Doa Permohonan Anak agar Ayahnya Jangan Kerja Luar Kota, Ini demi Keutuhan Keluarga

1
171 views
Ilustrasi: Mengajari anak berdoa sejak kecil adalah tugas mulia setiap orangtua Katolik dalam keluarga. (FX Juli Pramana)

“OOM dan tante, tolong doain dong supaya papi cepat pulang dan tinggal di Surabaya lagi.”

Itulah permintaan sederhana dari seorang anak laki-laki umur lima tahun, ketika ditanyai oleh orang-orang yang hadir dalam sebuah acara persekutuan doa. Terjadi di suatu Sabtu sore.

Ya, ia itu anakku. Saat itu -tahun 1984 silam- ia baru berumur lima tahun. Tampil dengan wajah polos, berkacamata tebal dengan bingkai yang cukup besar untuk ukuran wajahnya; ditambah lagi dua gigi depan yang menonjol terlihat lebih besar daripada deretan gigi-geliginya yang lain.

Semua itu membuat semua yang hadir tersentuh dan terharu. Reaksi spontan para ibu adalah memeluk anakku dan ikut mendoakannya.

Ilustrasi- Orangtua dan anak.

Hidup terpisah, suami kerja di kota lain

Tiga puluh lima tahun lalu, saat usia kami masih muda, suami dan saya masih sama-sama berkarier dan mempertahankan posisi serta pekerjaan masing-masing.

Kami berdua terpaksa harus hidup terpisah. Suami harus kerja di Jawa Tengah dan saya bersama anak pertama tetap tinggal di Surabaya.

Kami hanya bertemu dua pekan sekali, bila suami bisa pulang.

Di rumah, saya hanya tinggal berdua dengan anak. Karena, kami memutuskan  sama sekali tidak mau memakai asisten rumahtangga lagi.

Pagi hari, sambil berangkat kerja, saya antarkan si anak ke sekolah dan siang sepulang sekolah, ibu mertua saya menjemputnya dan membawa sang cucu ke rumahnya sampai sore sampai waktu saya datang menjemputnya dan membawanya pulang ke rumah.

Begitulah rutinitas yang kami berdua jalani sampai dengan Jumat sore. Sabtu merupakan hari yang sedikit berbeda, karena saya mengantar si anak ke sekolah dan kemudian menjemputnya saat ia pulang.

Ilustrasi – Orangtua mengajak anaknya jalan-jalan. (Parenting)

Kami lalu mampir di rumah ibu mertua untuk makan siang dan kemudian membawa pulang bekal makan malam. Di sela jam-jam sekolah, saya masih sempat membersihkan rumah. Juga mempersiapkan, kalau-kalau suami bisa pulang malam itu untuk berkumpul bersama keluarga.

Ada baiknya kalau saya juga menceritakan latar belakang yang mendorong anak kami sungguh menginginkan ayahnya bisa segera pulang dan berada di rumah lagi.

Dengan tidak adanya suami di rumah, otomatis saya hanya berdua saja dengan anak kecil berusia lima tahun. Sebagai anak laki-laki, tentunya ia juga merindukan bisa bermain seperti layaknya seorang anak laki-laki. Ia tidak terlalu yakin ibunya akan bisa meladeni keinginannya tersebut.

Repotnya lagi hamil harus sendirian mengasuh anak tanpa suami

Situasi semakin tidak menguntungkan bagi si anak, karena saat itu saya dalam keadaan hamil dan semakin hari perut semakin membesar sejalan dengan bertambahnya usia kehamilan. Perut yang besar membuat gerakan tubuhku jadi agak terbatas. Saya tidak bisa lagi main petak umpet dan bersembunyi di balik lemari atau di kolong tempat tidur.

Saya tidak bisa lagi menemani dia bermain sambil duduk di lantai berlama-lama. Situasi ini membuatnya juga merasa lebih senang berada di rumah mertua saya. Karena di sana ada keponakan suami yang seumuran dan sama-sama lelaki, sehingga kedua anak lelaki kecil ini bisa bermain dengan riang gembira.

Meski sekian banyak permainan telah ia miliki di rumah, namun pasti batinnya kesepian. Karena tidak ada teman bermain.

