pandemik yang kini menjadi polemik yang ramai dibicarakan ini, para suster Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia memiliki cara tersendiri untuk tetap memelihara kebersamaan namun juga tetap mengindahkan ajakan social distancing.

Meskipun harus menjaga jarak dari keramaian orang, bahkan dengan sesama suster di dalam biara, rutinitas tetap berjalan seperti biasa. Berdoa bersama, makan, rekreasi dan bekerja tetap dilakukan.

Pengorbanan ini memang pahit, dan sepi itu menggigit. Namun pengorbanan ini menjadi salah satu upaya untuk mengungkapkan cinta kepada sesama dengan cara baru: bukan dengan  duduk bersanding, juga bukan dengan memeluk, tetapi dengan mengambil jarak dalam kasih persaudaraan.

Akhirnya peristiwa mencekam, penuh ketakutan, tangis bahkan kematian ini menjadi bahan refleksi bagi semua orang khususnya dalam Masa Prapaska ini untuk berani berkorban mengosongkan diri, tidak mementingkan diri sendiri dan bersabar memegang komitmen social distancing-pshycal distancing untuk membela kehidupan yang sedang pudar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here