Eco Enzyme, Sampah Menjadi Berkah

0
343 views
campuran eco enzyme yang siap difermentasi (foto: ping)

PADA tahun 2022, menurut Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jumlah timbulan sampah dalam setahun adalah 22.932.650,11 ton dan angka ini semakin meningkat berbanding lurus dengan pertambahan penduduk.

Pemerintah sudah berupaya mengeluarkan berbagai instrumen kebijakan tetapi hasilnya belum menggembirakan. Satu hal yang agak melegakan adalah meningkatnya partisipasi masyarakat yang sadar akan kegawatan masalah sampah.

Salah satu gerakan yang mulai digelorakan di awal pandemi adalah membuat garbage enzyme atau di Indonesia lebih dikenal dengan istilah eco enzyme.

Gerakan yang sebenarnya sudah puluhan tahun dimulai baru menemukan momentumnya ketika pandemi membuat orang terpaksa terkurung di rumah. Selain mencari kesibukan sambil Work From Home (WFH), orang juga menjadi lebih sadar tentang lingkungan hidup.

Eco Enzyme  merupakan hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur yang diolah adalah yang berupa sampah buah dan sayuran. Pada dasarnya, eco enzyme mempercepat reaksi bio-kimia di alam untuk menghasilkan enzim yang berguna menggunakan sampah buah atau sayuran.

Ketika pandemi mengajarkan orang perlu menganut pola hidup sehat, konsumsi sayur dan buah menjadi meningkat. Maka sampah organik berupa kulit buah menjadi lebih banyak.

Trend menggunakan barang ‘organik’, mengurangi ‘bahan kimiawi’ turut menjadi daya tarik gerakan eco enzyme. Selain itu, nilai ekonomis berupa penghematan ketika hasil panen eco enzyme bisa dimanfaatkan dalam berbagai bentuk untuk keperluan rumah tangga.

Penemu eco enzyme

Hasil panen cairan Eco-enzyme akan berwarna coklat gelap atau terang (tergantung gula yang digunakan) dan memiliki aroma yang asam atau segar yang kuat. 

Eco-enzyme merupakan hasil penelitian Dr. Rosukan Poompanvong. Dia merupakan peneliti pertanian organik selama lebih dari 30 tahun. Untuk penemuan eco enzyme tersebut, Dr. Rosukan menerima penghargaan dari FAO PBB atas penemuannya tersebut.

Dr. Joean Oon, Director of the Centre for Naturopathy and Protection of Families in Penang (Malaysia), kemudian membantu untuk menyebarluaskan gerakan eco enzyme ini. Dr. Joean yang lebih mudah dari Dr. Rosukan tanpa lelah mengampanyekan kepedulian akan bahaya sampah dan menggiatkan pembuatan eco enzyme di banyak negara. Dia bepergian ke berbagai benua untuk memberikan seminar dan workshop tentang manfaat eco enzyme dalam berbagai bidang kehidupan.

Manfaat Eco enzyme

Eco-enzyme memiliki banyak manfaat. Cairan ini merupakan cairan serbaguna yang bisa dimanfaatkan untuk kebersihan badan, rumah, hewan ternak. Selain itu bisa berfungsi sebagai pupuk tanaman. Bahkan eco enzyme dapat menjadi obat pembersih luka bakar atau pun luka diabetes.

Cara pemanfaatan eco enzyme bisa dicari di internet dengan mudah sekarang ini. Misalnya untuk dijadikan shampoo, campurkan eco enzyme dengan shampoo biasa, perbandingan 1:1. Hasilnya terbukti mengurangi kerontokan rambut, ini merupakan testimoni langsung yang didapat penulis dari beberapa teman yang telah menggunakan shampoo eco enzyme tersebut.

Cara membuat eco enzyme

Proses membuat eco enzyme awalnya tampak ribet dan lama. Padahal kalau sudah dimulai gampang sekali. Tinggal mencampurkan sisa organik dengan gula – boleh gula jawa atau molase, sebaiknya tidak menggunakan gula yang sudah diproses kimia seperti gula pasir – dan air. Perbandingannya adalah: 3 sisa organik : 1 gula : 10 air.

Kalau menggunakan gula jawa warna akhirnya akan lebih cerah dibanding dengan menggunakan molase. Air yang boleh digunakan semua jenis air, termasuk air sumur dan air buangan AC.

Fermentasi kedua

Waktu pembuatan eco enzyme minimal tiga bulan. Lebih lama lebih baik. Untuk pembersihan luka minimal difermentasi selama enam bulan.

Kemudian bisa diadakan fermentasi kedua kalau ingin membuat yang khusus.

Fermentasi kedua adalah memberi bahan tambahan tertentu ke hasil panen eco enzyme dan dibiarkan lagi selama minimal satu bulan.

Untuk shampoo, bahan fermentasi kedua yang dipercaya baik adalah bunga telang, lidah buaya, dan daun mangkok. Perbandingan untuk fermentasi kedua: 10% berat bahan dari berat cairan eco enzyme. Ada juga yang membuat fermentasi kedua dengan tujuan menambah wewangian dengan mencampurnya dengan bunga atau bahan organik yang disukai baunya seperti misalnya daun cemara dan sereh.

Nah, cukup simpel dan mudah membuat eco enzyme ya. Mari dimulai, menunjukkan cinta untuk bumi semata wayang dengan mengurangi sampah dapur, plus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here