Dibawa atau Ditinggalkan

0
88 views

Jumat, 14 November 2025

Keb. 13:1-9
Mzm. 19:2-3,4-5
Lukas 17:26-37

KESELAMATAN adalah anugerah, tetapi juga tanggung jawab pribadi.

Kita tidak bisa “menumpang selamat” pada iman orang lain, entah itu keluarga yang saleh, komunitas yang aktif, atau lembaga Gereja yang kudus.

Setiap orang dipanggil untuk menghidupi imannya secara nyata, misalnya dengan mengasihi ketika hatinya terluka, dengan menempatkan Tuhan di atas segalanya ketika dunia menawarkan seribu hal yang lebih menggiurkan.

Sering kali kita merasa aman karena “sudah berada di dalam Gereja” atau “sudah ikut kegiatan rohani.”

Tetapi tanpa pertobatan batin, tanpa perjuangan untuk hidup benar, semua itu hanya kulit luar.

Tuhan melihat hati, bukan keanggotaan. Ia mencari iman yang berbuah dalam tindakan, kasih yang teruji dalam keputusan, dan kesetiaan yang nyata di tengah tantangan.

Keselamatan bukan soal siapa kita di depan manusia, tetapi bagaimana kita menjawab kasih Allah setiap hari. Kita tidak bisa menyandarkan diri pada iman komunitas tanpa menumbuhkan iman pribadi.

Maka, setiap keputusan, besar atau kecil, adalah ladang tempat kita menanam benih keselamatan: ketika kita memilih jujur daripada curang, mengampuni daripada membalas, memberi daripada menuntut, mengasihi daripada membenci.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”

Yesus ingin menegaskan bahwa pada akhirnya, keselamatan bersifat sangat pribadi. Kedekatan fisik, relasi sosial, atau kebersamaan lahiriah tidak menjamin kesamaan nasib rohani.

Dua orang bisa hidup berdampingan, beraktivitas bersama, bahkan berada di tempat yang sama, namun hati mereka mungkin berada di dua dunia yang berbeda.

Yesus berbicara tentang kesiapsiagaan batin. Tidak cukup hanya “bersama” secara lahiriah dalam Gereja, keluarga, atau komunitas iman.

Yang menentukan adalah bagaimana setiap orang mempersiapkan diri di hadapan Tuhan. Apakah hatinya hidup dalam kasih, dalam ketaatan, dalam pertobatan yang sungguh, ataukah tenggelam dalam rutinitas tanpa arah rohani?

Yang “dibawa” bukanlah mereka yang paling tampak rohaninya, tetapi mereka yang hatinya sungguh siap, yang hidup dalam kesetiaan dan keterbukaan terhadap kasih Allah.

Sementara yang “ditinggalkan” bukan berarti dihukum tanpa sebab, tetapi karena hatinya tidak terjaga: mungkin terbiasa menunda pertobatan, atau merasa aman dalam kebiasaan tanpa kedalaman iman.

Sabda ini mengingatkan kita untuk tidak menunda-nunda pembaruan diri.

Hari Tuhan datang seperti pencuri di malam hari, tanpa tanda, tanpa waktu yang pasti. Maka setiap hari adalah kesempatan untuk berjaga: memperbaiki relasi, memurnikan motivasi, dan menumbuhkan kasih yang nyata.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku hidup dalam kesiapsiagaan batin, ataukah terlena oleh rasa aman semu dari kebersamaan lahiriah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here