Dengan Tali Senar Boneka Yesus Diturunkan di Palungan

0
4,493 views

Kegiatan umat menjelang Natal entah itu pendalaman iman, novena natal, penjualan beras murah untuk orang miskin, donor darah, latihan koor, pesta umat atau dekorasi natal dimaksudkan agar umat tidak sekadar memeriahkan perayaan liturgis tiap tahun. Namun agar umat makin menghayati dan menjiwai makna natal itu sendiri. Tanpa gerakan apapun atau sekadarnya saja seperti tahun lalu, kehidupan menggereja umat kurang dinamis dan kering dalam menghayati makna natal.

Karena itu agar suasana ini tidak terjadi, dekorasi natal di Gereja Paroki Santo Lukas Pemalang pada tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Gua natal dibuat besar, meliputi seluruh panti imam (panjang 10 m, lebar 6 m) sehingga altar berada di dalam gua. Menurut beberapa umat, baru kali ini dekorasi dibuat sebesar ini. “Saya sudah 23 tahun di sini, baru melihat gua natal di gereja sebesar dan sebagus ini.” ujar salah satu umat.

Yang lain lagi mengatakan,”Orang yang pernah menginginkan bikin gua natal sebesar ini sekarang sudah meninggal, baru idenya terlaksana”.  Romo Handoko MSC menyebutkan bahwa ini adalah dekorasi terbesar yang pernah dilihatnya di Keuskupan Purwokerto saat mampir di Gereja Paroki St. Lukas Pemalang.

Pembuatan gua ini diprakarsai romo paroki yang awalnya hanya “glenak-glenik” (diskusi kecil) dengan sie dekorasi kepanitiaan Natal. Tidak ada desain yang jelas pada mulanya, sehingga mereka masih tampak bingung. Dalam sebuah pertemuan komunitas basis III Lingkungan Ignatius, dibicarakan dan dirancang bersama pembuatan gua oleh sie dekorasi kepanitiaan natal (Bp. Sunarto, Bp. Lorensius Widi Raharjo, Bp. Beni Harsono didukung warga Kombas III Lingkungan St. Ignatius seperti Bp. Budi, Pak Juwakir, Mas Sugiono, Mas Wawan dan kawan-kawan). Proses dimulai pada Minggu, 11 Desember 2011 dengan membedah kantong semen dan mendirikan rangka gua dari bambu.

Kantong semen terkumpul dari sumbangan beberapa umat dengan total 653 kantong semen (tigaroda: 414, holcim: 146, Padang: 93). Selanjutnya setiap malam dilakukan pemasangan ranting pohon dan kertas semen sebagai dinding gua. Mereka bekerja dari pukul 19.00 hingga 23.00 wib karena siang hari harus menjalankan pekerjaan masing-masing entah sebagai guru SMA, karyawan swasta, pelajar skolah, dll. Kalau hari Minggu mereka bisa bekerja setelah misa pagi pk. 09.00 Wib.

Setelah dinding gua terbentuk, dilakukan penyemprotan cat dan pemasangan ornamen tulisan Gloria in Exelcis Deo serta pembuatan palungan kanak-kanak Yesus.

Teologi Inkarnasi
Hal yang akan lain daripada yang lain ialah penurunan kanak-kanak Yesus dari atas ke palungan. Biasanya dalam liturgi natal, kanak-kanak Yesus diarak oleh sepasang suami istri yang menjadi simbol Maria dan Yosep, namun natal kali ini tidak memakai perarakan kanak-kanak Yesus. Didahului lagu “O Tuhan Datanglah” dilanjutkan nyanyian Malam Kudus, boneka kanak-kanak Yesus akan diturunkan pelan-pelan dari atas dengan tali senar yang kuat, disorot lampu lalu ditempatkan di palungan. Boneka akan diberi lampu seperti bintang terang sehingga umat akan terfokus memandangnya.

Inilah gambaran turunnya anugerah ilahi dari surga bagi dunia dalam rupa kanak-kanak Yesus, Sang Penebus dosa dan Penyelamat dunia. Ia bukan dari dunia namun rela datang ke dunia demi keselamatan umat manusia. Peristiwa Natal adalah suatu Pewahyuan Ilahi. Allah punya kepentingan atas keselamatan manusia, terlepas dari butuh tidaknya umat.

