Elisha, Pesinden Muda “Tolak Linu” Usung Kearifan Lokal Sido Muncul

0
385 views
Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat bersama pesinden muda bernama Elisha Ocarus Allaso. (Dok. Sido Muncul)

SINDEN adalah olah dan tarik suara yang dimainkan oleh seorang pesinden – nama penyanyi khas di dalam iringan instrumen musik khas Jawa yakni gamelan.

Sinden dan pesinden ini sangat identik dengan pergelaran wayang. Terutama pergelaran wayang kulit semalam suntuk atau yang dikemas secara ringkas 3-4 jam saja.

Yang pasti, dalam setiap gelaran pertunjukan wayang kulit, kehadiran pesinden yang selalu nyinden sepanjang pergelaran seni budaya paling populer di Jawa ini kudu wajib.

Apalagi, demikian kesan banyak orang, pesinden itu sudah semestinya harus berparas ayu, centil, dan pinter ndagel alias membanyol – pandai menangkap umpan dan tarikan banyolan yang memang sengaja “dilemparkan” sang dalang.

Maka, omong sedikit saru antara dalang dan pesinden sering kali menjadi hiburan yang tidak kalah menariknya dibanding adegan goro-goro dengan menu tampilan keempat abdi punakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Duo menawan: Ki Manteb Soedharsono dan Sunyahni

Sunyahni adalah nama seorang pesinden top di tahun 1990-an. Dalam setiap gelaran wayang kulit yang diampu oleh almarhum Ki Dalang Manteb Soedharsono, pesinden Sunyahni selalu ada.

Sunyahni -lengkap dengan parasnya yang cantik, sedikit centil, dan juga “berisi”- sungguh tampil bak magnit – pemantik emosi sukacita para penonton penikmat pertunjukan wayang kulit.

Sedemikian tenarnya pamor Sunyahni di dalam gelaran wayang kulit di televisi dan panggung hiburan terbuka lainnya, bahkan seorang petinggi media massa nasional pun sampai “kepincut” setiap kali melihat tampilan Sunyahni saat nyinden. Setiap kali ia hadir mengiringi gelaran pertunjukan wayang kulit besutan almarhum Ki Dalang Manteb Soedharsono dari Tawangmangu tersebut.

Beliau lalu menyuruh seorang wartawan di koran besar itu bisa “menguntit” keberadaan pesinden cantik ini untuk bisa ditulis kisah hidupnya. Dan -tentu saja-harus tahu bagaimana Sunyahni waktu itu tetap bisa menjaga penampilan wajahnya yang super sumringah di setiap pergelaran wayang kulit.

Singkat kata, tanyakan resep menjaga sensualitasnya di atas panggun. Harus lengkap dengan balutan paduan jarit dan kebaya singset, rambut sanggulan, polesan wajah yang terlihat ceria karena balutan benges alias lipstick di bibirnya dan bedak pupur yang tahan luntur, meski keringat mengucur di pipinya.

Lengkap sudah dan juga semakin “sempurna” pertunjukan wayang kulit besutan dalang Ki Manteb Soedharsono di mata para pemujanya.

Maka, almarhum Ki Dalang Manteb Soedharsono memamerkan gaya sabetan-nya yang dahsyat. Sementara, Sunyahni mampu mempesona penoton yang selain gaya nyiden-nya apik, juga pesona paras wajahnya yang cantik. Ia punya sex appeal yang menawan.

Mendadak kepincut

Barangkali, karena kepincut oleh pesona seorang pesinden muda yang juga cantik itulah kini PT Sido Muncul –produsen jamu “Tolak Angin”- lalu merilis model iklan panutan dengan konten pesan yang sama sekali baru.

Kali ini, Irwan Hidayat –Direktur Sido Muncul- menggagas konsep iklan kearifan lokal. Atas nama kebaruan, konten pesan ini ingin mempertontonkan keindahan dan pesona seorang pesinden – lengkap dengan pernak-pernik pesona gelaran pertunjukan wayang kulit.

Tentu, di tahun 2022 ini, era “kebesaran” dan masa kejayaaan pesinden Sunyahni sudah lewat. Maka, Irwan Hidayat lalu menggaet sosok seorang pesinden muda yang -tentu saja- harus tetap cantik dan mempesona.

“Indonesia adalah negara dan bangsa yang kaya akan budaya tradisi lokal dan salah satunya adalah gelaran pertunjukan wayang kulit,” demikian tuturnya kepada Sesawi.Net hari Jumat siang tanggal 22 April 2022.

Irwan Hidayat meyakini, pokok penting yang menjadi magnit utama pertunjukan wayang kulit terletak pada dua hal.

Pertama, keterampilan ki dalang yang memainkan gerakan dan tuturan tokoh wayang – singkat kata sabetan dan ujarannya.

Kedua, sosok pesinden yang diharapkan juga tidak hanya pinter nyinden, tapi juga mampu menyirep emosi keterpesonaam hati para penonton  lantaran “saking” cantik dan mempesonanya sang pesinden.

Karena itu, Sido Muncul ingin bisa mengemas dua pesona penting dalam seni pertunjukan (performing arts) -yakni dalang dan pesinden itu- dalam sebuah konten pesan untuk mengiklankan produk jamu terbarunya: “Tolak Linu”.

Dan nama pesinden perempuan muda yang digaet Irwan Hidayat itu adalah Elisha Ocarus Allaso.

