Dipanggil untuk Setia

0
432 views
Ilustrasi: Kesetiaan

Kamis, 30 November 2023

  • Rm. 10:9-18.
  • Mzm. 19:2-3,4-5.
  • Mat. 4:18-22.

KITA semua diciptakan Tuhan dengan tujuan. Tidak ada yang tidak. Tinggal bagaimana sebagai manusia mau mencari tahu dan mewujudkannya. Kadang banyak orang jadi rancu dengan kata “panggilan Tuhan” ini.

Pekerjaan kita saat ini bukanlah panggilan kita. Banyak orang berganti-ganti pekerjaan semasa hidupnya. Toh nantinya saat hari tua pun mereka akan pensiun dari pekerjaannya. Lalu kalau pekerjaan kita panggilan kita apakah dengan waktu pensiun datang, panggilan kita sudah selesai?

Pekerjaan kita saat ini hanya instrumen atau sarana yang membantu kita untuk mengetahui panggilan hidup kita.

Terkadang kita menggunakan pekerjaan atau karir sebagai tolak ukur kesuksesan. Jika sudah bisa menghasilkan uang yang banyak, maka kita sukses. Padahal Tuhan tidak menginginkan uang. Tuhan ingin agar kita mampu mengerjakan tugas yang sudah Ia berikan pada kita.

“Sayang sekali pastor itu cepat dipindah, karena kerjanya bagus,” kata seorang bapak.

“Banyak kemajuan di paroki ini, karena kehadiran dan sentuhan dia,” lanjutnya.

“Relasi baik dan umat merasa sangat nyaman bekerja bersamanya,” ujarnya lagi.

“Keberhasilan seorang pelayan itu bukan karena kesuksesan pekerjaannya tetapi pada kesetiaannya pada Tuhan yang Dia layani,” sahut bapak yang lain.

“Sebagai murid Kristus, panggilan kita adalah melayani,” tegasnya. “Melayani membutuhkan motivasi yang baik agar pelayanan tidak membuat diri menjadi sombong saat berhasil, dan putus asa saat pelayanan tampak sia-sia,” lanjutnya.

“Motivasi yang paling baik dalam pelayanan adalah sukacita dan kerendahan hati. Dengan kerendahan hati, kita akan merasa kebahagiaan sebagai buah dari pelayanan,” paparnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.”

Sejak mengikut Yesus, Para Murid memiliki misi Allah, yaitu dari penjala ikan (nelayan) menjadi penjala manusia (murid).

Sebagai penjala manusia, mereka akan pergi mencari dan mengumpulkan pentobat baru untuk menjadi murid-murid Yesus.

Untuk menjadi penjala manusia, mereka harus merespons dalam ketaatan dengan cara meninggalkan kehidupan lama untuk memasuki kelas pemuridan bersama Yesus.

Mereka harus melewati kelas persiapan yang diajarkan Yesus melalui perkataan, sikap, dan perbuatan-Nya. Dengan hidup bersama-sama, mereka mengenal dan meneladani kehidupan guru-Nya.

Disadari atau tidak, karakter mereka diubahkan seperti Yesus. Dengan demikian, kelak mereka akan mampu memuridkan murid-murid Yesus lainnya.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku setia menjadi pelayan Tuhan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here