Donasi Publik Dukung Baksos RS Fatima Ketapang dan Suster St. Agustinus Baksos di Kawasan Pedalaman Kabupaten Ketapang

2
304 views
RS Fatima merupakan satu-satunya rumah sakit swasta Katolik di wilayah Keuskupan Ketapang yang cakupannya meliputi dua kabupaten dengan areal luasnya juah lebih besar dibanding satu wilayah provinsi di Jawa; apakah itu Provinsi Jateng atau Jatim. (Dok. RS Fatima Ketapang)

RS Fatima adalah satu-satunya rumah sakit swasta Katolik yang ada di wilayah pastoral Keuskupan Ketapang, Kalbar.

Keuskupan Ketapang mengampu layanan pastoral meliputi wilayah dua kabupaten yakni Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Dengan luas wilayah yang jauh lebih besar dibanding satu wilayah provinsi di Jawa; utamanya Provinsi Jateng atau Jatim.

Itulah yang terjadi sehari-hari dihadapi Keuskupan Ketapang dan segenap umat di sana, karena menghadapi tantangan kondisi medan layanan di lapangan yang “amburadul”. Karena akses transportasi jalan raya yang sampai sekarang belum mampu menyediakan “jalan beraspal” mulus seperti lazimnya di Jawa.

Romo Joko Purwanto Pr, imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang selama sembilan tahun berkarya di wilayah pastoral Keuskupan Ketapang, mengalami “nasib malang” di jalanan menuju Tanjung -dekat Tumbang Titi.

Ilustrasi: Kondisi jalan utama di wilayah pastoral Keuskupan Ketapang, Kalbar, di mana banyak kubangan lumpur pekat di sepanjang jalan sehingga banyak kendaraan terjebak masuk dan dampaknya adalah lalu lintas macet total. Pemandangan ini terjadi sebelum masuk Tanjung dekat Tumbang Titi, awal Agustus 2022. (Romo Alexander Joko Purwanto Pr/Keuskupan Agung Semarang)

Agustus 2022 lalu, bersama sejumlah imam KAS lainnya, ia berangkat dari Kota Ketapang pagi hari. Di tengah jalan arah Tanjung, lalu lintas kendaraan berhenti total karena ada dua truk terperosok masuk dalam kubangan lumpur pekat.

“Harus sabar menunggu jatah antrian kendaraan. Dan itu berlangsung berjam-jam, karena jalan harus dibuat padat terlebih dahulu. Alhasil, kami baru berhasil tiba di Tanjung sebelum lewat tengah malam dalam kondisi badan lunglai saking capainya di jalanan,” tutur Pastor Paroki Cawas di Klaten, Jateng ini.

Itulah kondisi riil wilayah pastoral Keuskupan Ketapang di Kalbar.

Bakti sosial RS Fatima

Eksistensi RS Fatima dibesut oleh lima suster misionaris Kongregasi Suster Santo Agustinus dari Kerahiman Allah (OSA) dari Heemstede, Negeri Belanda. Nama “Fatima” diambil dari ibu kandung Bunda Maria.

Logo RS Fatima Ketapang yang dikelola oleh Yayasan Pelayanan Kasih Agustinian di Kota Ketapang, Kalbar. (Ist)

Sebelum berkembang dan menjadi seperti yang sekarang ini, RS Fatima Ketapang dulunya hanya merupakan klinik bersalin.

RS Fatima Ketapang ini dirintis keberadaaan dan layanan kesehatannya oleh Sr. Norbertha Van De Meer OSA.

Suster misionaris Agustinian ini kerap dijuluki “Suster Bidan Keliling dengan Sepeda”. Karena saking begitu telatennya dia selalu aktif mengunjungi pasien-pasien ibu hamil di sepanjang Kota Ketapang yang waktu itu masih berupa kawasan “hutan”.

