Ekaristi, Pemberian Diri Tuhan bagi Manusia

0
55 views
Ilustrasi.

Kamis, 18 April 2024

Kis 8:26-40;
Mzm 66:8-9,16-17,20;
Yoh 6:44-51

DALAM hidup sehari-hari, kita sudah familier dengan istilah “memberi lebih baik daripada menerima”. Sudahkah kita melakukannya? Atau jangan-jangan selama ini kita lebih senang menerima dan sulit untuk memberi.

Memberi adalah bentuk timbal balik yang kuat. Menerima membuat kita merasa baik, tetapi memberi bahkan lebih baik.

Orang yang memberi mendapatkan lebih banyak kebahagiaan dalam hidup daripada mereka yang hanya menerima. Mereka lebih sehat, lebih bahagia.

Apa yang paling berharga yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada kita? Bagi kita, hal yang paling mendasar yang diberikan oleh Yesus adalah diri-Nya seutuhnya bagi keselamatan kita.

“Saya pernah kecewa dengan pengurus Gereja hingga saat itu ingin meninggalkan Gereja Katolik dan menyeberang ke Gereja lain,” kata seorang bapak.

“Isteri dan anak-anakku sudah mulai ikut ibadat di Gereja lain, tinggal tunggu saya bergabung dan rencananya kami mau dibaptis kembali di Gereja lain tersebut.

Kalau mengingat kata-kata dan sikap sebagian pengurus Gereja rasanya hati ini sepenuhnya mau meninggalkan Gereja Katolik. Namun langkah itu tidak saya ambil karena aku merasa bahwa hanya ekaristilah yang menjadi puncak kesatuan saya dengan Tuhan Yesus.

Saya boleh kecewa dan merasa kecewa dengan pengurus Gereja, tetapi Tuhan Yesus melalui ekaristi, Dia menyatu dan menyembuhkanku.

Ekaristi sungguh menjadi sumber dan puncak hidup kami, yang terus menerus kami timba segala anugerah dan berkat, mempersembahkan hidup kami dan menjadi semakin setia dalam tugas dan panggilan kita. Maka saya putuskan, kami tetap di Gereja Katolik,” papar bapak itu.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,” Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Gereja Katolik mengimani bahwa Yesus Kristus hadir secara sungguh-sungguh, nyata dan subtansial dalam Ekaristi. Secara sakramental, kehadiran-Nya kita alami dalam rupa roti dan anggur ekaristi. Maka, dengan menyantap tubuh darah Kristus, kita mnegalami kesatuan dengan-Nya dan dengan itu pula kita akan hidup selama-lamanya.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah Aku sungguh percaya akan misteri Ekaristi? Apakah aku siap untuk dibagi bagi sesama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here