Di Riau, Sr. Chatrine OSF (80) Belajar Bijak dari Semut Ngangkrang, Bunuh 40 Ular Kobra (1)

0
169 views
Sr. Chatrine OSF (Mathias Hariyadi)

JULIA Rudijanti adalah nama asli pemberian orangtuanya. Begitu masuk biara karena ingin menjadi suster biarawati Kongregasi OSF Semarang, ia masuk Postulat OSF di Gedangan tahun 1070. Untuk selanjutnya, Rudijanti lalu mengadopsi nama biara menjadi Sr. Chatarina OSF.

Di lingkaran Kongregasi OSF Semarang, suster yang kini sudah sangat sepuh -di tahun 2022 ini sudah berumur 80- ia lebih dikenal sebagai Sr. Chatrine OSF.

Begitu mengucapkan Kaul Pertamanya tahun 1972, ia langsung bertugas di banyak tempat. Antara lain di Muntilan, Solo, Ambarawa, Riau, dan kini -yang terakhir- di Boro, kawasan Bukit Menoreh, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Mengawali kariernya sebagai guru SD Kanisius Gayam Yogyakarta

Ditemui di ruang tamu Susteran OSF di Boro jelang tengah malam, yang awalnya tidak mau bicara banyak karena merasa diri tidak pandai “bicara”, namun kemudian dengan amat semangat pula Sr. Cathrine OSF malah bisa bicara panjang lebar tentang sejarah panggilan hidupnya.

Ia pertama-tama mengawali hidupnya sebagai guru di Yogyakarta. Ia bekerja sebagai guru di SD Kanisius Gayam. Sepanjang hidupnya, ia menempuh pendidikan dasar sampai menengah dan sedikit di perguruan tinggi – semuanya di lembaga pendidikan negeri.

Barulah ketika mulai bekerja sebagai guru, ia “terdampar” di sekolah Katolik SD Kanisius Gayam. Dan rupanya, karier pertamanya sebagai guru SD swasta Katolik di Gayam, Yogyakarta, inilah yang akhirnya mengubah kiblat dan sejarah hidupnya selanjutnya sampai sekarang.

Sr. Chatarina OSF asal Boro, Kulon Progo, DIY, saat masih muda belia, usai mengucapkan kaul pertamanya sebagai suster biarawati Kongregasi OSF Semarang tahun 1972. (Dok. Kongregasi OSF Semarang via Sr. Theresio OSF)

Sr. Prisca OSF dan Romo Alexander Djajasiswaja Pr dari Kidul Loji

Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr pernah menjadi Pastor Paroki Kidul Loji tahun 1970-an sebelum tahun-tahun kemudian menjadi Uskup Keuskupan Bandung. (Ist)

Sekali waktu, sebagai tenaga pendidik SD Kanisius Gayam, ia diikutsertakan hadir dalam sebuah lokakarya mengajar. Di arena pertemuan para guru inilah, Julia Rudijanti muda lalu bertemu dan berkenalan dengan Sr. Prisca OSF -juga seorang guru- dari Biara OSF di Jl. Senopati, Kidul Loji, Kota Yogyakarta.

Perkenalan dengan Sr. Prisca OSF ini berbuah manis di kemudian hari. Karena, tiba-tiba saja hati Yulia Rudijanti muda kemudian terinspirasi akan model panggilan hidup bakti dan tertarik ingin menjadi suster OSF.

Dan kebetulan Pastor Paroki Gereja Kidul Loji waktu itu yakni Romo Alexander Djajasiswaja Pr lalu memberinya sebuah buku bacaan rohani berisi kisah hidup Santo Fransiskus Assisi.

“Saya juga ingin menjadi ‘orang’ seperti dia. Bagi saya, Santo Fransiskus Assisi adalah sosok religius pencinta alam.

