Di Panti Wreda Catur Nugraha: Mak Suster Iendrawati PMY Siapkan Orang Bisa Mati Baik Bermartabat (1)

0
577 views
Mbak Suster Veronica Ien Indrawati PMY dan salah satu oma yang menjadi penghuni Panti Wredha Nugraha di Kaliori, Banyumas, Jateng. (Romo Nico Belawing Setiawan OMI)

MAK Suster, panggilan akrab di keluarga, ini rajin mengikuti ibadat atau misa peringatan arwah di lingkungan.

Juga selalu meluangkan waktu hadir di keluarga yang sedang berdukacita merupakan bentuk perhatian dan option-nya terhadap orang yang susah. 

Beberapa kali, Mak Suster mengungkapkan tentang kematian kepada Liem Tjay.

Kalimat yang selalu keluar dari hati Mak Suster: “Kok saya tidak dipanggil Tuhan. Kapan ya giliran saya?”

Liem Tjay merekam ungkapan hati Mak Suster, sambil terus mencari alasan yang mendasar bagi Mak Suster alias Sr Veronika Indrawati PMY.

Ia baru saja merayakan pesta emas hidup membiara selama 50tahun, tanggal 7 Juli 2021 di Biara Pusat Susteran PMY Wonosobo, Jateng.

Tiap hari bersama opa oma di panti jompo

15 tahun sudah, Mak Suster tinggal dan hidup bersama dengan sejumlah opa oma di Panti Wreda Catur Nugraha, Kaliori, Banyumas, Jateng

Mak Suster mempersiapkan lokasi dan pembangunan rumah Panti selama dua tahun (2004-2006), sementara itu dia tinggal di Wisma Serayu – masih satu lingkungan dengan Paroki Banyumas.

Mak Suster inilah yang memulai dan merintis pelayanan kemanusiaan bagi para opa oma pada tahun 2004, atas permintaan almarhum Mgr. Julianus Sunarka SJ, Uskup Keuskupan Purwokerto waktu itu.

Tentu saja juga atas tugas pengutusan yang diberikan kepada Mak Suster oleh pemimpin Suster PMY di Wonoso.

Kongregasi Suster Puteri Maria Yoseph (PMY) lalu secara resmi mengutus Sr. Veronika Iendrawati PMY untuk memulai proyek ini.

Menemani dan menyiapkan orang mati secara baik dan bermartabat

Kehadirannya di tengah kehidupan para lansia adalah pemberian diri kepada Tuhan sebagai seorang biarawati. Bukan hanya sekedar hadir dan melayani, mengatur Panti Wreda agar tetap eksis.

Namun pelayanan kasih ini memiliki misi yaitu menemani, membawa para opa dan oma untuk menikmati masa tua dengan bahagia, damai, tenang dan merasa dihargai, diterima dan akhirnya siap menerima panggilan Tuhan.

Begitu mulia misi kemanusiaan sekaligus misi religius yang diemban oleh Mak Suster.

Ada kelegaan tersendiri sebagai penghiburan rohani bagi Mak Suster, ketika dia bisa mempersiapkan dan mengantarkan salah satu opa atau oma kembali ke Rumah Bapa dengan damai dan bahagia.

“Romo, saya sudah merasa bersyukur ada tempat untuk pemakaman, walaupun hanya sebidang tanah di Kawasan Gua Maria Kaliori. Bagi saya, itu berarti para penghuni panti ini sangat dihargai sebagai manusia ciptaan Allah. Meninggal dan diperlakukan dengan baik.”

Demikian Mak Suster mengungkapkan kisahnya kepada Liem Tjay di Susteran PMY Kaliori, Banyumas.

Pesta emas 50 tahun membiara Sr. Veronica Iendrawati PMY di Biara Pusat Kongregasi Suster PMY di Wonosobo, Jateng. (Dok. Kongregasi PMY)

160 opa oma dipanggil Tuhan

Menurut Mak Suster, sejak berdirinya Panti Wreda ini terhitung sudah ada 160-an opa-oma penghuni panti yang telah dipanggil Tuhan menjadi penghuni abadi di rumah Bapa di surga.

Ada yang dimakamkan di Pemakaman Gua Maria Kaliori. Namun, ada juga yang dikembalikan ke keluarga.

Mak Suster menemani dan melepaskan satu demi satu dengan airmata kebahagiaan.

“Kapan giliran saya, ya Tuhan Engkau memanggil aku!” pinta nya dalam hati sambil membiarkan air mata menetes untuk mengucapkan selamat jalan.

Setiap hari, Mak Suster yang sudah usia ini tetap bersemangat tinggal bersama para jompo di Panti Wreda.

Liem Tjay mengamini dan bisa menerima apa yang diungkapkan Mak Suster tentang kematian.

Karena dia setiap saat harus berjumpa dan mengalami keseharian hidup opa oma yang sudah jauh dari keluarga sampai mereka menyelesaikan akhir hidupnya di panti wreda tanpa kehadiran keluarga.

Irama kehidupan di panti ini adalah sebuah kekuatan rohani bagi Mak Suster untuk menghayati hidup membiara sampai 50 tahun.

Tentunya Mak Suster sangat berharap dan menjaga panggilan suci ini akan berakhir pada waktunya sampai dia sendiri nantinya akan dijemput oleh Tuhan dalam peristiwa kematian.

Lho Suster kok suka kuliner?

Seorang ibu dari Jakarta dengan heran bertanya kepada Liem Tjay demikian ini.

“Romo, Suster Ien itu kok bisa sampai tahu di mana warung makan, masakan enak, sehat dan murah?” tanyanya super kepo.

Liem Tjay dengan santai lalu menjawabnya dengan menjelaskan demikian.

