Dekenat Malang Kota Gelar Program Bina Bersama untuk Pembina BIAK, REMAKA, dan OMK

2
141 views
Program Bina Bersama untuk Pembina BIAK, REMAKA, dan OMK se Dekenat Malang Kota. (Eustakia Esti)

ACARA ini dilaksanakan hari Minggu, 13 November 2022 di Wisma Carmelitas, Karangwidoro, Malang. Dihadiri oleh kurang lebih 100 orang pembina BIAK, REMAKA, dan OMK se-Dekenat Malang Kota.

Romo Henricus Suwaji O.Carm (Eustakia Esti)

Acara dimulai pukul 07.30 WIB dengan puji-pujian dan doa pembuka dilanjutkan dengan sesi pertama. Membahas tema “Memahami dan Melaksanakan Pedoman Pastoral” oleh Romo Henricus Suwaji O.Carm.

Romo Waji berpesan kepada semua pembina agar tidak pernah lelah membina diri, sebelum akhirnya membina anak-anak BIAK (Bina Iman Anak Katolik) REMAKA (Remaja Katolik, dan OMK di parokinya masing-masing.

Butuh panduan bahan ajar

Romo mengingatkan bahwa sidang Sinode Para Uskup 2020-2023 menitikberatkan pembaharuan Gereja secara berkesinambungan. Dipraktikkan melalui suatu semangat “berjalan bersama” dengan tiga karakter Gereja Sinodal yaitu persekutuan, partisipasi, dan misi.

Untuk perjalanan bersama, kata romo, maka dibutuhkan seorang pemimpin berikut “panduan” bahan ajar.

Buku panduan ajar iman untuk anak-anak, remaja, dan OMK.

Menindaklanjuti keluhan dari paroki-paroki tentang tidak adanya keseragaman panduan untuk bahan ajar, maka Keuskupan Malang tahun 2020 telah menyusun buku panduan pastoral. Diharapkan ini dapat menjawab kebutuhan para pembina di paroki. Sayangnya, buku ini belum terdistribusi dengan baik ke paroki-paroki.

Dijelaskan juga oleh Romo Waji bahwa buku panduan tersebut sebenarnya telah dirancang sedemikian rupa untuk kebutuhan pembinaan berdasarkan tujuan, sasaran dan strategi pada panca tugas gereja (persekutuan, pewartaan, liturgi, pelayanan, kesaksian). Materi juga disesuaikan dengan jenjang usia dan pertumbuhan hidup manusia.

Buku panduan juga diharapkan bersinergi dengan tujuan setiap bidang dalam Gereja yang dapat disajikan dalam bentuk tabel evaluasi perkembangan kematangan pribadi dan pertumbuhan iman umat.

Sesi kedua dan ketiga dibawakan oleh pasutri Ignatius Dedi dan Bu Indri dari Paroki Salib Suci Surabaya. Di sini para pembina dikumpulkan dalam tiga kelompok yaitu pembina BIAK, REMAKA, dan OMK. Masing-masing kelompok diajak berdiskusi mengenai kegiatan yang telah dilaksanakan di parokinya masing-masing beserta segala permasalahannya. Hasil diskusi bareng ini kemudian dipresentasikan.

Dalam sesi pendalaman tentang ”Kualitas Seorang Pendamping”, Pak Dedi -ketua tim formasi paroki yang membawahi BIA, REMAKA, OMK, lansia dan difabel- menyadarkan kita. Tentang kesulitan bagaimana mampu mengumpulkan anak-anak Katolik untuk program pembinaan.

Sulit, kata dia, karena Gereja masa kini adalah Gereja penuh dinamika. Sehingga model pengajaran zaman dulu dirasa sudah tidak tepat lagi dengan kondisi dan kebutuhan anak-anak sekarang.

Paparan materi disampaikan oleh pasutri Ignatius Dedi dan Bu Indri dari Paroki Salib Suci Surabaya tentang apa itu “second home” dan “second parent” bagi anak-anak yang mengikuti program bina iman di luar rumah. (Eustakia Esti)

Kualitas seorang pendamping juga menjadi penentu agar mereka bisa dapat menjadi pewarta sabda yang efektif.

Ia juga menyampaikan hal ini. Kegiatan perencanaan pendampingan serupa dengan kegiatan event organizer di mana setiap kegiatan harus dirancang sedemikian rupa demi pembinaan iman Katolik.

Dengan menitikberatkan kualitas berdasarkan ajaran Kitab Suci dan tradisi ajaran Gereja (magisterium) serta pengajaran kreatif.

Second home, second parent

Konsep second home adalah istilah untuk menjadikan kegiatan pembinaan sebagai rumah kedua bagi anak-anak.

Itu sekaligus bertujuan menjaring umat agar dapat lebih berperan aktif. Salah satunya dengan membuka pintu rumahnya bagi kegiatan pembinaan di lingkungannya masing-masing.

Konsep second parent menjadikan pembina sebagai sahabat atau “orangtua kedua” bagi anak manakala anak-anak itu tak bisa terbuka sepenuhnya untuk berkisah tentang masalah-masalah pribadi kepada orangtuanya sendiri.

Pal Dedi juga menjelaskan mengenai teori management event yang dapat diterapkan dalam perencanaan kegiatan pembinaan anak.

“Olahraga” sejenak di tempat untuk mengurangi rasa bosan sepanjang berlangsungnya paparan tentang program ajaran iman bagi anak-anak, remaja, dan OMK. (Eustakia Esti)

Teori tersebut mencakup tahap persiapan, pelaksanaan dan penuntasan. Setiap event pembinaan juga diharapkan berakhir dengan membawa sukacita, memorable dan menghasilkan pertumbuhan iman bagi semua anak yang didampingi.

Acara ditutup pukul 15.30 oleh Romo Albertus Medyanto O.Carm, Koordinator Moderator BIAK, Remaka dan OMK Dekenat Malang Kota.

Imam Karmelit alumnus Seminari Menengah KAJ “Wacana Bhakti” dan Kolese Gonzaga Jakarta ini  mengingatkan akan pentingnya membuat grup WA bagi pendamping agar dapat saling bertukar informasi dan syering pengalaman.

Romo berkeinginan akan mempertemukan kembali seluruh pembina dalam waktu 3-6 bulan mendatang. Dengan tujuan ingin mengevaluasi perkembangan pembinaan, setelah mempraktikkan apa yang didapat pada program pembinaan hari ini.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here