Dalam “Doa Malaikat Tuhan”, Paus Singgung tentang Menanti Akhir Zaman

0
543 views
Ilustrasi (ist)

SAUDARA dan saudari terkasih, selamat petang.

Injil hari ini memberi kita bagian pertama kata-kata Yesus tentang akhir zaman, sebagaimana diceritakan oleh Santo Lukas. Yesus berbicara tentang hal ini saat berada di depan Bait Allah di Yerusalem, tergambar dari seruan kekaguman orang-orang terhadap keindahan tempat kudus tersebut dan dekorasinya.

Yesus kemudian berkata, “Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat”.

Kita bisa membayangkan pengaruh kata-kata ini pada murid-murid Yesus. Ia tidak ingin menyinggung Bait Allah melainkan menjadikan mereka mengerti, dan kita hari ini juga, bahwa bangunan-bangunan manusiawi – bahkan yang bangunan yang paling suci – sedang berlalu, dan kita tidak seharusnya menempatkan keamanan-keamanan kita di dalamnya.

Berapa banyak kepastian-kepastian yang diandaikan dalam hidup kita telah kita pikirkan definitif dan kemudian mereka berubah menjadi fana. Di sisi lain, berapa banyak masalah yang kita hadapi yang tampaknya tidak memiliki jalan keluar, dan kemudian mereka teratasi.

Yesus tahu bahwa selalu ada orang-orang yang berspekulasi dalam kebutuhan akan keamanan yang dimiliki orang-orang. Itu sebabnya Ia mengatakan: “Lihatlah agar kamu tidak terperdaya”, dan menempatkan mereka waspada terhadap semua mesias palsu yang menampilkan diri. Hari ini kita masih memiliki hal ini. Dan Yesus menambahkan bahwa tidak ada kebutuhan untuk menjadi ketakutan atau bingung oleh peperangan, pemberontakan dan bencana, karena ini juga merupakan bagian dari kenyataan dunia ini.

Sejarah Gereja kaya dengan contoh-contoh orang-orang yang mengalami kesengsaraan dan penderitaan mengerikan dengan ketenangan, karena mereka menyadari bahwa mereka aman di tangan Allah. Ia adalah seorang bapa yang setia dan penuh perhatian yang tidak pernah meninggalkan anak-anaknya. Tidak pernah. Dan kita seharusnya memiliki kepastian ini di dalam hati kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita.

Tetaplah teguh dalam Tuhan, berjalan dengan harapan bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita, bekerja untuk membangun sebuah dunia yang lebih baik meskipun kesulitan-kesulitan dan peristiwa-peristiwa yang menyedihkan yang menandai keberadaan bersama dan pribadi kita – inilah apa yang benar-benar diperhitungkan.

Itulah apa yang disebut jemaat kristiani pergi keluar untuk berjumpa “Hari Tuhan”.

Justru dalam konteks ini kita ingin menempatkan upaya-upaya yang dimulai setelah bulan-bulan ini yang di dalamnya kita sudah menghidupi dengan iman Yubileum Luar Biasa Kerahiman, yang saat ini sedang menyelimuti keuskupan-keuskupan sedunia dengan penutupan pintu-pintu suci di gereja-gereja katedral. Tahun Suci telah memanggil kita, di satu sisi, menetapkan pandangan kita pada pemenuhan Kerajaan Allah, dan di sisi lain, membangun masa depan di bumi ini, bekerja untuk menginjili saat ini, menghasilkan saat keselamatan untuk semua orang.

Yesus dalam Injil mendesak kita untuk memiliki dengan jelas dalam pikiran dan hati kita kepastian bahwa Allah menuntun sejarah kita dan tahu tujuan akhir dari hal-hal dan peristiwa-peristiwa.

Sejarah – dengan kemajuannya yang tidak menentu serta jalinan kebaikan dan kejahatan – berkembang di bawah tatapan Tuhan yang penuh belas kasih. Segala sesuatu yang terjadi adalah kekal di dalam Dia. Kehidupan kita tidak bisa hilang karena ia berada di tangan-Nya.

Marilah kita berdoa kepada Bunda Maria, sehingga ia membantu kita melalui kebaikan dan peristiwa-peristiwa menyedihkan dunia ini untuk tetap teguh dengan harapan akan kekekalan Allah. Marilah kita berdoa kepada Perawan Maria agar ia membantu kita semakin memahami kebenaran bahwa Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.

[Setelah pendarasan Doa Malaikat Tuhan]

Saudara dan saudari terkasih, pekan ini salib kayu tertua Basilika Santo Petrus telah dikembalikan untuk devosi umat beriman; ia berasal dari abad ke-14. Setelah pekerjaan berat pemulihan ia sudah dikembalikan ke kemegahan resminya dan akan digantung di kapel Sakramen Mahakudus, mengingat Yubileum Kerahiman.

Hari ini di Italia dirayakan hari tradisional Thanksgiving untuk buah-buah karya bumi dan manusia. Saya mempersatukan diri dengan para uskup dalam keinginan mereka agar ibu bumi selalu dibudidayakan secara berkelanjutan. Gereja, dengan pemahaman dan pengakuan, berada di samping dunia pertanian dan tidak melupakan mereka yang di berbagai belahan dunia yang terampas pemberian-pemberian pentingnya seperti makanan dan air.

Saya menyapa semua orang, keluarga-keluarga, paroki-paroki, lembaga-lembaga dan umat, yang telah datang dari Italia dan berbagai bagian dunia. Secara khusus, saya menyapa dan mengucapkan terima kasih kepada lembaga-lembaga yang di hari-hari ini telah mendukung Yubileum bagi orang-orang terlantar.

Saya menyambut para peziarah dari Río de Janeiro, Salerno, Piacenza, Veroli dan Acri, dan juga pelayanan “The Family” Milan, dan persaudaraan Italia Ordo Tritunggal sekuler.

Saya mengucapkan kepada kalian semua selamat hari Minggu. Jangan lupa mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa.

(http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/11/wejangan-paus-fransiskus-dalam-doa_14.html)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here