“Kalau tidak jalan-jalan sembari bisa menikmati sajian kuliner lokal, maka hal itu jelas bukan salah satu karakter Sr Ien,” jawabku mantul.

Dengan tetap disertai rasa ingin tahu besar dan keingina mau mengenal pribadi Suster Iendrawati PMY ini, maka ibu itu langsung bertanya: “Mengapa bisa begitu, Romo?”

Kisah kuliner dengan Mak Suster.

“Saya masih ingat sehari sebelum Mak Suster berulang tahun, ia mengajak aku pesan nasi rames di Warung Sawo. Inilah warung nasi rames legendaris di salah satu lorong kecil di Banyumas.

Mak Suster turun dari mobil, lalu jalan pelan pelan sambil pegang “tongkat kebesarannya”, masuk ke warung kecil.

Masuk warung yang sederhana bagaikan dirinya masuk ke rumah sendiri. Biasa ,namun sederhana. Luar biasa, namun sahaja.

Menurutku inilah sosok pribadi Mak Suster yang terbiasa melakukan blusukan sambil sering-sering selalu suka hati mau menyapa orang kecil.

Aku pun ikut masuk ke Warung Rames Sawo.

Keluwesan Mak Suster ini benar-benar nyata dalam sapaan dan cara memesan nasi rames kepada Mbah Kartono (68 th).

“Mbah, pesan nggih sega rames kanggo ngesuk; 60 wungkus, lawuhe mendoan bae, pira? (Mbah pesan nasi rames  buat besok sebanyak 60 bungkus, berapa ongkosnya?)

Maka, inilah jawaban Mbah Kartono:

Sewungkus sega rames Rp 3.500,- karo tempe mendoan siji Rp 500,00, dadi kabeh Rp 240.000,00 (Sebungkus nasi rames Rp 3.500,00 dengan tempe mendoan satu Rp 500,00; jadi semua Rp 240.000,00).”

Sambil membayar, lalu Mak Suster mengungkapkan makna memesan nasi rames kepada Liem Tjay demikian.

“Yang ‘mahal’ di warung ini adalah persaudaraan dan kekeluargaan. Juga keramahan yang ditampilkan oleh Mbah Kartono ini.

Nasi rames yang sederhana, enak dan murah adalah sarana untuk menyalurkan kekuatan pelayanan Mbah Kartono kepada para pelanggan,” kata Mak Suster Iendrawati PMY.

Liem Tjay hanya mengangguk sambil menyimpan kekaguman atas peristiwa yang langka.

Liem Tjay menangkap pengalaman ini sebagai bentuk konkrit kehadiran kaum berjubah yang mau turun ke bawah.

Inilah wajah Gereja yang menyapa dan menyentuh kalangan masyarakat bawah. Khususnya mbah-mbah, emak, ibu-ibu warung warung rames di pagi hari di daerah Banyumas.

Liem Tjay lalu nekad bertanya kepada Mak Suster.

“Suster, mengapa hanya nasi rames seharga Rp 4.000 ,- untuk ulang tahun? Maukah dipesankan kue?” tanyaku nakal.

Dengan santai, Mak Suster memberi jawaban ini.

“Opa oma senang lho dibelikan sebungkus nasi rames. Biar mereka menikmati juga hari ulang tahun kelahiran saya. Itu sudah cukup meriah untuk berbagi berkat Tuhan kepada mereka,” jawabnya mantul.

Mak Suster lalu menambahi penjelasan lagi.

“Begini Romo, opa oma ini berasal dari keluarga kecil dan miskin, tinggal di kampung. Mereka juga rindu makan jajanan kampung seperti nasi bungkus ramesan, tempe mendoan. Mereka sangat senang dan menikmati nasi rames ala kampung,“ begitu Mak Suster Iendrawati PMY memberi alasannya.

Sr. Veronica Iendrawati PMY selalu ramah menyapa setiap orang yang punya hati emas untuk berbagi bagi sesama. Termasuk kepada ibu penjual nasi rames langganannya bernama Mbah Kartono yang biasa dipesan untuk konsumsi opa oma di Panti Wreda Catur Nugraha di Kaliori, Banyumas. (Romo Nico Setiawan OMI)

Sederhana dan rendah hati

Kesederhanaan dan kerendahan hati itulah yang mau diungkapkan dan ditekankan oleh Mak Suster di usianya yang senja.

Berbagi dan makan bersama nasi rames dan tempe mendoan di hari ulang tahun dialami sebagai rahmat Tuhan dalam hidup Mak Suster.

Lebur dalam karya dan pelayanan para jompo itulah makna hidup bagi seorang suster biarawati Puteri Maria dan Yosep (PMY) bernama Veronika Ien Indrawati asal Wonosobo,yang sudah melakoni 50 tahun hidup membiara.

Pertanyaan refleksi

Tanya Liem Tjay dalam hati.

“Apakah aku ini seorang pastor yang sederhana dan rendah hati? Kesederhanaan bukan diperoleh lewat bangku sekolah atau kuliah di perguruan tinggi. Namun kesederhanaan itu dialami, digeluti, ditekuni dalam kehidupan nyata keseharian.”

Menurut Liem Tjay, orang yang sederhana dan rendah hati dapat memandang segala sesuatu dengan ketergantungan dan kepercayaan penuh kepada Dia yang diandalkannya.

Ia hanya mencari yang terbaik dari yang terbaik. Yang tidak lain adalah Allah sendiri. Orang yang sederhana dan rendah hati selalu mengarah kepada rahmat dan kebenaran.

Kerendahan hati membiarkan hanya Allah yang berkarya dalam dirinya.

“Kalau begitu, mampukah aku sampai pada pemahaman dan pengalaman seperti itu?”

Inilah pertanyaan yang selalu mengusik hati Liem Tjay dalam mengemban tugas pastoral di paroki. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here