Di Balik Awan, Selalu Ada Sinar Matahari

0
147 views
Ilustrasi -- Pertobatan (Ist)

HABIS gelap terbitlah terang. Matahari bersinar lagi.

Sinar bulan dan cahaya bintang tetap bercahaya di tengah kegelapan. Manusia kembali berjalan dalam pengharapan.

Ia hidup lagi dengan keyakinan baru.

Kegelapan dilenyapkan oleh terang. Kuasa kematian dihalau oleh rahmat kebangkitan. Allah meraja, menarik setiap hati kembali kepada-Nya; memberikan hidup ilahi.

Bacaan dari Kis 10: 34a, 37-43; Kol 3: 1-4; Yoh .20: 1-9.

Kita merayakan iman kita akan kebangkitan Kristus. Kita diundang bersukacita dan menyerukan, “Kristus telah wafat, Kristus telah bangkit, Kristus akan kembali”.

Inilah Misteri Agung iman kita.

Tanpa kebangkitan, kematian Kristus hanya sebuah duka yang berkepanjangan; Paskah menjadi sebuah perlucutan kasih. Tanpa kedatangan-Nya kembali, kita tidak akan berbagi dengan kebangkitan-Nya

Paskah berarti sukacita dalam Tuhan. Derita tetap ada, namun dengan  kuasa kebangkitan penderitaan dalam iman dapat  menjadi persembahan hidup.

Paskah menguatkan keyakinan; membangkitkan kepercayaan bahwa aku dicintai tanpa batas.

Paskah memberiku kegembiraan. Ia memelihara hatiku dengan penuh kerahiman.

“Romo, saya ingin mendapat Sakramen Rekonsiliasi,” ungkap seorang umat.

“Kapan ya?”

“Mari datanglah. Gereja ingin engkau kembali dalam pangkuannya. Tuhan pun menantimu.”

Dengan wajah sendu, kami pun masuk ruang rekonsiliasi; merayakan Sakramen Tobat.

Ia baru sebulan yang lalu merayakannya.

Setelah mengakukan sesuatu yang dianggapnya dosa, air matanya menetes.

“Apakah dosa ini sudah pernah diakukan sebelumnya?”

“Sudah Romo. Tetapi hati saya tidak tenang; selalu terbayang dan doa pun tidak dapat khusuk.”

“Apa sebabnya?”.

“Saya takut mati dalam keadaan berdosa, Romo. Saya berusaha menjadi seorang Katolik yang baik. Tetapi apa yang saya lakukan kadang malah tidak baik, menyakiti keluarga dan bahkan membuat saya benci dengan diri sendiri. Mengapa saya lakukan itu? Saya merasa sudah mengkhianati iman dan tidak teguh pada pendirian. Tuhan benci saya.”

“Apakah engkau diciptakan sebagai malaikat atau seorang manusia?”

 Tidak ada yang sempurna, tanpa noda, dan dosa. Untuk itulah Ia datang.

“Apakah engkau mau percaya pada Tuhan yang penuh kasih?”.

“Iya Mo.”

“Apakah engkau berani belajar percaya, Ia adalah jalan kebenaran dan kehidupan yang membawa engkau sampai kepada Bapa?”

“Tapi hatiku selalu gundah Romo.”

Manusia gampang terbenam dan membenamkan diri dalam pengalaman-pengalaman duka. Bukannya belajar dari pengalaman, tetapi justru terjerat sedih, bersembunyi di balik kegagalan-kegagalan. 

Bangkit dari keterpurukan dan membangun niat tidaklah mudah. Iblis selalu  menarik kita terikat dan teringat kembali pada hal-hal duka dan dosa. Kuasanya memutuskan harapan; mematahkan keinginan baik dengan mengingat-ingat kesalahan masa lalu.

Istilah rohaninya: skrupel.

Percayalah Tuhan tetap menemani, menyertai pada saat-saat kita lumpuh. Bersabar dalam doa yang tulus tanpa putus. Setidak-tidaknya, biarkanlah Tuhan Yesus menyentuh hatimu, menjumpaimu.

Misteri Paskah meneguhkan iman kita. Ia tidak akan mengecewakanmu; tak pernah lelah dan bosan mengampuni.

Dalam pelukan  lembut, Ia memulihkan hidup; mengembalikan rahmat keputraan Ilahi.

Percaya sepenuh hati akan kasih dan pengampunan-Nya, itulah Paskah.

Warta Nabi Yesaya, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba”, 1: 18.

Selamat Paskah. Bersukacitalah. Alleluia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here