Diutus Presiden Jokowi, Menag Lukman Hakim Hadiri Pelantikan Kardinal Mgr. Ignatius Suharyo (7)

0
6,816 views
Menag Lukman Hakim Saifuddin (kanan) bersama Romo Markus Solo SVD dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) -- Ist

MENTERI Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, duduk lama diam termenung di Kapel Sistina yang terletak di dalam lingkungan Istana Kepausan.

Sambil mendengar penjelasan dari Romo Markus Solo SVD, Menag Lukman Hakim Saifuddin terus-menerus tanpa henti melihat ke atas langit-langit kapel tersebut dan mengaguminya.

Lukisan-lukisan di langit-langit Kapel Sistina itu berkisah tentang penciptaan hingga kisah Nabi Nuh dan juga pengadilan terakhir.

Kapel ini terkenal karena arsitekturnya yang tampak melahirkan kembali Bait Salomo dari zaman Perjanjian Lama; juga tentang dekorasinya yang seluruhnya dihias oleh seniman-seniman besar era Renaissance seperti Michelangelo, Raphael, dan Sandro Botticelli.

Perhatian Lukman Hakim semakin serius ketika menyadari, Kapel Sistina, yang dinamai oleh Paus Sixtus IV, itu merupakan tempat sakral di mana konklaf diadakan.

Konklaf adalah tata cara yang telah mentradisi ribuan tahun untuk memilih paus baru sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Semesta.

Cerobong asap

Ketika konklaf diadakan, mata dunia senantiasa tertuju pada cerobong yang terletak di atas kapel ini sebagai penanda proses pemilihan paus.

Jika asap hitam keluar dari cerobong tersebut, itu pertanda belum ada paus yang terpilih.

Namun jika Paus baru berhasil terpilih, cerobong akan mengeluarkan asap putih.

Yang menarik adalah, ketika konklaf diadakan, para kardinal yang berhak memilih dan dipilih sebagai paus akan memutuskan hubungan dengan dunia luar. Tidak boleh membawa HP, laptop, dan kamera.

Demikian secuil kisah Markus Solo SVD, anggota Dewan Kepausan untuk Hubungan Antaragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue atau PCID), saat dia mendampingi Menag Lukman Hakim berkeliling museum Vatikan yang berakhir di Kapel Sistina, Kamis (02/10/2019).

Diutus Presiden Jokowi

Kunjungan ke Museum Vatikan dan Kapel Sistina itu, demikian Romo Markus Solo SVD, terjadi setelah Menag Lukman Hakim mengadakan pertemuan selama satu jam dengan Presiden PCID Mgr. Miguel Ángel Ayuso Guixot.

Pertemuan ini dihadiri oleh Dubes Indonesia untuk Vatikan, HE Antonius Agus Sriyono, dan Romo Markus Solo SVD, Kepala Desk Islam Asia-Pasifik PCID.

Presiden PCID Mgr. Miguel Ángel Ayuso Guixot berdiri di depan ornamen lukisan figuratif tentang hubungan harmonis antarpemimpin lintas agama di Kantor PCID Vatikan. Pada hari Sabtu malam tanggal 5 Oktober 2019 dan bersama Mgr. Ignatius Suharyo, beliau juga akan dilantik menjadi Kardinal.

Mgr. Miguel Ángel Ayuso Guixot juga akan menerima pelantikan sebagai Kardinal berbarengan dengan Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo hari Sabtu (5/10/19) malam ini waktu Indonesia atau sekitar pukul 16.00 waktu Roma.

Kehadiran Lukman Hakim di Vatikan menjadi tamu kehormatan bagi Tahta Suci. Dia resmi diutus oleh Presiden Joko Widodo untuk menghadiri prosesi pelantikan Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo, menjadi Kardinal Sabtu malam ini.

Filosofi Candi Borobudur

Sebelum bertolak menuju Vatikan pada hari Senin awal pekan lalu, Menag Lukman Hakim datang berkunjung ke Wisma Residensi Uskup KAJ menemui Mgr. Ignatius Suharyo.

