Dari Banyuaeng ke Banyuasin

0
260 views
Ilustrasi (ist)

Puncta 03.12.22
Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Misi
Markus 16: 15-20

SETIAP kali merayakan pesta Santo Fransiskus Xaverius langsung terkenang almarhum bapakku. Beliau mengambil nama baptis Fransiskus Xaverius.

Kendati tidak sehebat seperti Santo Agung Pelindung Misi Gereja, bapak saya berusaha meneladan semangat santo pelindungnya.

Santo Fransiskus Xaverius meninggalkan rumah dan tanahairnya, pergi ke tanah misi di Timur Jauh. Bapak juga pergi meninggalkan daerah asalnya di Banyuaeng ke Air Sugihan, Musi Banyuasin, Palembang.

Awalnya hanya untuk mengantar orang-orang yang bertransmigrasi. Tetapi mereka tidak mau tinggal, jika bapak tidak hidup bersama mereka.

Di daerah transmigrasi itu, bapak mewartakan Injil. Ia ikut Romo Abdi SCJ pergi melayani umat di jalur-jalur transmigrasi. Ia mengajar agama, memimpin ibadat, mengurus orang sakit, menguburkan jenazah, mengurus bantuan ke Palembang.

Kadang harus berkeliling berhari-hari, menginap di stasi-stasi, melalui medan yang sulit, becek, berlumpur.

Selama 15 tahun bapak menabur benih di Air Sugihan. Ia selalu bangga dan bersukacita setiap kali berkisah mengenang perjuangannya.

Sekarang benih itu sudah bisa dipanen dengan munculnya banyak imam, suster dan bruder dari daerah transmigrasi. Pasti bapak saya bahagia dan mendoakan mereka semua dari surga.

Hari ini, Gereja merayakan Santo Fransiskus Xaverius, seorang dari tujuh imam Jesuit pertama yang diutus pergi ke Timur Jauh.

Seperti perintah Yesus kepada para murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk, begitulah Santo Fransiskus Xaverius menjelajah daerah Asia; dari Goa di India, Malaka, Ternate, Tidore, Maluku, China, dan Jepang dijelajahinya.

Ia menulis kepada St. Ignatius Loyola, “Bahaya-bahaya yang saya hadapi dan tugas-tugas yang saya terima dari Tuhan sungguh-sungguh merupakan sumber air sukacita rohani, sehingga pulau-pulau ini merupakan suatu tempat di dunia di mana orang kehilangan pandangannya karena banyaknya air mata, yaitu air mata sukacita.

Saya tidak ingat kapan saya pernah merasakan sukacita batin seperti ini. Penghiburan-penghiburan ini mengambil semua penderitaan badan dan semua kesulitan dari para musuh dan teman-teman yang tidak dapat dipercaya.”

Zaman sekarang dibutuhkan pribadi-pribadi yang mau melayani dengan totalitas. Yesus menghendaki agar kita pergi, berani meninggalkan zona nyaman dan menerobos daerah-daerah yang sulit dan berbahaya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.

Zaman yang serba enak dan meninabobokkan ini membuat orang tidak berani keluar dari zona nyaman. Orang tidak berani menghadapi tantangan dan kesulitan hidup; maunya yang aman dan nyaman saja.

Jika demikian, maka keselamatan Tuhan tidak sampai kepada orang-orang yang membutuhkan.

Jangan takut keluar dari zona nyaman. Ketika kita berani pergi, Tuhan turut menyertai.

Dalam Injil ditegaskan, “Maka pergilah para murid memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”

Siapkah kita diutus untuk bermisi?

Para penonton bersukacita dan menari-nari,
Timnas Jepang masuk ke babak berikutnya.
Santo Fransiskus Xaverius pelindung misi,
Setia mewartakan Injil ke seluruh dunia.

Cawas, siap diutus kemana pun…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here