Ilustrasi: Ibu dan anaknya. (Ist)

Menjadi guru les

Hari-hari kami lalui dengan rutinitas; mulai dari  pagi hingga sore. Di malam hari, si anak masih harus bermain sendiri lagi, karena setelah pukul enam petang, mulai ada murid-murid les yang berdatangan ke rumah.

Jujur saya akui, anak saya berkembang menjadi anak yang manis dan berdisiplin. Ia tahu kapan dia harus bermain sendiri tanpa membuat kegaduhan yang mengganggu saya mengajar di rumah.

Ia mampu berkembang menjadi anak yang mudah bergaul dan menyapa siapa saja yang dia temui. Karena murid yang datang untuk les pun selalu berganti dengan bergantinya semester.

Setiap murid yang datang sering membawakan sesuatu untuk anak saya dan mengajak dia bermain, bila pelajaran sudah selesai.

Ilustrasi – Murid melakukan pembelajaran sekolah secara daring atau sekolah online. (Ideas next door)

Jam-jam menjelang kedatangan murid les merupakan jam yang paling ditunggu oleh si anak, karena dia merasa ada teman yang bisa mengajaknya bermain.

Dari sekian banyak murid yang datang ke rumah, ada pasangan suami isteri yang memerlukan bantuan untuk menghadapi tes TOEFL, karena mereka akan melanjutkan studi ke Negeri Paman Sam.

Mereka hanya bisa datang hari Sabtu siang pukul dua. Saya menyanggupinya dengan pertimbangan toh kalau suami pulang, ia akan tiba di rumah setelah jam tujuh malam. 

Setelah beberapa lamanya les, rupanya pasutri ini memperhatikan kehidupan saya. Setiap kali mereka pulang, maka anak saya langsung menutup gorden dan saya pun mengunci pintu pagar dan menutup pintu rumah.

Diajak ikut Persekutuan Doa

Sekali waktu di sebuah Sabtu sore, pasutri ini tiba-tiba menanyakan, apakah saya ada acara khusus setiap Sabtu malam. Karena tidak ada acara apa pun -selain bermain dengan anak dan menunggu suami pulang atau tidak- mereka pun menawari saya apakah mau ikut Persekutuan Doa Sabtu sore; mulai pukul lima sampai dengan pukul tujuh malam.

Dengan senang hati saya terima ajakan ini. Kami pun selalu berangkat dari rumah saya, setelah les selesai. Sambil tentunya juga mengajak anakku ikut serta.

Ilustrasi: Uskup Emeritus Keuskupan Bogor Mgr. Cosmas Michael Angkur OFM (tengah kanan pegang topi) memimpin doa bersama di lokasi RS St. Labuan Bajo bersama para suster DSY dan tim penggalangan dana dari Jakarta. (Mathias Hariyadi)

Suatu kali di hari Sabtu, di persekutuan doa tersebut ada pasutri yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Maka, pesan pewartaan yang disampaikan oleh kelompok doa waktu itu adalah tentang keindahan hidup berkeluarga di mana orangtua dan anak bisa berdoa bersama-sama setiap malam.

Dijelaskan juga betapa pentingnya mendirikan altar keluarga dalam setiap rumah tangga.

Tanpa saya sadari, pesan ini diserap oleh anak saya. Meski saat itu, ia baru berumur lima tahun.

Pertanyaan anak yang “mengganggu” nurani seorang ibu

Sepulang dari acara doa hari itu, anak saya itu nekat bertanya kepada pasutri yang ikut program les saya. Ia bertanya, apakah mereka sebagai pasutri juga membuat semacam altar keluarga dan rajin melakukan doa bersama.

Jawaban mereka membuat saya jadi malu, karena saya tidak pernah “melakukannya”, melainkan hanya mengajari anak saya berdoa, pagi, malam dan setiap kali duduk di meja makan.

Kondisi ini tidak dapat disebut altar keluarga, karena tidak terjadi suatu komunikasi keluarga dalam doa, dan tidak saling memperhatikan kebutuhan batin masing-masing; dalam hal ini adalah anak dan saya, ibunya.

