Film “Our Last Men in the Philippines”, Gereja sebagai Benteng Terakhir

0
138 views
Film Our Last M en in the Philippines by ist

DULU, kolonialisme dan ekspedisi pelayaran sering dimotivasi oleh tiga elemen penting yang biasa disebut “3G”. Yakni, for the glory, gold, and gospel.

  • Glory berarti memperluas kasanah kolonialisme imperium negeri darimana para penjelajah itu berasal. Dari kawasan Eropa, mereka datang dari Spanyol, Portugal, Inggris, Italia, Belanda, dan Belgia.
  • Gold berarti ekspedisi mencari kemakmuran baru. Dalam  hal ini emas, rempah-rempah, dan hasil bumi lainnya yang tidak ada di bumi Eropa.
  • Gospel berarti berlayar sembari memberitakan Injil kepada penduduk setempat.

Film ini aslinya berjudul Los últimos de Filipinas, produksi tahun 2016. Dilepas di pasar internasional lalu mengambil judul baru sebagai Our Last Men in the Philippines.

Film bercorak drama perang ini membawa semangat tiga “G” itu. Namun, di lapangan yang mereka temukan berbeda.

Kerajaan Spanyol telah “menjual” Filipina kepada Amerika. Dan nasib para serdadu menjadi tidak jelas. Apalagi, tugas mempertahanan bangunan sebuah gereja sebagai benteng pertahanan terakhir ini semakin kehilangan legitimasinya.

Perang tak berujung kemenangan tapi kekalahan.

Perang sia-sia

Kekejaman perang melanda mereka. Anak buah terpaksa dieksekusi karena mencoba lari. Dua serdadu disertir ditembak mati, saat mereka tertidur lelap di dalam kerangkeng. Satu lagi, Costa, terpaksa kehilangan lengannya saat berkelahi dengan komandan bengis bernama Sersan Jimeno Costa,

Film ini menjadi menarik, justru karena diolah berdasarkan kisah nyata saat terjadi pengepungan oleh pasukan pro kemerdekaan Filpina di Baler, Aurora. Kisah ini dikenal sebagai Revolusi Filipina di bulan Oktober 1897 oleh para pejuang Tagalog dengan serangan “Katipunan” mereka.

Tentu saja sebagai film, di sana-ini terjadi “olah rasa” sehingga efek dramatis bisa dikerek sesuai selera sutradara pembesut film ini.

Pasukan Spanyol tidak mau menyerah kalah meski telah diperintahkan oleh perwira tentara Spanyol berpangka Kolonel.

Salah satunya adalah sosok Bruder Fransiskan bernama Carmelo yang diam-diam suka mengisap narkoba sebagai salah satu upaya melenyapkan rasa sakit dan stres.

Kisah nyata pengepungan benteng di sebuah bangunan gereja ini berlangsung selama 337 hari. Dengan jumlah korban sebanyak 17 tentara Spanyol dan 700 pejuang kemerdekaan Filipina.

Kalahnya Spanyol dalam perang melawan Amerika di sejumlah wilayah kolonial mereka di Asia (Filipina) dan Amerika Latin di awal abad ke-20 ini juga berakhir tragis di Madrid.

Otoritas Kerajaan Spanyol mulai beringsut terkikis habis. Kini, mereka hanya simbol saja. Yang berkuasa secara politik dan militer adalah kaum sipil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here