Dan karena saya suka biologi dan alam, maka saya ingin bergabung masuk dengan OSF yang spiritualitasnya berasal dari Orang Kudus bernama Santo Fransiskus dari Assisi,” jawab Sr. Chatrine OSF kepada Titch TV dan Sesawi.Net pertengahan Juli 2022 lalu.

Sr. Prisca Kemidjem OSF – seorang guru yang menjadi tokoh inspirator bagi Sr. Chatrine OSF hingga kemudian mau menjadi suster biarawati. (Dok. Kongregasi OSF Semarang via Sr. Theresio OSF)

Kisah indah di Riau

Sr. Chatrine OSF sungguh tak pernah membayangkan betapa sungguh “beratnya” tantangan hidup dan berkarya di Riau.

Di areal sekolah TK-SD-SMP Marsudirini Riau dan Biara OSF yang luasnya kurang lebih ada 6ha, Sr. Chatrine OSF diberi tugas dan tanggungjawab sebagai guru dan mengelola kebun.

“Tapi yang namanya kebun di Riau itu kan luas banget. Ada kurang lebih 6 ha dan isinya hanya ilalang yang tumbuh liar dan sangat tinggi,” ungkapnya tentang Biara OSF
Tritunggal Mahakudus” di Perawang, Riau.

Tapi di situlah, katanya lebih lanjut, ia merasa bangga. Karena merasa telah ditolong dan dibantu oleh orang-orang lokal untuk bersama-sama membersihkan ilalang dan kemudian “mengisi” lahan seluas itu dengan menanam pohon buah-buahan.

“Di kebun yang luas itulah, saya sering terkesan menyaksikan kekompakan semut-semut ngangkrang,” kata Sr. Chatrine OSF dengan nada pasti.

“Saya melihat di antara mereka -semut-semut merah ukuran besar itu- seakan terjadi ikatan sangat kuat,” jelasnya.

Ilustrasi-Koloni Semut (Andrey Armyagov)

Lain lagi soal ular-ular kobra yang sering ikut “numpang hidup” di areal kebun itu. Karena bahaya dengan bisa racunnya yang bisa membunuh manusia, kata Sr. Chatrine OSF kemudian, imaka dia juga tak pernah ragu untuk “men-sukabumi-kan” ular-ular kobra itu dan kemudian menguburkannya.

“Lebih baik dimatikan daripada menjadi nantinya sumber celaka bagi manusia, karena gigitannya yang sangat berbisa,” ungkapnya memberi alasan mengapa dia sampai berani “bertarung” dengan ular-ular kobra itu.

Bahkan, jumlahnya sampai 40 ekor ular kobra yang pernah diburunya.

Enam suster OSF dari Riau

Satu hal yang membuatnya sangat bangga menjadi seorang suster biara OSF Semarang. Ini dia alami di Riau, saat menekuni panggilan hidupnya sebagai seorang guru.

“Betapa senangnya, ketika saya bisa mengajak mereka masuk kebun dan menerangkan ini dan itu kepada para murid. Di kebun itulah, mereka belajar biologi,” ungkapnya.

Tentu hal ini juga semakin membuatnya berbangga hati dan bahagia. Dari sekian banyak mantan muridnya di Riau itu, sebagian kecil dari mereka telah mengikuti jejaknya menjadi Suster OSF.

Tetap senang di kebun

Di Boro yang super sejuk dan tenang, Sr. Chatrine OSF kini menikmati hari-harinya dengan mengurusi kebun. Tak seberapa luas memang.

Di situ ia benar-benar rajin menyeleksi “alam”. Daun-daun kering dia bersihkan. Lalu juga berhasil menanam kecombrang yang -kata dia- di Biara OSF Riau tak sempat dia tanam.

Di Susteran Boro itu pula, Sr. Chatrine tertib dan rajin menutup semua pintu. Bukan apa, karena sering muncul kucing-kucing liar yang kemudian suka buang hajat di mana-mana. (Berlanjut)

Kredit: Titch TV

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here