Daya Ingat Melahirkan Semangat

0
198 views
Ilustrasi - Daya ingat berdasarkan photographic memory (FB)

SAYA menulis artikel ini di malam tahun baru. Di tengah desingan suara petasan dan kilauan sinar kembang api. Memekakkan telinga dan menyilaukan mata, membuat betah untuk terus berjaga.

Itu ritual yang terjadi setiap 12 bulan, setiap akhir tahun, setiap malam; menjelang tanggal 1 Januari.

Ritmenya sama, suasananya mirip. Membuat perasaan agak masygul. Entah karena apa, padahal toh berulang dan berulang kembali.

Sejatinya, tahun baru tak ada yang istimewa. Petang berganti malam dan malam menguak fajar. Tiba-tiba hari baru di tahun baru, telah tiba.

Pesta pora silakan saja. Tapi resolusi yang dicipta, biasanya sia-sia.

Semata-mata lantaran ulah manusia membagi waktu menjadi detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dst.

Ketika waktu terpecah maka mindset juga terbelah. Pelakunya manusia, “korbannya dia-dia” juga.

Tahun baru tiba (lagi). Semuanya kembali ke (ke)-hidup-(an) biasa. Seolah-olah perayaan dan hingar-bingar (di seluruh dunia) malam sebelumnya, hilang begitu saja.

Yang tinggal adalah kenangan. Setiap saat bertambah banyak. Ada yang manis, ada yang pahit. Bila menyenangkan mari disimpan. Bila pahit, buang saja.

Simak penggalan pesan Barbra Streisand dalam lagu berjudul The Way We Were.

Memories
May be beautiful and yet
What’s too painful to remember
We simply to choose to forget
So it’s the laughter
We will remember
Whenever we remember
The way we were
The way we were

Lagu yang judulnya kadang dikenal salah dengan Memories.

Memories punya dua arti.

Pertama adalah “kenangan”, yang kedua “daya ingat”. Mirip dan erat berhubungan.

Untuk menyimpan kenangan, orang butuh daya ingat. Diartikan sebagai kemampuan untuk menyimpan, dan mengingat kembali informasi di otak manusia.

Seperti fungsi tubuh lain, daya ingat juga menurun seiring bertambahnya usia. Kemudian berangsur menjadi pelupa.

Suatu saat kita teringat harus mengambil sesuatu. Di tengah jalan, teringat butuh yang lain. Maka yang terangkut yang kedua. Yang pertama malah tertinggal. Dua ingatan yang menumpuk justru bikin berantakan semuanya.

Itu baru dua. Kalau tiga atau lebih, bisa lebih runyam. Semuanya tak terbawa.

Nama kawan, tempat, jalan dan peristiwa adalah masalah lain.

Ingat wajah, tapi tak ingat nama. Ingat nama, lupa wajah. Ingat lokasi rumah, tak ingat alamat. Perjalanan waktu membuat nama sahabat terhapus dari catatan di dalam kepala. Apalagi di luar.

Jangan kata yang dulu dengan susah-payah dihafalkan. Pelajaran sejarah atau peta buta tergolong jadul. Mungkin sekarang tak lagi dihafal kata per kata oleh siswa di sekolah-sekolah masa kini.

Puluhan tahun lalu susah payah menghafal rumus kimia. Kini, hanya satu-dua yang masih nyangkut.

Untung, kemajuan zaman menjawab menurunnya daya ingat.

Ingin tahu siapa penemu lampu pijar?.

Tak usah cape-cape mencoba menguak isi kepala. Buka ponsel anda, dalam sekejab akan ketemu siapa dia.

Menghafal memang cara belajar yang paling dasar. Tapi sekali lagi, kemampuan otak untuk menyimpan bukan tak hingga. Lantas, buat apa banyak menghafal, kalau bakalan (lebih) banyak lupa?.

Meski luar biasa, daya-ingat ada batasnya. Daya-ingat yang terpelihara bisa menumbuhkan semangat. Semangat apa saja. Semangat kerja, semangat belajar, semangat mencinta bahkan semangat hidup. Maka, peliharalah daya ingat.

Konon, ada orang punya kemampuan photographic memory, namun memori punya usia. Berangsur pudar dan kemudian menguap entah ke mana.

Sungguh benar kalau Barbra Streisand menganjurkan untuk membuang ingatan pahit dan menyimpan kenangan manis. Selain agar kapasitas otak tidak overloaded, ia juga membuat bahagia. Hati yang bahagia menyehatkan tubuh, pada akhirnya berbuah perilaku positif.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22)

Tinggalkan tahun lama, songsong tahun baru dengan dada penuh riang-ria.

Hidup itu istimewa. Ada airmata, senyum, dan kenangan. Keringkan yang membasahi pipimu, bila itu hanya membuatmu duka. Senyum ada batasnya, tapi kenangan manis yang membahagiakan bertahan selamanya.

Life brings tears, smiles, and memories. the tears dry, the smiles fade, but the memories last forever.” (Malik Faisal)

Selamat Tahun Baru 2023.

@pmsusbandono
31 Desember 2022 (20.00)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here