Dari Sumba untuk Indonesia Raya: Paskahan Bersama Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS)

0
1,097 views
Tarian Kataga khas tradisional Sumba saat berlangsung acara Paskahan BersamaIkatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) menyatukan semangat melalui Perayaan Paskah Bersama (IKBS) 30 April 2017 di Taman Wiladatika, Cibubur. (Eman Dapa Loka)

Hidup para pejabat sudah jauh lebih baik daripada orangtua di kampung-kampung, para petani kecil, penggali batu, dan nelayan. Mari berjuang agar senyum mereka bisa mekar karena bebas dari kemiskinanMikael Umbu Zasa

UNTUK ikut ambil bagian membangun kampung halaman, masyarakat dari Pulau Sumba, NTT yang tinggal di Jabodetabek dan terhimpun dalam Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) menyatukan semangat melalui Perayaan Paskah Bersama IKBS pada tanggal 30 April 2017 di Taman Wiladatika, Cibubur.

Semangat tersebut tampak dalam tema IKBS Bangun Sumba untuk Indonesia. Tekad itu semakin terasa karena pada acara tersebut dilakukan pelantikan pengurus IKBS yang dipimpin oleh Mikael Umbu Zasa, SE sebagai Ketua Umum untuk masa kepengurusan 2017-2021. Tekad tersebut berkali-kali dipekikkan diiringi bunyi irama gong Sumba dan hentakan kaki para penari.

Tarian tradisional khas Sumba menjadi tontotan menarik saat digelar acara Paskahan Bersama yang diampu oleh Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) tanggal 30 April 2017 di Taman Wiladatika, Cibubur.

Dalam pidato pelantikanya  di hadapan para senior asal Sumba antara lain Mayjend TNI Jan Pieter Ate, Kepala Perwakilan NTT Bertho Lalo, para undangan dan warga Sumba,  Mikael Umbu Zasa mendorong setiap warga Sumba dengan segala talenta dan keunikan masing-masing untuk memberi kontribusi bagi pembangunan Sumba.

“Kita ingin Sumba dikenal orang karena keunggulan, keindahan, eksotisme dan tradisi yang kita pertahankan sampai sekarang. Di tempat kita berada atau bekerja, jadilah duta Sumba yang ramah, memberi inspirasi. Kita jangan menjadi masalah,” ungkap Umbu Zasa mengingatkan.

Ekspresi para penari katanga, sebuah tarian tradisiona khas Sumba.

Lintas agama

Hal senada disampaikan oleh Pdt. I Nyoman Agus dalam kotbahnya.

Pendeta kelahiran Kupang ini mengingatkan setiap orang Sumba untuk berbuat baik dengan gembira. “Tuhan telah mati dan kini bangkit, maka majulah dalam kehidupan dan iman kepadaNya,” ujarnya.

Ibadat hari itu dilakukan secara ekumenis. Selain Pdt. Nyoman, ada pula Pdt. Soleman dan Pater Desius Kaki, CSsR yang memimpin ibadat.

Sementara itu, Ketua Panitia Yanto Umbu Pada menyampaikan rasa bangganya sebagai orang Sumba karena merasakan dan menyaksikan semangat orang Sumba di perantauan untuk bersatu, bersaudara dan saling bersolider.

Perayaan Paskah Bersama 2017 bersama Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS)

“Sangat membanggakan. Kita benar-benar bersaudara. Acara ini pun kita selenggarakan dengan segala keterbatasan yang kita miliki, namun menjadi sukses dan bertenaga karena disertai semangat yang luar biasa. Dan hendaknya semangat ini kita bawa untuk bangun Sumba untuk Indonesia yang jaya,” kata Yanto.

Usai pelantikan, kepada media Mikael Umbu Zasa kembali menjelaskan semangat yang hendak ia dan segenap warga Sumba di Jabodetabek hendak tebar. Ia melihat potensi yang dimiliki setiap daerah miliki untuk membangun Indonesia ini.

Mikael Umbu Zasa, Ketua Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS)

Kalau masing-masing daerah menyadari potensinya lalu mengolah potensi itu untuk dinikmati masyarakat setempat, itulah sumbangan amat bernilai daerah bagi keinginan bersama untuk membangun NKRI. “Kita memang mengharapkan perhatian pemerintah pusat, tapi yang di daerah harus memiliki tekad membangun daerah sendiri juga,” kata pria kelahiran Weetebula, Sumba Barat Daya ini.

“Orang-orang pemerintah daerah dan pihak-pihak lain yang punya daya untuk membangkitkan semangat masyarakat, harus berbuat lebih dengan tekad menggembirakan masyarakat. Berhenti dulu dengan keinginan untuk makan sendiri. Hidup para pejabat dan pegawai-pegawai sudah jauh lebih baik daripada orangtua kita di kampung-kampung, para petani kecil, penggali batu, nelayan,” kata dia.

Tarian Woleka, koleksi seni tradisi tarian khas Sumba.

“Mari berjuang agar senyum mereka pun bisa mekar. Jangan biarkan mereka selamanya terkungkung dalam kemiskinan,” ujarnya dengan serius.

Perayaan Paskah Bersama dan pelantikan pengurus tersebut dimeriahkan dengan pentas seni berupa sejumlah tarian, yakni woleka, talla kako, dan kataga.

Ada pula lelang lagu dan tarian yang hasilnya disumbangkan untuk gereja-gereja di Sumba.

Pada kesempatan ini, dua orang artis nasional asal Sumba, yakni Rayen Pono dan Yucen Pandango dan seorang penyanyi cilik penyandang disabilitas Apliana Lelu ikut memeriahkan acara ini.

Rayen tampil dengan lagu ciptaannya Hope for Sumba guna membangkitkan semangat orang Sumba untuk memberi kontribusi bagi kampung halaman mereka.

Tarian Tala Kako, seni tari khas Sumba.
Ini juga tarian woleka, tradisi seni tari khas Sumba.
Pentas tarian tradisional khas Sumba di panggung acara.

Kredit: Emanuel Dapa Loka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here