Film “A Most Wanted Man”, Saling Jegal di Kalangan Agen Rahasia

0
59 views
Film “A Most Wanted Man”, Saling Jegal di Kalangan Agen Rahasia. (ist)

GÜNTHER Bachmann (almarhum Philip Seymour Hoffman), kepala agen rahasia Jerman bidang anti-terorisme, sebenarnya punya niat baik. Ia ingin “menyelamatkan” Issa Karpov (Grigoriy Dobrygin), pelarian dari Chechen di Rusia, dan kemudian ingin memanfaatkannya untuk bisa memata-matai gerakan radikalisme agama di Jerman.

Karena itu, begitu Issa datang secara illegal dari Turki dan masuk ke Jerman melalui Pelabuhan Hamburg, Günther selalu ingin menguntit keberadaannya. Upayanya untuk “menyelamatkan” Issa ini selalu dibantu oleh kolega dekatnya bernama Irna Frey (Nina Hoss).

CIA punya mau berbeda

Namun, di seberang sana, dinas rahasia Jerman lainnya dan CIA justru punya kepentingan berbeda. Mereka ingin segera bisa menangkap Issa Karpov. Mereka mencurigai Issa pernah terlibat kegiatan dan jaringan terorisme internasional. Kecurigaan kuat itu terjadi, karena ia punya ikatan sejarah dengan ayahnya –seorang penyandang dana kegiatan terorisme internasional.

Namun, Issa tak ingin hidupnya berdarah-darah. Ia justru ingin “bertobat” dan menetapkan Jerman sebagai negara di mana dia bisa memulai babak baru dalam hidupnya.

Karena itulah, Günther lalu berseberangan dengan Mohr dan Marta Sullivan (Robin Wright), keduanya dari dinas intelijen Kementerian Dalam Negeri Jerman dan CIA. Bagi kedua lembaga ini, Issa Karpov harus segera ditangkap agar jangan lagi ada aksi-aksi terror dari kelompok agama radikal di belahan bumi mana pun.

Simpul cerita

Film lawas A Most Wanted Man (2014) menyajikan simpul pertentangan antar lembaga intel itu melalui peran dua orang. Yakni, pengacara Annabel Richter (Rachel McAdams) dan kepala bank Tommy Brue (Willem Dafoe).

Yang pertama berkepentingan menyelamatkan Issa atas dasar kemanusiaan. Sedangkan, Brue berkepentingan bisa mengetahui sumber darimana deposit tabungan jutaan Euro peninggalan ayah Issa ini dulunya berasal dan untuk keperluan apa harus segera dicairkan.

Issa sendiri tak berminat “memiliki” uang warisan ayahnya yang jelas-jelas dia sebut “haram”. Karenanya, dia ingin menyumbangkan dana itu kepada lembaga-lembaga kemanusiaan melalui perantara bernama Dr. Abdullah.

Persis ketika transaksi dana jutaan Euro itu berhasil dilakukan oleh Dr. Abdullah di bawah “saksi” Annabel dan difasilitasi oleh Brue, maka gembiralah Günther karena usahanya telah berhasil. Menyelamatkan Issa dan menyalurkan dana itu kepada “yang berhak”.

Tapi justru di titik singgung inilah, anti-klimaknya terjadi. CIA dan dinas intelijen Kemendagri Jerman malah mengkhianatinya.

Film lawas ini diadaptasi dari novel berfokus pada kisah-kisah intelijen garapan John Le Carrée. Dan ini menjadi film terakhir yang berhasil diselesaikan oleh almarhum Hoffman sebelum dia akhirnya meninggal karena over dosis.

Menariknya film ini justru ketegangan tidak dibangun atas dasar tembak-menembak. Melainkan melalui dialog-dialog tajam dan juga perilaku “lusuh” Günther. Di mana-mana ia selalu merokok tanpa henti, minum alkohol, berpenampilan semrawut. Namun di balik semuanya itu, ia punya pemikiran jitu: menyelundupkan sosok mantan radikal ke dalam kelompok fundamentalis. Ini ibarat memancing hiu dengan umpan ikan tuna.

Tapi justru wawasannya inilah yang kemudian ditelingkung oleh CIA atas bantuan dinas intelijen Kemendagri Jerman yang berkepentingan mau “melenyapkan” Issa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here