Film “A Touch of Sin”, Batas Tipis antara Baik dan Buruk

0
123 views
Tak tahan melihat praktik korupsi di segala lapisan masyarakat, Dahai ngamuk membantai semua pelaku korupsi dalam film bagus "A Touch of Sin".

ARGUMENTASI moral selalu bermuara pada pertanyaan manakah yang baik dan buruk untuk diikuti atau jangan dilakukan. Namun, di situ ada batas tipis di antara kedua kategori itu.

Membunuh itu per se secara moral dianggap dosa. Secara hukum juga dianggap perbuatan kriminal. Ujung-ujungnya pelakunya harus diproses secara hukum. Berakhir di pengadilan dan vonis membawanya ke penjara.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kalau tindakan membunuh ini terjadi karena aksi “bela diri”? Bukankah manusia itu diciptakan punya rasio sehingga setiap ancaman harus dia hadapi. Hidup atau mati adalah pilihan hidupnya.

Konflik moralitas antara kategori “baik” dan “buruk” ini menghiasi film indah bertitel A Touch of Sin. Dibesut oleh sutradara Jia Zhangke tahun 2013, A Touch of Sin berhasil merebut penghargaan sebagai Best Screenplay di ajang Festival Film Cannes.

China di pedesaan dan kota besar

Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir ini telah berkembang menjadi negara modern. Derap pembangunan juga terjadi di kawasan pedesaan. Di situlah lalu terjadi kolusi dan korupsi yang melibatkan perangkat desa dan pemilik industri pertambangan.

Dahai (Wu Jang) tak tahan melihat praktik jahat itu. Dengan senapan angin, ia keliling desa membantai sadis semua “penjahat” moral itu.

Demikian pula, Zhou San (Baoqiang Wang). Tiga preman jalanan dia tembak tanpa ampun, saat dia berangkat mudik ingin mengunjungi ibu dan anak-isterinya. Pun pula, demi keluarganya, dia tega menembak telak pasangan suami-isteri guna merampok.

Xia Yu ( Tao Zhao) pun sama. Demi harga dirinya yang tak mau disebut pelacur —sementara pekerjaan resminya adalah resepsionis di sebuah karaoke—dia membantai kedua pria hidup belang. Yang ingin merayunya dan –karena Xia Yu tegas menolak— lalu pria hidung belan itu tega menghajarnya dengan segepok uang.

Lagi-lagi, persoalan moral mengemuka. Salah atau benar? Demikian pula yang terjadi pada sepasang orang muda yang diam-diam menaruh hati, namun kemudian harus berpisah karena si pemudi sudah punya anak.

Film “A Touch of Sin”

A Touch of Sin adalah film dengan lanskap peristiwa sehari-hari yang terjad di dunia industri. Di mana pekerja hanya boleh bekerja dan bekerja. Iseng-iseng ngomong sembari bekerja sehingga tangan bisa teriris pisau potong adalah risiko kerja. Salahmu sendiri. Begitulah kira-kira.

Juga, menjalin cinta di luar perkawinan adalah hal yang seyogyanya tidak terjadi. Salah-salah kena gampar isteri sang pria idaman lain yang marah karena suaminya direbut daripadanya.

Sebagai film drama kemanusiaan, A Touch of Sin sangat subtil menyuguhkan tema moralistik di atas. Tanpa perlu banyak gembar-gembor layaknya film-film Hollywood.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here