Eulogia untuk Filosof Romo Prof Dr. Michael Sastrapratedja SJ (2)

0
78 views
RIP Romo M. Sastrapratedja SJ (1943-2024)

ALMARHUM Romo Prof. Dr. Michael Sastrapratedja SJ adalah salah satu dari sedikit filosof Indonesia yang meminati tema “manusia”. Ia juga menghiasi pemaknaan signifikan bagi pendalaman maknanya di Indonesia.

Asosiasi para filosof Asia

Selesai studi di India dan doktoral di Universitas Gregoriana di Roma tahun 1979, Romo Sastra antara lain juga terlibat aktif dalam pembentukan Asosiasi Filosof-filosof Asia. Dilakukan bersama Pastor George McLean OMI (alm.) dari Catholic University, Washington D.C. dan Sutan Takdir Alisjahbana sebagaimana kemudian menjadi isi kesaksian Romo McLean OMI.

Menjawab tantangan zaman

Sebagai anak zaman, Romo Sastro menghirup suasana persaingan (perang) ideologis yang tidak hanya memproduksi Perang Dingin yang menegangkan secara eksistensial. Tetapi juga turut merobek aspek-aspek luhur martabat manusia.

Herbert Marcuse menulis kritik manusia zaman ideologis dalam “One dimensional man“. Manusia satu dimensi yang diproduksi ideologi, hegemoni kapitalisme juga komunisme. Bukan hanya dangkal, tetapi juga destruktif. Kardina Karol Woytila dari Krakow, Polandia, yang kemudian menjadi Paus tahun 1978 turut “membunuh” ideologi dan memecah fajar perdamaian di dunia.

Buku terbitan PT Granedia berjudul “Manusia Multi Dimensional”, buku warisan suntingan almarhum Romo Sastrapratedja SJ. (Ist)

Indonesia masuk dan menganeksi Timor Timur (1975), karena ideologi komunisme yang ditakuti dan dicemasi hebat. Perang ideologi yang menyisakan kegetiran di Vietnam dan Saigon akhirnya jatuh. Horor perang saudara karena tabrakan ideologis di Kamboja sangat menyesakkan. Demikian seterusnya.

Termasuk peristiwa-peristiwa zaman sejenisnya ikut turut “mengguyur” keprihatinan intelektual Romo Sastrapratedja muda. Untuk menaruh perhatian pada “universalitas” sekaligus “unisitas” dan kedalaman makna manusia dengan nilai-nilai keluhurannya, beyond ideologi apa pun.

Manusia Multi Dimensional jelas “menabrak” apa yang dikritik Marcuse, tetapi tidak hanya itu.

Benarlah meminati manusia “beyond” sekat sekat ideologi dan politik seperti yang ditampilkannya. Manusia tidak boleh direduksi hanya pada konsep apa pun di luar keluhurannya. Manusia tidak boleh bangga dan “memandegkan” kedalaman maknanya dan menceburkannya ke kolam kubangan keruh politik ideologi.

Sastrapratedja sempat “berhenti” sejenak memikirkan manusia, tatkala almarhum didapuk tugas harus menjadi rektor di satu-dua institusi pendidikan tinggi. Ia memeditasikan dan mengelola pendidikan nilai-nilai dalam praksis institusional dan personal.

Tahun 2014 terjadi “peristiwa” ketika program studi teologi berganti toga menjadi “filsafat keilahian”. Ini terjadi lantaran diberlakukannya UU nomor 12 tahun 2012.

Buku filsafat Gabriel Marcel produksi Penerbit Kanisius tahun 1994. (Mathias Hariyadi)

Pemikiran filsafat-teologis alternatif

Bulan Desember 2014 di hadapan para rektor dan ketua institusi teologi Katolik dan Kristen, Romo Sastra pun mengajukan filsafat-filsafat Gabriel Marcel, Emmanuel Levinas, Paul Ricoeur sebagai “alternatif” filosofis-teologis dalam program studi filsafat keilahian.

Ia mengusulkan teologi setinggi dan sedalam apa pun, baiklah hendaknya difondasikan pada konsep konsep filsafat Levinasian, Ricoerian, Gabriel Marcelian yang kokoh.

Saya pada waktu itu duduk di sebelah almarhum; bersama Prof. Thomas Suyatno dari Perbanas. Kami berdua mengamini dan mengagumi keprihatinan dan kepedulian yang konstan dari Prof. Sastrapratedja; terkait makna manusia dalam berteologi.

Teologi tidak boleh berhenti di “hapalan” ajaran yang benar, melainkan harus pula dikembangkan dalam fondasi keterlibatan terhadap perkara-perkara pengalaman jatuh bangun manusia sehari-hari.

Dan, profetisme-nya yang tak pernah pudar tentang manusia pun makin benar, tatkala manusia-manusia Indonesia mulai melupakan dan menafikkan apa itu “otentisitas”, “historisitas”, “akuntabilitas”. Lebih-lebih saat kejujuran dan nilai-nilai keluhuran martabat mengalami defisit di momen-momen redupnya etika kemanusiaan dalam tata politik Indonesia.

Pemikiran yang “terlibat” untuk mendalami manusia dari filosof Sastrapratedja jelas tetap relevan dan dirindukan. Hic et nunc. Sekarang dan di sini.

Sugeng tindak Romo Sastra sowan Gusti Yesus ing kalanggengan.

Berkah Dalem.
armada riyanto cm

Baca juga: RIP Romo Prof. Dr. Michael Sastrapratedja, Pernah Ketua STF Driyarkara, Rektor Unika Soegijapranata dan Sanata Dharma (1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here