Banyak kejadian di tengah umat menggambarkan dengan jelas bahwa kedatangan Yesus itu tidak diinginkan, ditolak, disingkirkan, namun atas prakarsa Allah sendiri, maka natal terjadi. Umat sering sulit ke gereja, hanya kalau natal dan paskah saja, sering menolak untuk ketempatan ekaristi lingkungan, sering menolak ketika diberi amplop dharma bakti, sering menolak untuk “caos dhahar” (jawa: memberi suguhan makan) untuk para imam di parokinya.

Inilah gambaran situasi umat yang sulit melayani dan menyambut kehadiran Tuhan. Namun demikian, apapun situasinya, Allah tetap datang. Maka bukan karena diarak dan dibawa oleh manusia, tetapi turun dari atas, betul-betul karena pewahyuan ilahi. Perarakan kanak-kanak Yesus dari belakang ditiadakan, supaya sang pembawa tidak menjadi angkuh, seakan kehadiran Tuhan terjadi karena usaha manusia. Bukan demikian.

Pesan lingkungan hidup
Palungan adalah tempat pakan ternak, kotor dan sangat sederhana. Sebenarnya tempat itu tidak pantas untuk tahta Kanak-Kanak Yesus. Namun atas kehendak-Nya,  hal yang sederhana menjadi sarana penyelamatan. Palungan berada di atas bola dunia (globe) dengan segala persoalan dan kelemahannya. Di bawah globe ditempatkan exhouse fan yang diberi lampu merah, diberi potongan kertas krep merah yang bergerak seperti api membara, yang menggambarkan bumi yang terbakar panas (simbol pemanasan global).

Di dunia ini banyak perilaku manusia yang jahat, merusak dan bahkan menghancurkan bumi itu sendiri. Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Sejak akhir abad 18 suhu rata-rata global bumi telah meningkat sekitar 0,4 – 0,8 °C. Para ilmuwan memperhitungkan bahwa suhu rata-rata bumi akan meningkat menjadi 1,4 – 5,8°C pada tahun 2100.

Nilai peningkatannya menjadi lebih besar dibandingkan dengan nilai-nilai peningkatan yang pernah terjadi sebelumnya. Para ahli mengkawatirkan bahwa kehidupan manusia dan ekosistem alam tidak akan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim yang sangat cepat. Suatu ekosistem adalah terdiri dari lingkungan biotik dan abiotik di wilayah tertentu. Pemanasan global dapat menyebabkan banyak kerusakan. Sebagian besar ahli berkesimpulan bahwa kegiatan manusialah yang menjadi penyebab utama meningkatnya pemanasan global yang seringkali dikenal dengan efek rumah kaca.

Kegiatan manusia yang menimbulkan pemanasan global adalah pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam dan pembukaan lahan. Sebagian besar pembakaran berasal dari asap mobil, pabrik, dan pembangkit tenaga listrik. Pemanasan global yang terus menerus dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan. Tanaman dan binatang yang hidup di dalam laut menjadi terganggu. Binatang dan tumbuhan di daratan terdorong untuk berpindah ke habitat yang baru.

Pola cuaca yang berubah menimbulkan banjir besar, kekeringan, angin kencang, dan badai besar. Mencairnya es di kutub mengakibatkan peningkatan permukaan air laut. Penyakit-penyakit menyerang manusia secara meluas dan terjadi penurunan hasil panen di beberapa wilayah. Jika bumi sebagai tempat tinggal manusia tidak lagi nyaman, maka timbul banyak keresahan, situasi memanas, rentan konflik, ketidakadilan sosial dan tindak kriminalitas di mana-mana.

Kita dapat membantu mengurangi efek pemanasan global dengan menggunakan kendaraan umum, memilih kendaraan yang hemat bahan bakar, energi alternatif selain fosil, penggunaan peralatan yang hemat listrik, mengurangi pemakaian kertas, mengurangi penggunaan minyak goreng dan menanam pohon untuk penghijauan.

Dekorasi gua natal Gereja Santo Lukas Pemalang tahun ini juga memuat pesan pastoral lingkungan hidup (ekopastoral). Pesan yang mau disampaikan ialah “cintailah bumi karena bumi menjadi tempat kehadiran Sang Juru Selamat, yakni Yesus Kristus”.

Bumi dengan segala persoalannya dipilih sebagai palungan bagi Tuhan. Demikian pula bumi/dunia kita baik itu masyarakat, gereja, keluarga maupun pribadi kita masing-masing menjadi palungan bagi Tuhan. Inilah anugerah besar bagi kita. Perayaan misteri Natal sekaligus menjadi undangan untuk bergegas menyambut Dia yang lahir bagi kita. Immanuel, Allah beserta kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here