“Beliau datang ke sini dan kami ngobrol sana-sini. Antara lain oleh Bapak Menag Lukman Hakim Saifuddin ditanyakan hal-hal apa saja yang sebaiknya dibicarakan nanti dengan Paus Fransiskus saat bertemu Pemimpin Gereja Katolik Sedunia ini,” ungkap Mgr. Ignatius Suharyo saat ditemui sejumlah komunitas Katolik di Wisma Residensi Uskup KAJ Senin tanggal 1 Oktober 2019 lalu.

“Kepada Bapak Menag Lukman Hakim Saifuddin,” tambah Mgr. Suharyo, “saya misalnya mengusulkan bisa saja Bapak menjelaskan keberadaan Taman Borobudur di Museum Etnologi Vatikan. Bisa jadi Sri Paus belum tahu keberadaan replika Candi Borobudur tersebut. Bisa dijelaskan kepada Sri Paus bagaimana misalnya Candi Borobudur itu adalah candi Buddhis, namun berada di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. Tentu hal ini menjadi bahan diskusi menarik dengan Sri Paus.”

Menag RI Lukman Hakim Saifuddin (kedua dari kanan) ditemani Kasubbid Pengembangan Dialog dan Multikultural Pusat Kerukunan Umat Beragama Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI Paulus Tasik Galle’, SS Lic dan Sekretaris Bimas Katolik Kemenag RI Dr. Aloma Sarumama. Romo Markus Solo SVD (kedua dari kiri) ikut menemani pertemuan Menag Lukman Hakim bersama Presiden PCID dan saat para tamu Indonesia ini melalukan jalan-jalan menyusuri Museum Vatikan dan Kapel Sistina. (Ist)
Replika Candi Borobudur di Taman Borobudur, Museum Etnologi Vatikan — Romo Yohanes Gunawan Pr/KAS

Dialog konstruktif antarumat beragama

Dalam perjalanan mengitari Museum Vatikan dan Kapel Sistina itu, baik Romo Markus Solo SVD dan Menag Lukman Hakim, terlibat pembicaran hangat tentang dialog yang harus menjadi pilar utama perwujudan perdamaian dan hubungan harmonis antarumat beragama.

Keduanya sepakat untuk memajukan berbagai upaya umat beragama untuk saling menerima perbedaan, saling mengenal, bekerjasama untuk hal-hal yang baik dan berujung pada kesejahateraan bersama.

“Kami berdua sepandangan bahwa harus memajukan pendidikan yang berkarakter inklusif, tidak hanya mengenal agama sendiri saja. Artinya para siswa diajari memiliki sikap terbuka untuk dan mau mengenal agama-agama lain secara objektif dalam pengajaran di sekolah-sekolah,” ungkap Romo Markus Solo SVD.

“Hal ini berkaitan dengan perubahan kurikulum nasional, baik untuk sekolah swasta atau pun negeri, yang berorientasi pada penerimaan dan pengakuan perbedaan agama. Dan sebagai tindak lanjut adalah bagaimana harus mencari upaya-upaya positif untuk menghadapi serta menghidupi dinamika perbedaan,” ujar imam Serikat Sabda Allah (SVD) ini.

Sebagai konsekuensinya, demikian Romo Markus Solo dan Menag Lukman Hakim, mereka berdua punya pandangan yang sama dan bahkan sama-sama meyakini, pendidikan yang berujung pada perdamaian harus melalui proses pendidikan yang tidak didukung oleh sebuah sistem pengajaran indoktrinatif.

Pengajaran indoktrinatif itu hanya akan membatasi ruang pemikiran kreatif dan indipenden dari anak-anak didik untuk berpikir secara bebas, kritis dan distinktif. Masa depan yang lebih damai dan rukun tidak mungkin tidak harus dicapai melalui perbaikan sistim pendidikan generasi muda saat ini. (Berlanjut)

PS:

  • Liputan tambahan dan sunting oleh Mathias Hariyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here