Film “The Last Woman Standing”, Problem Eksistensial Perempuan Urban Karir

0
81 views
Film "The Last Woman Standing" tentang krisis eksistensial perempuan urban karir by Ist

TERSEBUTLAH seorang perempuan cantik, ramping, dan selalu klimis. Ia bernama Sheng Ruxi (Shu Qi). Ia sosok perempuan karir. Sangat menikmati kerja. Lalu, lupa kawin.

Dua persoalan ksistensial selalu mengganggunya. Pikirnya, tak ada orang suka meliriknya. Itu persepsinya.

Padahal, kata ibunya (Pan Hong), ada dokter bernama Bai (Xing Jiadong) di sebuah rumah sakit diam-diam naksir kepadanya.

Hanya saja persoalannya klasik. Bai itu jauh lebih tua. Karena itu, Sheng tak terlalu responsif menanggapi uluran cintanya.

Persoalan ini memancing konflik batin dengan ibunya. Dan untuk seorang gadis Tionghoa, “dikutuk” orangtua sebagai anak “tidak tahu diri” itu sungguh merupakan siksaan berat.

Tak dinyana-nyana, masuklah Ma Sai (Eddie Peng) dalam keseharian Sheng. Ya di kantor, ya di ranah hidup pribadinya.

Shu Qi sebagai perempuan urban karir yang gamang oleh persoalan nikah.

Di kantor, Ma menjadi asistennya. Di luar itu, Ma diam-diam menaruh hati pada atasannya. Namun, sekat perbedaan umur menjadi penghalangnya.

Bagi Sheng, “keharusan” nikah kali ini menjadi kecemasan yang amat menakutkan. Ia tak tertarik mencintai dokter Bai.

Namun juga dipenuhi keraguan, ketika Ma diam-diam menaruh hati padanya. Belum lagi, keharusan nanti harus merawat kedua orangtuanya yang mulai beranjak sepuh.

Persoalan perempuan karir

Film Tiongkok berjudul The Last Woman Standing (2015) ini bagus. Justru karena bisa “mewakili” persoalan eksistensial kaum hawa di dunia modern saat ini. Terutama mereka yang berkarir di kawasan urban metropolitan.

Mereka ini senang bekerja. Lalu sampai “lupa diri”. Umurnya sudah semakin mendekati ”usia kritis” untuk memutuskan. Mau terus hidup lajang atau meretas ikatan perkawinan.

Dan Sheng mengalami dilema hidup seperti ini.

Kota Shanghai dengan The Bund yang indah di malam hari menjadi saksi problem eksistensial yang melanda Sheng. Hingga akhirnya, Sheng membuka tangan dan hatinya untuk Ma Sai, pemuda jauh di bawah umurnya. Untuk boleh dicintai dan mencintai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here