Sr. Norbertha OSA yang dikenal oleh masyarakat Ketapang di tahun 1960-an sebagai “Suster Bidan Sepeda”. (Dok OSA/Repro MH)
Sepeda dan kapal motor menjadi moda transportasi andalan bidan Sr. Norbertha van der Meer OSA saat berkunjung ke kawasan udik di sekitaran Ketapang tahun 1960-an yang mana saat itu Ketapang boleh dikatakan masih berupa wilayah hutan. (Dok. OSA/Mathias Hariyadi)

RS Fatima (https://rsfatimaketapang.com) sampai saat ini masih dimiliki dan dikelola oleh para Suster OSA di bawah manajemen Yayasan Pelayanan Kasih Agustinian (YPKA) berbasis di Kota Ketapang, Kalbar.

Baksos RS Fatima Ketapang bekerjasama dengan Kongregasi Suster OSA

Menurut rencana, YPKA melalui RS Fatima berkerjasama dengan Kongregasi Suster OSA akan melaksanakan program bakti sosial kesehatan pada tanggal 6-9 Oktober 2022.

Untuk keperluan misi kemanusiaan di kawasan pedalaman di wilayah Praparoki Sungai Daka dan Paroki Sepotong di pinggiran Sungai Laur ini, YKCA dan Kongregasi OSA membuka kesempatan bagi semua orang untuk mendukung program amal kasih kemanusiaan ini.

Untuk lebih detilnya, bisa melihat proposal kegiatan berikut ini:

Dua cara berbagi kasih

YPKA dan Kongregasi Suster OSA membuka kesempatan bagi segenap pembaca untuk berbagi kasih.

Caranya ada dua. Boleh menyumbang dalam bentuk in natura yakni mengirimkan barang-barang -terutama pakaian layak pakai, obat-obatan, dan vitamin, serta donasi finansial.

Untuk sumbangan in natura, silakan kirim langsung ke:

Sr. Brigitta OSA, RS Fatima, Jl. Jend. Sudirman No.27, Mulia Baru, Kec. Delta Pawan, Kota Ketapang, Kalimantan Barat 78811, Telp: (0534) 32814.

Sedangkan donasi finansial bisa ditransferkan langsung melalui:

  • Bank Mandiri Norek 146–00–1017918–7.
  • A.n. Yayasan Pelayanan Kasih Agustinian.
  • Subjek berita: Baksos.
  • Narahubung: Redaksi Sesawi.Net (0812-1214-8336).

Berapa pun besarnya sumbangan amal kasih para pembaca, kami sangat menghargai niat baik dan mulia ini.

Perjalanan sangat menantang

Baksos kami lakukan sebagai misi pelayanan amal kasih kepada masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman di Praparoki Sungai Daka dan Paroki Sepotong.

Kedua wilayah ini bisa kami tempuh dengan perjalanan kendaraan sekitar 6-7 jam perjalanan dari Ketapang.

Kadang harus rela menggunakan perahu motor menyisir aliran Sungai Laur untuk mencapai lokasi Paroki Sepotong. Pelayaran dimulai dari Dermaga Berangas menuju Sepotong kurang lebih makan waktu selama dua jam perjalanan.

Ini dilakukan setelah terlebih dahulu melakukan perjalanan darat dengan kendaraan off-road dari Ketapang menuju Berangas.

Perjalanan dengan moda transportasi air melalui Sungai Laur selama kurang lebih dua jam menuju Paroki Sepotong. (Royani Lim)
Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi bersama OMK bertolak menuju Paroki Sepotong dengan menyusuri aliran Sungai Laur. (Royani Lim)

                                                                                         

2 COMMENTS

  1. Selamat malam
    Saya Nanda dari Ketapang. Saya baca artikel di atas tentang Sr. Norbertha Van Der Meer. OSA. Suster tsb terkenal sekali masa itu di Ketapang. Sekarang suster ini masih di Indonesia atau sudah kembali ke Belanda? bagaimana kabarnya sekarang?

    Salam Hangat.
    Nanda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here