Damai dalam Keretakan

1
407 views
Ilustrasi.

Kamis, 21 Oktober 2021

  • Rm. 6:19-23.
  • Mzm.1:1-4.6.
  • Luk. 12:49-53

SEMUA orang merindukan hidup damai, tenteram dan jauh dari konflik serta pertentangan.

Hidup harmoni dengan sesama dan diri sendiri.

Banyak orang yang yang mengalami kegelisahan. Bahkan jatuh sakit, karena relung hati selalu terusik oleh rasa bersalah, amarah dan dendam.

Rasa damai semakin menjauh dari hidupnya.

Banyak buku ditulis tentang bagaimana mengelola konflik dan menjadi pribadi yang berhasil dalam hidup serta bisa menikmati hidup dalam damai.

Namun itu semua bukan tuntunan yang mudah, karena pada akhirnya setiap pribadi harus berani memasuki lorong sunyi batin sendiri untuk mengalami kedamaian.

“Saya hanya berusaha untuk tidak mendendam,” kata seorang ibu.

“Karena saya tidak bisa mengembalikan yang retak dan hancur. Tidak mudah untuk memulihkan kepercayaan yang telah dikotori dengan ketidaksetiaan,” lanjutnya.

“Adikku sendiri telah merebut suamiku. Kini mereka pergi meninggalkan aku dan anak-anakku,” ujarnya.

“Karena peristiwa itu, saya telah kehilangan saudari dan suami,” ujarnya dengan sedih.

“Kenyataan yang sangat memilukan bagiku dan anak-anakku,” lanjutnya.

“Saya tidak berharap bertemu mereka lagi. Saya tidak sanggup melihat wajah mereka,” katanya.

“Saya tidak pernah menyangka bahwa adikku sendiri yang tega membawa malapetaka bagiku dan anak-anakku,” lanjutnya.

“Saat ini, saya hanya berpasrah, semoga saya dikaruniai kekuatan untuk melanjutkan kehidupan ini bersama anak-anak,” katanya penuh harap.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengar demikian.

“Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.”

Kekacauan dalam keluarga bisa terjadi pada setiap keluarga.

Tanpa Tuhan Yesus suasana kacau dan pertentangan sudah ada. Jadi kekacauan bukan karena Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus datang ke dunia ini membawa ajaran baru tentang Kerajaan Allah, tentang cintakasih dan tentang persaudaraan.

Tuhan Yesus menyadari sepenuhnya bahwa ajaran-Nya akan membawa pertentangan.

Tetapi bukan pertentangan siapa menang siapa kalah. Bukan pertentangan soal kuasa, bukan pertentangan soal kekayaan, tetapi pertentangan untuk mencari kebenaran.

Dalam keluarga pun, belum tentu hal yang baik dan benar diterima. Karena ada orang yang menolak hal yang baik dan benar, agar kejahatannya tidak kelihatan.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku berani konflik demi kebenaran atau diam saja terhadap kebenaran yang dimanipulasi untuk menghindari konflik?

1 COMMENT

  1. Saya harus menerima suami saya kembali setelah banyaknya luka dihati saya karena janji saya dihadapan Tuhan utk mendidik anak-anak yg dipercayakan Tuhan kpd saya dalam iman Katolik dan tidak ingin orang-orang yg ikut brpartisipasi dlm sakit saya merasa menang karena telah membawa suami saya kpd agama yg baru muncul abad ke 6-7 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here