Ilustrasi – Berdoa bersama anak. (Ist)

Sejak hari itu, setiap malam anak ini menuntut untuk doa bersama, dia dan saya dan kemudian mendoakan ayahnya agar bisa cepat pulang ke Surabaya. Sampai suatu hari, di acara persekutuan doa yang sama ada pewartaan mengenai meminta dengan penuh harap dan iman.

Sepulang dari doa, terjadilah percakapan antara anak saya dengan ibu murid les saya mengenai “meminta”. Dan percakapan ini membuat dia semakin giat berdoa dan meminta kepada Tuhan Yesus dalam doa dengan gaya bahasa seorang anak.

Puncaknya adalah di suatu Sabtu sore, sewaktu pembawa acara doa menanyakan kepada kami satu per satu apakah ada permohonan yang mau didoakan bersama. Tanpa canggung sama sekali, si anak maju dan berdiri.

Dengan bahasa anak yang polos, ia menyampaikan keinginannya agar dibantu dalam doa meminta supaya papinya cepat kembali ke Surabaya.

Saya hanya tahu dan ingat ada perikop tentang Yesus yang mencintai anak-anak, tetapi saya masih abai akan hal kerohanian; lantaran masih sibuk bekerja menimbun harta duniawi.

Suatu Sabtu, suami saya pulang dan membawa berita yang menggembirakan terutama untuk anak saya. Karena, ia dikembalikan “pulang” untuk mulai kembali bisa bekerja di Surabaya. “Horeee, papi pulang… Papi pulang… Tuhan Yesus baik.”

Kegirangan atau mungkin dapat disebut sebagai sukacita anak ini sungguh sangat menyentuh hati saya. Saya mulai mencari tahu tentang ayat-ayat mengenai iman, harapan dan kasih. Juga tentang meminta dengan iman.

Terpuruk karena kena PHK bareng

Akan tetapi rupanya Tuhan masih ingin bermain-main dan bercanda ria dengan saya dan kehidupan saya. Anak yang pertama sudah duduk di SMP dan yang kedua sudah berusia enam tahun, saat kami berdua -orangtuanya terkena PHK pada hari yang sama.

Kami berdua mengalami PHK itu di hari yang sama. Benar-benar bersamaan.

Saya hanya bisa bergumam dalam hati, Tuhan katanya Engkau baik… lah kok jadinya begini?

Suami terlihat agak terpukul dengan keadaan ini, dia mulai muram dan terlihat susah. Kedua anak kamilah yang menjadi malaikat penolong, membangunkan iman kami. Mereka yang mengajak mami berdoa bersama satu keluarga. Dan merekalah yang berdoa memohon kepada Yesus dan Bunda Maria agar orangtuanya diberikan pekerjaan lagi karena masih harus membiayai mereka menyelesaikan sekolah.

Ilustrasi – Stres. (Ist)

Anugerah itu datang “dari langit”

Sungguh, Tuhan kita itu suka guyon –doa anak-anak yang begitu polos dan sedehana dijawab juga dengan cara yang sederhana.

Suami saya dihubungi oleh teman lamanya untuk memegang suatu proyek baru di Surabaya. Sedangkan saya dihubungi oleh mantan dosen saya yang mengajak saya bergabung dalam merintis suatu sekolah baru yang pertama kali di Surabaya untuk mengaplikasikan kurikulum internasional.

Singkat cerita, kehidupan kami berjalan lancar kembali, dengan satu perubahan besar dalam perjalanan iman kami. Kami semakin tekun merenungkan firman Tuhan, mengerti akan janji-janji Tuhan yang senantiasa memelihara kami semua.

Sekarang, anak-anak sudah selesai sekolahnya. Mereka sekarang sudah memberikan kami dua orang cucu; satu dari setiap anak.

Mereka berdualah yang menggugah kami orang tuanya untuk bangkit dan tidur dan mencelikkan hati serta mata rohani kami untuk semakin mengandalkan Tuhan Yesus dan meminta dalam iman serta pengharapan.

“Mintalah, maka kamu akan menerimanya.”

Malang, 10 November 2017

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here