Embun Hati, Supaya Dilihat Orang

0
111 views
Ilustrasi: Hidup semu, karena jungkir balik. (Ist)

DUA ribu tahun yang lalu sudah ada orang-orang yang melakukan sesuatu hanya supaya dilihat orang. Suatu tindakan yang berkonotasi negatif. Saat ini, 2000 tahun sesudahnya, tindakan tersebut bukan makin berkurang yang melakukannya. Sebaliknya, kini justru makin menjadi-jadi.

Bedanya, dulu orang malu-malu. Sekarang justru tak ada malu lagi. Sebab motivasi “supaya dilihat orang” tersebut kini justru difasilitasi. Itulah yang terjadi di dunia media sosial kita. Sebuah dunia maya, namun kini tElah jadi realita yang memang nyata adanya.

Supaya dilihat orang, orang sekarang dapat melakukannya dengan mudah lewat unggahan tulisan, foto maupun video. Untuk memenuhi keinginan supaya dilihat orang, kini bahkan sudah ada aplikasinya: Face beauty. Supaya dilihat orang, tampilan dapat diperbaiki supaya enak dilihat dan nyaman dipandang.

Pertanyaan kita sekarang adalah bagaimana kita memaknai “supaya dilihat orang” ini?

Jawabnya jelas: memaknai secara positif dengan menempatkannya dalam horiZon iman kita. Yakni dengan memgembalikan apa motivasi supaya dilihat orang tersebut ke tujuan pertama dan utamanya?

Sebab supaya dilihat orang itu dapat mengandung pelbagai tujuan atau motivasi, misalnya:

  1. Untuk mencari keuntungan diri. Pada taraf yang paling rendah hal ini bisa menjilma menjadi menipu atau mencelakai orang lain. Misalnya tentang tawaran pekerjaan, tawaran pinjaman, yang indah menawan dan amat menjanjikan. Tetapi di kemudian hari ternyata justru terbukti mencelakai kurbannya.
  2. Untuk show oFf” alias ingin pamer, sombong. bahkan muaranya dapat sampai merendahkan atau menghina orang lain. Banyak contohnya. Misalnya unggahan tentang kemewahan, harta dan kuasa yang dia punya. Tak berhenti di situ. Sebab ada yang mengunggahnya lengkap dengan arogansi penggunaan harta dan kuasanya untuk menghina orang lain.
  3. Untuk berbagi, baik berbagi pengetahuan, pengalaman, pemikiran, keprihatinan, kepedulian dlsb. Intinya adalah berbagi berkat Tuhan demi kebaikan sesama dan dunia. Misalnya tulisan, foto atu video tentang orang yang hidup dan kerjanya demi sesama atau demi kelestarian alam. Atau video tentang acara tayangan di TV.
  4. Untuk kemuliaan Tuhan. Artinya, yang mendasari tujuan “supaya dilihat orang” hanyalah demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan. Misalnya unggahan tentang mukjizat yang riil dialami: sembuh dari sakit, bebas dari beban kebencian, makna pengampunan dll. Isinya tentang karya kasih Tuhan yang nyata atas manusia.

Dengan demikian, makin jelas bahwa agar “supaya dilihat orang” itu bermakna membawa berkat bagi sesama dan dunia, maka arahnya harus keluar dari diri kita, keluarga/komunitas kita, suku, RAS kita.

“Keluar” itu artinya yang menerima benefit haruslah mereka di luar kita. Misalnya supaya orang memuji Tuhan bukan memuji diri kita. Supaya sesama makin dicinta. Supaya diri kita menjadi makin rendah hati, orang lain tobat hati, bukan sebaliknya justru kita jadi sombong hati.

Sayangnya, ukuran atau bahasa dunia mensyaratkan “supaya dilihat orang” justru untuk memupuk ego kita. Yakni agar kitalah yang dikenal, dikagumi. Pendeknya agar diri kita yang dipuji, bahkan disegani. Jangankan Tuhan, bahkan sesama insan pun tak ada tempat lagi.

Syukurlah Guru kita, Yesus Kristus telah memberi teladan yang meyakinkan. Yang Ia lakukan di hidup dan mati-Nya di salib, bukan supaya Ia dipuji, melainkan agar Tuhan Bapa dikenal dan dipuja.

Dan itu berbeda dan berlawanan dengan “Semua… yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang” demi dirinya sendiri.

Maka pertanyaan ini selalu bisa diajukan setiap kali kita mau posting sesuatu di medsos seperti WA, IG, FB, TT, Twitter, dll: Tujuan postinganku: Apakah biar Tuhan makin dipuja, atau biar diriku makin dipuji ? Demi memupuk kerendahan hatiku atau kesombonganku ?

YR Widadaprayitna
H 231104 AA
Mat 23: 1-12

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here