Melestarikan tradisi lokal

Bagi Irwan Hidayat, inilah sinergi jamu olahan modern dengan dua muatan nilai kearifan lokal yang mesti dijaga dan dilestarikan: seni pertunjukan tradisi budaya lokal khas Jawa yakni wayang kulit plus pesinden-nya.

Bagi Irwan Hidayat, ini tak sekedar promosi ramuan baru resep jamu untuk atasi pegal-pegal dan linu-linu. Lebih dari itu, seni kreasi yang memuat pesan kewajiban moral agar selalu menjaga dan melestarikan seni pertunjukan tradisi lokal.

“Wayang kulit merupakan bagian tradisi seni dan budaya khas Indonesia -khususnya di Jawa- yang sudah mendunia. Karena sasaran konten pesan ini adalah kaum muda -yang belum tentu kenal wayang kulit- maka ‘muatan’ visual itu menjadi penting,” tutur Irwan Hidayat menjawab Sesawi.Net.

Direktur PT Sido Muncul, Irwan Hidayat, ikut mengawal proses syuting konten pesan iklan produksi ramuan resep jamu terbaru berlabel “Tolak Linu” bersama bintang panggung: seorang pesiden muda bergelar doktor bidang Kajian Seni Masyarakat bernama Elisha Ocarus Allaso. (Dok. Sido Muncul)

Tampil beda

Kaum muda generasi kekinian ini sangat jeli dengan tampilan visual. Tidak perlu banyak berkata-kata. Karena yang penting adalah visualisasi pesan dalam bentuk gambar atau gerak. Karena itu, pilihan menggaet pesinden muda bernama Elisha itu lalu mendapatkan modal relevansinya.

“Waktu menyaksikan penampilan Elisha di TV, saya lihat cara tampilnya unik. Ini buat kaum muda pasti menarik. Karena itu, konten pesan beriklan ini lalu digarap secara modern, tapi tetap menjaga anasir-anasir seni budaya tradisionalnya,” ujar Irwan Hidayat saat mengawal langsung proses pembuatan media iklan “Tolak Linu” di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (19/4/2022).

Dengan dipilihnya Elisha sebagai bintang konten pesan “Tolak Linu”, Irwan Hidayat berharap seni pertunjukan wayang kulit semakin membumi di dalam ingatan kolektif generasi millennial sekarang.

Tentang ini, masyarakat pecinta wayang kulit mesti berterimakasih kepada sosok dalang fenomenal: almarhum Ki Dalang Seno Nugroho. Dalang muda ini dengan kejeliannya berhasil mempopuler pasugatan seni tradisi wayang kulit dengan sosok “Bagong” yang fenomenal, justru karena “kedugalannya”.

Justru di situlah, minat utama Irwan Hidayat akhirnya “menemui” jawabannya pada sosok Elisha. Itu karena Elisha berani tampil beda saat nyinden.

“Yang penting dan itu juga membuat saya semakin yakin, bahwa kaum muda millennial akan seneng melihatnya. Karena konten pesan ini dibuat sesuai semangat zaman sekarang,” papar Irwan Hidayat yang selalu asyik ngobrol dengan pesinden muda belia dan ayu ini.

Sebagai seorang pesinden, Elisha memang tidak sekadar jualan wajah cantik. Karena secara keilmuan tentang seni karawitan dan pedalangan pun, ia jelas bukan “anak bawang”.  

Elisha adalah sarjana S-1 pedalangan, magister S-2 psikologi, dan kemudian meraih gelar doktor Kajian Seni Masyarakat.

Tinuntun jumbuh

Proses kreatif yang mempertemukan Elisha dan Irwan Hidayat ibarat perjalanan panjang yang berakhir dengan kesimpulan: tinuntun jumbuh. Alias berjalan dalam “bimbingan” sehingga akhirnya mak pleg gathuk –sejalan dan serasi- ibarat “tumbu oleh tutup” (panci masak mendapatkan tutupnya).

“Kami sama-sama punya jalur frekuensi cara pikir yang sama. Ambisi baik untuk melestarikan seni pertunjukan budaya tradisi lokal: wayang kulit,” kata Elisha sedikit berfilsafat.

Persoalannya, bagaimana cara pikir yang sama ini kemudian bisa divisualisasikan.

Pendekatan “selera pasar” di kalangan kaum muda kekinian menjadi faktor penting yang mesti diolah. Dan akhirnya kedua pihak yang punya kepentingan sama ini pun sarujuk mathuk gathuk (seia sepakat dan cocok).

Esensi pesan utama tetap dipertahankan. Yang berubah hanyala cara dan media menyampaikan pesan utama itu.

“Sifatnya ya harus lebih entertaining,” jelas Elisha yang sudah aktif berkiprah nyinden sejak tahun 2011 sampai sekarang.

Lalu di mana lagi “terobososan” barunya?

Karena ini media pesan beriklan, maka durasi menjadi sangat penting. Nah, bagaimana dalam kisaran waktu 30 detik itu, pesan penting itu bisa nyampe dan click ke audiens kaum muda millennial.

Sekali lagi, di dalam seni pertunjukan, tampilan pesona estetika seni dan keindahan wajah itu sangat penting. Tentang hal ini, Sido Muncul kiranya sangat jeli. Karena berhasil menggaet Elisha.

Apalagi, kalau iklan “Tolak Linu” itu nantinya juga tak lupa dibubuhi senyum manis dari sang pesinden-nya: Mbak Elisha Ocarus Allaso.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here